Pernahkah Anda sedang asyik mengemudi di jalan raya yang tampak mulus, lalu tiba-tiba dikejutkan oleh hantaman keras pada suspensi mobil akibat lubang jalan yang tak terlihat? Situasi ini bukan hanya merusak kenyamanan berkendara, tetapi juga menjadi mimpi buruk bagi kondisi kendaraan dan keselamatan penumpang. Masalah infrastruktur jalan, mulai dari lubang menganga hingga rambu lalu lintas yang tertutup pepohonan, seringkali luput dari pengawasan hingga kecelakaan terjadi atau laporan masuk secara manual.
Namun, sebuah terobosan signifikan kini tengah dikembangkan untuk mengubah cara kita memandang keselamatan jalan raya. Honda, raksasa otomotif asal Jepang, tidak lagi hanya berfokus pada bagaimana mobil melindungi penumpangnya saat terjadi benturan, tetapi bagaimana mobil itu sendiri bisa mencegah masalah infrastruktur sebelum menjadi bahaya laten. Bekerja sama dengan DriveOhio, sebuah inisiatif mobilitas pintar pemerintah, Honda telah mengembangkan sistem canggih yang mengubah kendaraan biasa menjadi “inspektur jalanan” yang bekerja secara real-time.
Inisiatif ini bukanlah sekadar wacana futuristik, melainkan sebuah program nyata yang telah berjalan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dengan memanfaatkan armada kendaraan yang dilengkapi sensor khusus, Honda berupaya mengumpulkan data krusial mengenai defisiensi jalan raya. Bayangkan sebuah ekosistem di mana mobil Anda bisa “berbicara” dengan dinas pekerjaan umum, memberitahu mereka lokasi tepat di mana aspal mulai terkelupas atau pagar pembatas jalan rusak, bahkan sebelum manusia menyadarinya. Inilah era baru pemeliharaan jalan yang proaktif.
Mata Digital yang Tak Pernah Berkedip
Inti dari inovasi ini adalah apa yang disebut Honda sebagai Proactive Roadway Maintenance System. Sistem ini, yang telah memasuki tahap prototyping sejak tahun 2021, bukanlah sekadar kamera dasbor biasa. Honda menyematkan teknologi visi canggih (advanced vision) dan sensor LiDAR pada kendaraannya. Penggunaan LiDAR—teknologi yang menggunakan cahaya laser untuk mengukur jarak—memungkinkan kendaraan untuk memetakan kontur jalan dengan presisi tinggi yang sulit ditandingi oleh mata manusia, terutama dalam kondisi pencahayaan minim.
Sensor-sensor ini bekerja tanpa lelah untuk mengidentifikasi berbagai masalah infrastruktur. Mulai dari rambu jalan yang sudah usang atau tertutup vegetasi, pagar pembatas (guardrails) yang penyok akibat tabrakan sebelumnya, hingga kondisi permukaan jalan yang kasar dan lubang-lubang yang baru terbentuk. Kemampuan untuk mendeteksi masalah sejak dini ini sangat krusial. Dalam dunia manajemen infrastruktur, memperbaiki keretakan kecil jauh lebih murah dan mudah dibandingkan menambal lubang besar yang sudah memakan korban.
Data yang dikumpulkan oleh sensor-sensor ini tidak dibiarkan menumpuk begitu saja di dalam mobil. Di sinilah kecerdasan buatan (AI) mengambil peran. Data mentah diproses oleh model Edge AI secara langsung di kendaraan sebelum diteruskan ke platform cloud milik Honda. Pendekatan ini memastikan bahwa hanya informasi relevan yang dikirimkan, mempercepat proses analisis. Mirip dengan bagaimana perusahaan teknologi menggunakan alat canggih untuk Pantau Jaringan telekomunikasi, Honda menggunakan sensor ini untuk memantau “kesehatan” fisik jalan raya.
Uji Coba Ekstensif di Jalur Nyata
Untuk membuktikan efektivitas teknologi ini, Honda tidak bermain aman di laboratorium tertutup. Mereka membawa teknologi ini ke jalanan nyata melalui kolaborasi dengan Departemen Transportasi Ohio (ODOT). Dalam program percontohan ini, anggota hub mobilitas pintar ODOT mengemudikan kendaraan uji coba sejauh kurang lebih 3.000 mil (sekitar 4.800 kilometer). Jarak tempuh ini bukanlah angka yang kecil untuk sebuah pengujian sistem prototipe, mencakup berbagai jenis medan di wilayah Ohio tengah dan tenggara.
Pengujian dilakukan dengan metodologi yang ketat. Kendaraan tidak hanya melaju di jalan tol yang mulus, tetapi juga menyusuri campuran lingkungan perkotaan yang padat dan area pedesaan yang seringkali memiliki kondisi jalan yang lebih menantang. Selain itu, pengujian dilakukan dalam berbagai kondisi cuaca dan waktu yang berbeda—siang dan malam. Hal ini penting untuk memastikan bahwa sensor LiDAR dan visi komputer tetap akurat meskipun hujan turun atau cahaya matahari menyilaukan.
