Ilustrasi kapal kargo BYD mengangkut kendaraan listrik China untuk ekspor ke Asia Tenggara

Ekspor EV China Tembus Rekor $9,2 Miliar, ASEAN Jadi Mesin Utama

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Ekspor EV China capai rekor $9,2 miliar pada Mei 2026, naik 49% year over year
  • ASEAN catat rekor impor $1,2 miliar, dengan Thailand (36.000 unit) dan Filipina (33.000 unit) sebagai pasar terbesar
  • Kamboja potong bea masuk BEV jadi nol, PHEV dari 35% jadi 7%
  • Laos larang impor mobil ICE sementara hingga akhir 2026, wajibkan 10% armada transportasi berupa EV
  • Krisis energi Timur Tengah percepat adopsi EV di Asia Tenggara
  • China semakin dominan di manufaktur EV global dengan skala produksi masif
  • PHEV mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan meski BEV masih dominan

Telset.id – China mencatat rekor baru ekspor kendaraan listrik (EV) senilai $9,2 miliar pada Mei 2026, naik 49% dibanding tahun lalu. Kawasan ASEAN menjadi pendorong utama dengan rekor impor $1,2 miliar, menandai pergeseran signifikan dalam peta persaingan EV global.

Data terbaru dari lembaga riset energi Ember mengungkapkan bahwa China mengekspor sekitar 448.000 unit kendaraan listrik penumpang pada Mei 2026. Rinciannya, sebanyak 279.000 unit merupakan Battery Electric Vehicle (BEV) dan 169.000 unit Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Angka ini melonjak drastis dari tahun 2020 ketika ekspor EV China masih di bawah $1 miliar per bulan.

Pencapaian ini menjadi bukti dominasi China dalam manufaktur EV. Produsen otomotif China memproduksi EV dalam skala masif dan semakin banyak menemukan pembeli di luar pasar domestik. Ekspor EV China ke negara-negara ASEAN mencapai rekor $1,2 miliar pada Mei 2026 seiring dorongan pemerintah di kawasan tersebut untuk elektrifikasi transportasi.

Thailand memimpin dengan mengimpor lebih dari 36.000 unit EV China, sementara pengiriman ke Filipina menembus 33.000 unit. Kamboja dan Laos juga mencatat volume impor bulanan rekor setelah pemerintah meluncurkan insentif, memperluas infrastruktur pengisian daya, dan mendorong perakitan lokal.

Kamboja memangkas bea masuk BEV menjadi nol pada akhir Maret dan memangkas tarif PHEV dari 35% menjadi 7%. BEV masih menjadi jenis EV China yang dominan masuk ke negara tersebut, meskipun PHEV mulai menunjukkan pertumbuhan. Sementara itu, Laos telah mengurangi biaya registrasi dan servis EV dan mewajibkan perusahaan transportasi memiliki EV setidaknya 10% dari armada mereka pada akhir 2026.

Pada Mei 2026, Laos juga memberlakukan larangan sementara impor mobil berbahan bakar Internal Combustion Engine (ICE) hingga akhir tahun. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Dampak kebijakan tersebut kemungkinan akan terlihat lebih jelas dalam beberapa bulan mendatang.

Ember menyebutkan bahwa harga bahan bakar yang lebih tinggi terkait konflik di Timur Tengah mempercepat peralihan ke transportasi listrik di seluruh kawasan. “Krisis energi saat ini memperkuat nilai elektrifikasi sebagai jalur menuju ketahanan energi yang lebih besar, mengurangi eksposur impor bahan bakar, dan penghematan biaya transportasi jangka panjang,” kata Lam Pham, analis energi Ember untuk Asia.

Bulan rekor ini juga mencerminkan tren yang lebih besar dari percepatan adopsi EV di seluruh Asia. Euan Graham, analis senior listrik dan data Ember, mengatakan, “Asia Tenggara dengan cepat menjadi salah satu destinasi paling dinamis untuk kendaraan listrik, dan China memasok permintaan itu dalam skala dan kecepatan tinggi.”

BYD China EV exports Southeast Asia

Dominasi China di sektor EV juga tercermin dari penguasaan teknologi komputasi. China kembali memuncaki daftar superkomputer tercepat dunia, menunjukkan kekuatan teknologi negara tersebut. Di sisi lain, harga server Nvidia A100 di China melonjak tiga kali lipat akibat tekanan geopolitik.

Meskipun kawasan Asia Tenggara tidak mendapat banyak perhatian di Barat seperti Eropa, AS, atau China dalam diskusi pertumbuhan EV global, kawasan ini dengan cepat menjadi salah satu pasar pertumbuhan EV terpenting di dunia. Produsen China telah bergerak agresif ke kawasan ini dengan EV terjangkau, investasi manufaktur lokal, dan kemitraan, sementara pemerintah semakin mendukung elektrifikasi dengan insentif dan kebijakan suportif.

Krisis energi yang disebabkan oleh krisis Timur Tengah hanya membuat adopsi EV Asia Tenggara memasuki mode turbo. Hasilnya, ledakan ekspor EV China terus mencapai rekor baru, dan Asia Tenggara menjadi alasan besar di baliknya.

Namun, tekanan geopolitik juga menghantui industri otomotif global. BMW baru-baru ini memangkas proyeksi laba 2026 akibat tekanan dari China dan perang Iran. Sementara itu, Alibaba menggugat pemerintah AS atas daftar hitam militer China, menunjukkan ketegangan yang terus berlanjut antara kedua negara.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.