Telset.id – Startup baterai asal Massachusetts, Factorial Energy, resmi menjalin nota kesepahaman dengan raksasa baterai asal Korea Selatan, SK On, untuk mengeksplorasi produksi massal baterai solid-state menggunakan jalur manufaktur lithium-ion yang sudah ada. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya menghadirkan baterai solid-state ke pasar kendaraan listrik secara komersial.
Factorial Energy sendiri merupakan salah satu pelopor dalam perlombaan komersialisasi baterai solid-state. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini telah menjalin kerja sama dengan tiga raksasa otomotif global: Mercedes-Benz, Stellantis, dan Hyundai untuk menguji sel baterai mereka dalam prototipe kendaraan listrik di dunia nyata.
Kolaborasi Strategis dengan SK On
Kunci dari kemitraan ini terletak pada kemampuan SK On untuk mengevaluasi apakah pabrik baterai eksistingnya dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai solid-state Factorial secara massal. SK On saat ini memiliki kapasitas produksi baterai tahunan sekitar 200 gigawatt-jam (GWh) di seluruh dunia, dengan sekitar 100 GWh terpasang di Amerika Serikat.
“Terobosan baterai hanya berarti jika bisa diproduksi secara massal,” ujar Siyu Huang, CEO Factorial dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan bahwa jejak manufaktur SK On mencakup beberapa fasilitas baterai paling canggih di dunia, dan keahlian mereka akan sangat penting dalam membentuk bagaimana teknologi baterai solid-state terintegrasi ke dalam ekosistem produksi global.
SK On sendiri sudah menjadi pemasok baterai untuk berbagai merek mobil besar seperti Hyundai, Kia, Ford, Volkswagen, dan Ferrari. Namun, perusahaan ini sempat mengurangi operasinya di Amerika Serikat setelah pemerintahan Trump menghapus insentif kendaraan listrik federal tahun lalu, yang menyebabkan permintaan EV turun drastis. Bahkan, SK On dan Ford mengakhiri usaha patungan mereka untuk beralih fokus ke pasar penyimpanan energi stasioner yang berkembang pesat.
Baca Juga:
Pengujian di Dunia Nyata
Factorial tidak hanya berhenti di atas kertas. Baterai semi-solid-state buatan mereka sudah diuji dalam prototipe kendaraan listrik di jalan raya. Hasilnya cukup mencengangkan. Awal tahun ini, Mercedes-Benz mengumumkan bahwa prototipe EQS yang dilengkapi baterai semi-solid-state Factorial berhasil menempuh jarak 749 mil (sekitar 1.205 km) dalam sekali pengisian daya, dengan perkiraan sisa jarak tempuh 84 mil (135 km) saat tiba di tujuan.
Sementara itu, Stellantis juga telah memasang baterai Factorial dalam prototipe Dodge Charger Daytona sebagai bagian dari program pengujian di jalan raya. Ini membuktikan bahwa teknologi baterai solid-state bukan lagi sekadar konsep laboratorium, melainkan sudah memasuki tahap pengujian nyata.
Tantangan Produksi Massal
Meskipun baterai solid-state menjanjikan kepadatan energi yang jauh lebih tinggi, pengisian daya yang lebih cepat, dan keamanan yang lebih baik dengan mengganti elektrolit cair yang mudah terbakar dengan material padat, teknologi ini terbukti sangat sulit diproduksi secara massal tanpa cacat. Di sinilah peran SK On menjadi krusial.
Perusahaan Korea Selatan itu akan mengevaluasi apakah jejak manufaktur baterai globalnya yang luas dapat membantu meningkatkan skala teknologi solid-state Factorial untuk produksi massal. Namun, perlu dicatat bahwa nota kesepahaman ini bersifat non-binding, artinya kedua perusahaan bisa mundur jika kolaborasi ini gagal menghasilkan terobosan manufaktur yang berarti.
Factorial sebelumnya juga telah menandatangani perjanjian serupa dengan LG Chem, serta pemasok material baterai Korea Selatan lainnya seperti Philenergy dan Posco Future M. Hal ini menunjukkan keseriusan Factorial dalam mencari mitra produksi yang tepat.
Implikasi bagi Industri EV Global
Jika kolaborasi Factorial dan SK On berhasil, ini bisa menjadi titik balik bagi industri baterai solid-state. Kemampuan memproduksi baterai solid-state di jalur produksi lithium-ion yang sudah ada akan secara dramatis mengurangi biaya investasi dan mempercepat adopsi teknologi ini.
Namun, tantangan tetap ada. SK On sendiri tengah menghadapi tekanan setelah kebijakan insentif EV federal di AS dicabut. Meski demikian, kapasitas produksi 100 GWh di AS tetap menjadi aset berharga yang bisa dimanfaatkan Factorial untuk memasuki pasar Amerika Utara.
Dengan kapasitas 200 GWh secara global, SK On memiliki skala yang dibutuhkan untuk membuat baterai solid-state Factorial menjadi kenyataan komersial. Pertanyaannya sekarang: apakah teknologi Factorial sudah cukup matang untuk diproduksi massal tanpa cacat? Jawabannya akan menentukan masa depan tidak hanya kedua perusahaan, tetapi juga seluruh industri kendaraan listrik global.





Komentar
Belum ada komentar.