Robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics berjalan di area pameran teknologi.

Hyundai Akuisisi Penuh Boston Dynamics, Percepat Produksi Robot Atlas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Hyundai bersiap membeli sisa 9,9% saham Boston Dynamics dari Softbank senilai $325 juta
  • Akuisisi ini memberikan Hyundai kepemilikan penuh atas Boston Dynamics
  • Hyundai akan membangun rantai AI robotik end-to-end dengan fokus pada robot Atlas
  • Target produksi Atlas di pabrik Georgia dimulai tahun 2028 dengan kapasitas 30.000 unit per tahun
  • Atlas akan digunakan untuk tugas logistik dan pengelasan, kemudian manufaktur kompleks pada 2030
  • Hyundai menggandeng NVIDIA dan Google DeepMind sebagai mitra pengembangan

Telset.id – Hyundai bersiap mengambil alih penuh Boston Dynamics dari Softbank. Langkah ini menjadi sinyal kuat ambisi Hyundai untuk mempercepat komersialisasi robot humanoid Atlas dan membangun rantai pasok AI fisik yang terintegrasi.

Raksasa otomotif Korea Selatan itu dikabarkan akan membeli sisa saham Boston Dynamics yang masih dipegang Softbank. Menurut laporan Bloomberg, Hyundai saat ini sedang meninjau hak dan kewajiban kontraktualnya sebelum membeli 9,9 persen saham yang tersisa dengan nilai sekitar $325 juta. Jika kesepakatan ini terealisasi, Hyundai akan memiliki kepemilikan penuh atas perusahaan robotik asal Amerika Serikat tersebut.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari akuisisi sebelumnya. Pada tahun 2020, Hyundai membeli 80 persen saham Boston Dynamics, sementara Softbank mempertahankan 20 persen. Kini, dengan rencana pembelian sisa saham tersebut, Hyundai menunjukkan komitmennya untuk menguasai sepenuhnya teknologi robotika canggih.

Bloomberg mencatat bahwa akuisisi ini bisa menjadi keuntungan besar bagi Hyundai di tengah pergeseran industri menuju pengembangan produk AI fisik. Dengan kendali penuh atas Boston Dynamics, Hyundai berniat membangun rantai AI robotik yang lengkap dari ujung ke ujung.

“Melalui pendekatan terintegrasi ini, grup ini bertujuan untuk mempercepat pengembangan, validasi, dan komersialisasi teknologi AI Fisik dan solusi robotika,” kata Hyundai kepada Bloomberg dalam sebuah pernyataan resmi.

Pusat dari rencana besar Hyundai adalah robot humanoid Atlas milik Boston Dynamics. Robot ini telah melalui berbagai tahap pengujian selama bertahun-tahun. Pada CES awal tahun ini, Boston Dynamics menampilkan versi siap produksi dari Atlas setelah sekian lama diuji coba.

Baru-baru ini, Atlas juga menarik perhatian saat tampil di Piala Dunia FIFA. Robot tersebut berjalan di terowongan pemain dan menyerahkan bola pertandingan kepada wasit. Momen ini menunjukkan kesiapan Atlas untuk berinteraksi di lingkungan publik.

Hyundai tidak bekerja sendirian dalam pengembangan Atlas. Perusahaan menggandeng NVIDIA dan Google DeepMind sebagai mitra. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat inovasi dan kemampuan robot humanoid tersebut.

Target produksi massal Atlas sudah ditetapkan. Hyundai berencana memulai produksi robot Atlas di pabriknya yang berlokasi di Georgia pada tahun 2028. Kapasitas produksi yang diincar cukup ambisius, yaitu sebanyak 30.000 unit robot humanoid setiap tahunnya.

Pada tahap awal, robot Atlas akan menjalankan tugas-tugas sederhana seperti logistik dan pengelasan. Namun, Boston Dynamics memiliki visi yang lebih jauh. Mereka memperkirakan Atlas akan digunakan untuk proses manufaktur yang lebih kompleks dan perakitan komponen pada tahun 2030.

Langkah Hyundai mengakuisisi penuh Boston Dynamics menunjukkan pergeseran strategi perusahaan. Jika sebelumnya Hyundai dikenal sebagai produsen mobil, kini mereka mulai serius merambah bisnis robotika dan AI. Investasi besar-besaran di bidang ini menandakan bahwa Hyundai melihat potensi besar di luar industri otomotif tradisional.

Keputusan Softbank melepas sisa sahamnya juga menarik untuk dicermati. Softbank yang sebelumnya dikenal agresif berinvestasi di perusahaan teknologi, tampaknya mulai mengurangi kepemilikan di Boston Dynamics. Nilai transaksi $325 juta untuk 9,9 persen saham memberikan valuasi sekitar $3,28 miliar untuk Boston Dynamics secara keseluruhan.

Bagi industri robotika global, akuisisi penuh ini bisa menjadi katalis penting. Dengan sumber daya Hyundai yang besar, pengembangan Atlas berpotensi berjalan lebih cepat. Kompetisi di pasar robot humanoid diprediksi akan semakin ketat ke depannya.

Penggunaan robot Atlas di Piala Dunia FIFA menjadi bukti bahwa teknologi ini sudah cukup matang untuk dipamerkan ke publik. Meskipun masih dalam tahap awal, kehadiran Atlas di acara olahraga bergengsi menunjukkan potensi robot humanoid dalam berbagai sektor.

Hyundai juga telah menunjukkan keseriusannya di sektor kendaraan listrik. Beberapa waktu lalu, penjualan IONIQ 5 dan IONIQ 9 mencatat lonjakan signifikan. Kini, dengan fokus pada robotika, Hyundai ingin mendiversifikasi bisnisnya.

Target produksi 30.000 unit robot per tahun bukanlah angka yang kecil. Jika tercapai, ini akan menjadi salah satu produksi robot humanoid terbesar di dunia. Pabrik Hyundai di Georgia yang selama ini memproduksi kendaraan listrik, akan bertransformasi menjadi pusat produksi robot.

Dengan akuisisi penuh ini, Hyundai memiliki kendali mutlak atas masa depan Boston Dynamics. Tidak ada lagi campur tangan pihak lain dalam pengambilan keputusan strategis. Ini memberikan fleksibilitas lebih bagi Hyundai untuk mengintegrasikan teknologi robotika ke dalam ekosistem bisnisnya.

Perkembangan ini patut dicermati oleh para pengamat industri teknologi. Langkah Hyundai menunjukkan bahwa batas antara industri otomotif dan robotika semakin kabur. Perusahaan mobil kini tidak hanya memproduksi kendaraan, tetapi juga robot yang bisa bekerja di pabrik mereka sendiri.

Robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics berjalan di sebuah area industri.

Ke depannya, kita akan melihat bagaimana Hyundai mewujudkan ambisinya. Mulai dari produksi Atlas di Georgia hingga penggunaannya di berbagai sektor industri. Yang jelas, langkah ini menempatkan Hyundai sebagai salah satu pemain utama di era robotika dan AI fisik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.