Telset.id ā Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) sukses menguji drone bertenaga layar dalam latihan penembakan langsung di Pasifik. Drone tersebut adalah Saildrone Surveyor SD-3001 Unmanned Surface Vessel (USV) yang dikembangkan bersama Lockheed Martin untuk membawa teknologi tempur mematikan.
Dalam latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026, Saildrone berhasil meluncurkan dua rudal Joint-Air-to-Ground Missiles (JAGM) yang terkoordinasi dengan USS Theodore Roosevelt (CVN-71) Carrier Strike Group. Ini merupakan pertama kalinya USS Theodore Roosevelt (CVN-71) Carrier Strike Group menggunakan Saildrone sebagai aset tempur.
Keberhasilan ini menandai kemajuan signifikan dalam integrasi kendaraan permukaan tak berawak dengan sistem senjata ofensif. Kemampuan Saildrone dalam perang elektronik (electronic warfare/EW) pasif juga berhasil diverifikasi selama latihan tersebut.
Di bawah kendali Adjunct Remote Engagement System (ARES), drone laut ini berhasil meluncurkan dua rudal JAGM yang mematikan. Rudal-rudal ini memiliki dua mode panduan independen: semi-active laser dan radar gelombang milimeter. Kombinasi keduanya membuat JAGM efektif dalam segala cuaca, termasuk lingkungan maritim dengan visibilitas rendah.
Pengembangan Cepat dalam Enam Bulan
Perkembangan Saildrone Surveyor SD-3001 USV dengan JAGM berlangsung sangat cepat. Pekerjaan pada proyek kolaboratif ini dimulai pada Oktober 2025, dengan para mitra berharap untuk menggabungkan kendaraan permukaan tak berawak Saildrone dengan efektor Lockheed Martin yang telah teruji dalam pertempuran.
Kedua bagian dari persamaan tersebut telah terbukti secara operasional, namun membuat semuanya berfungsi sesuai rencana dalam enam bulan dan kemudian mengikuti demonstrasi tembak langsung yang sukses merupakan pencapaian yang luar biasa.

Tujuannya juga membutuhkan integrasi USV ke dalam lingkungan armada Angkatan Laut agar dapat bekerja dengan ARES. Itulah yang didemonstrasikan pada RIMPAC tahun ini.
Kemampuan Electronic Warfare dan Rencana Masa Depan
Fungsi lain yang berguna dari Saildrone otonom jangka panjang yang didemonstrasikan di RIMPAC adalah kemampuan EW-nya. Drone berlayar ini mengoordinasikan sensor-sensornya dengan helikopter MH-60S untuk berhasil mendeteksi, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi ancaman pengganti selama latihan.
Lockheed Martin, Saildrone, dan U.S. Navy memiliki lebih banyak tes dan uji coba yang direncanakan untuk USV ini. Saildrone mencatat bahwa SD-3001 kini sedang menuju misi berikutnya.
Sementara itu, kerja sama dengan Lockheed Martin terus berlanjut, dengan demonstrasi ini diklaim telah mengurangi risiko integrasi muatan yang lebih besar yang direncanakan untuk Saildrone Spectre yang lebih besar. Spectre diharapkan dapat membawa kapabilitas kontainer yang jauh lebih besar termasuk peluncur Mk 70 Lockheed Martin dan SURTASS Towed Array.
Keberhasilan uji coba ini menunjukkan potensi besar penggunaan drone permukaan bertenaga layar untuk misi tempur. Dengan kemampuan meluncurkan rudal dan melakukan pengawasan elektronik, Saildrone SD-3001 menjadi aset strategis yang efisien dan serbaguna bagi armada angkatan laut modern.
Integrasi teknologi semacam ini sejalan dengan perkembangan torpedo Silent Anvil yang juga dikembangkan oleh U.S. Navy, menunjukkan komitmen militer AS dalam memanfaatkan teknologi otonom untuk memperkuat pertahanan maritim.
Dengan berbagai uji coba lanjutan yang direncanakan, industri pertahanan akan terus mengamati bagaimana teknologi drone layar ini berkembang dan diintegrasikan ke dalam strategi armada yang lebih luas.





Komentar
Belum ada komentar.