Peran akademisi juga tidak bisa diabaikan dalam proyek ini. Universitas Cincinnati turut ambil bagian dengan membantu Honda memasang sensor pada kendaraan serta memimpin pengembangan fitur deteksi kerusakan. Kolaborasi antara industri otomotif, pemerintah, dan akademisi ini menciptakan sinergi yang kuat dalam memvalidasi teknologi tersebut. Selama pilot project berlangsung, operator ODOT dapat meninjau setiap kekurangan jalan atau infrastruktur yang ditandai oleh sistem secara real-time. Mereka menggunakan dasbor pintar yang dikembangkan khusus oleh Honda bersama perusahaan teknologi Parsons, memungkinkan respons cepat terhadap masalah yang ditemukan.
Baca Juga:
Akurasi Tinggi dan Efisiensi Anggaran
Salah satu pertanyaan terbesar dalam setiap penerapan teknologi baru adalah seberapa akurat sistem tersebut bekerja? Hasil dari pilot project Honda ini ternyata sangat mengesankan. Proactive Roadway Maintenance System menunjukkan performa yang solid di berbagai metrik penilaian. Untuk deteksi rambu lalu lintas yang rusak atau terhalang, sistem ini mencapai tingkat akurasi hingga 99 persen. Angka yang hampir sempurna ini menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan keselamatan navigasi pengemudi.
Sementara itu, akurasi untuk mendeteksi pagar pembatas yang rusak berada di angka 93 persen. Untuk deteksi lubang jalan (potholes), akurasinya sedikit lebih rendah, yakni 89 persen. Meskipun belum mencapai 100 persen, angka ini sudah sangat tinggi mengingat sulitnya membedakan lubang jalan dengan bayangan atau genangan air secara visual. Seperti halnya perangkat lunak yang membutuhkan Fitur Perbaikan berkelanjutan, algoritma ini tentu akan semakin cerdas seiring bertambahnya data yang dipelajari.
Keunggulan lain yang dicatat Honda adalah kemampuan sistem untuk mendeteksi penurunan bahu jalan (shoulder drop-offs) yang parah. Kondisi ini seringkali terlewatkan dalam inspeksi visual rutin oleh manusia, namun sangat berbahaya jika roda kendaraan keluar dari jalur aspal. Selain itu, sistem juga terbukti andal dalam mengukur tingkat kekasaran jalan. Data yang presisi ini memungkinkan sistem untuk secara otomatis membuat perintah kerja (work orders) bagi tim pemeliharaan ODOT berdasarkan skala prioritas.
Dampak ekonominya pun tidak main-main. Tim yang bekerja pada proyek ini memperkirakan bahwa jika sistem otomatis ini diterapkan dalam skala yang lebih besar, ODOT dapat menghemat lebih dari USD 4,5 juta per tahun. Penghematan ini berasal dari efisiensi proses inspeksi yang tidak lagi memerlukan pengerahan tenaga manusia secara masif untuk sekadar berpatroli mencari kerusakan, serta pencegahan kerusakan jalan yang lebih parah melalui penanganan dini.
Masa Depan: Partisipasi Pengemudi dalam Keselamatan
Keberhasilan pilot project ini hanyalah permulaan. Honda dan para mitranya kini tengah menjajaki cara untuk meningkatkan skala prototipe Proactive Roadway Maintenance System agar dapat digunakan di dunia nyata secara luas. Tujuannya bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan integrasi penuh ke dalam sistem manajemen lalu lintas.
Visi jangka panjang Honda bahkan lebih ambisius. Pabrikan otomotif ini berencana untuk menyematkan teknologi serupa ke dalam kendaraan produksi massal milik pelanggan mereka di masa depan. Bayangkan jika mobil yang Anda beli nanti sudah dilengkapi fitur ini secara bawaan. Anda tidak hanya membeli alat transportasi, tetapi juga berkontribusi pada komunitas.
Dalam skenario tersebut, pelanggan akan dapat membagikan data deteksi jalan mereka sendiri secara anonim. Konsep ini mirip dengan crowdsourcing data lalu lintas, namun dengan sensor yang jauh lebih canggih daripada sekadar GPS di ponsel. Dengan ribuan atau bahkan jutaan mobil yang terus-menerus memindai jalan, peta kondisi infrastruktur akan menjadi sangat akurat dan real-time. Hal ini akan membantu menciptakan jalan yang lebih aman bagi semua orang, karena perbaikan dapat dilakukan jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Tentu saja, privasi tetap menjadi prioritas dengan memastikan data dibagikan secara anonim. Ini adalah langkah maju yang signifikan menuju era smart city, di mana kendaraan dan infrastruktur saling terhubung demi keselamatan bersama. Honda membuktikan bahwa teknologi otomotif masa depan tidak hanya soal kecepatan atau efisiensi bahan bakar, tetapi juga tentang bagaimana sebuah mobil bisa merawat jalan yang dilaluinya.
Di era digital ini, kemampuan untuk Lacak Lokasi kerusakan secara presisi adalah kunci efisiensi. Dengan sistem yang dikembangkan Honda dan DriveOhio, masa depan jalan raya yang bebas lubang dan rambu rusak tampaknya bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sebuah rencana konkret yang sedang menuju realisasi.

