Telset.id – Merek alat berat asal Swedia, HUDDIG, memberikan pembaruan besar pada platform wheel loader hybrid 1370 untuk model year terbaru. Kapasitas baterai dinaikkan dari 44 kWh menjadi 61 kWh, atau setara peningkatan 40 persen. Langkah ini menegaskan posisi HUDDIG 1370 TIGON G2 sebagai mesin hybrid yang mengandalkan tenaga listrik untuk sebagian besar operasionalnya, bukan sekadar konsep.
Peningkatan ini bukan tanpa dasar. HUDDIG menyebut pihaknya telah memiliki armada generasi pertama yang sudah beroperasi secara nyata di lapangan. Sebanyak 41 unit mesin generasi pertama tercatat telah beroperasi secara kolektif selama 96.306 jam dan menghemat estimasi 140.439 galon diesel sebelum peluncuran mesin generasi kedua.
“Dengan 100.000 jam operasi aktual, kami memiliki fondasi yang sangat solid untuk kerja pengembangan kami,” ujar Daniel Åkerström, design engineer di Huddig. “Baterai yang lebih besar memungkinkan untuk berjalan dengan tenaga listrik lebih sering lagi, dan kami karena itu berharap dapat meningkatkan angka-angka ini lebih jauh lagi dengan TIGON G2 HUDDIG.”

HUDDIG 1370 TIGON sendiri dikenal sebagai mesin yang fleksibel. Selain mampu melakukan semua pekerjaan yang bisa dilakukan wheel loader konvensional, mesin ini dapat dilengkapi dengan loader-mounted crane (LCC), bucket lift dengan keranjang berinsulasi, bahkan dioperasikan melalui remote control. Namun, aplikasi utama mesin ini adalah baterai traksi berkapasitas tinggi yang memungkinkan loader beroperasi sebagai mesin sepenuhnya elektrik.
Regenerative Braking dan Dampaknya pada Konsumsi Bahan Bakar
Pada generasi kedua, HUDDIG tidak hanya memperbesar baterai. Perusahaan juga menambahkan regenerative braking, yang memungkinkan operator memulihkan energi listrik saat pengereman, berkendara menurun, atau bahkan saat menurunkan boom. Fitur ini menjadi pelengkap penting dari kapasitas baterai yang lebih besar.
Menariknya, HUDDIG menyatakan bahwa G2 tidak sekadar menghabiskan waktu 40 persen lebih lama untuk berjalan dengan tenaga listrik. Pemangkasan konsumsi bahan bakar justru jauh lebih besar, terutama karena G1 saja sudah berjalan dengan tenaga listrik murni hampir 60 persen dari waktu operasionalnya.
“Kombinasi runtime listrik yang diperpanjang dan opsi attachment yang lebih banyak membuat Tigon G2 semakin serbaguna dan memberikan kebebasan lebih besar untuk menyesuaikan mesin dengan pekerjaan yang dihadapi,” kata Daniel Myrgren, marketing and sales manager di HUDDIG. “Powertrain listrik juga dapat memberikan keunggulan kompetitif yang jelas pada pekerjaan di mana emisi rendah dan tingkat kebisingan rendah menjadi semakin penting.”
Baca Juga:
Pembaruan ini menempatkan HUDDIG 1370 TIGON G2 dalam konteks yang lebih luas: adopsi teknologi elektrifikasi pada alat berat yang menuntut keandalan tinggi. Data operasional armada generasi pertama menjadi bukti bahwa pendekatan hybrid dengan baterai besar bukan sekadar klaim pemasaran. Angka 96.306 jam operasi dan penghematan 140.439 galon diesel adalah dasar kuantitatif yang jarang dimiliki produsen alat berat lain.
HUDDIG juga menyediakan video walk-around resmi untuk mesin ini, yang bisa disaksikan langsung oleh mereka yang ingin memahami detail platform TIGON G2. Bagi pasar yang mulai menuntut standar emisi dan kebisingan lebih ketat, kombinasi runtime listrik yang lebih panjang serta opsi attachment yang lebih luas menjadi nilai jual tersendiri.
Dengan kapasitas baterai 61 kWh dan regenerative braking, HUDDIG 1370 TIGON G2 memosisikan diri sebagai mesin hybrid yang benar-benar memanfaatkan tenaga listrik sebagai sumber daya utama, bukan pelengkap. Bagi operator yang bekerja di lingkungan dengan batasan emisi dan kebisingan, kemampuan ini bisa menjadi pertimbangan teknis yang serius.
Sumber dan gambar: HUDDIG.





Komentar
Belum ada komentar.