📑 Daftar Isi

Hypercar listrik Dreame yang programnya resmi dibatalkan

Dreame Hentikan Semua Program Mobil Listrik

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Dreame resmi menghentikan seluruh program mobil listriknya setelah berjalan sekitar satu tahun
  • Perusahaan sempat meluncurkan hypercar di CES dan merencanakan SUV tandingan Rolls Royce Cullinan
  • Varian hypercar bertenaga roket padat dengan akselerasi 0-60 mph dalam 0,9 detik ikut dibatalkan
  • Departemen mobil Dreame sempat memiliki hampir 1.000 karyawan sebelum PHK berkelanjutan
  • Laporan internal menyebut proyek ini lebih untuk pemasaran dan penggalangan dana, bukan manufaktur sungguhan
  • Dreame menyusul Apple, Sony/Honda, dan Dyson yang juga gagal di bisnis mobil listrik

Telset.id – Dreame, perusahaan asal China yang dikenal luas melalui produk robot vacuum dan peralatan rumah tangga, secara resmi menghentikan seluruh program mobil listriknya. Keputusan ini diambil kurang lebih satu tahun setelah perusahaan tersebut mengumumkan ambisinya membangun hypercar listrik mewah, termasuk varian yang diklaim menggunakan pendorong roket padat untuk mencapai akselerasi 0-60 mph dalam 0,9 detik.

Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh CarNewsChina. Menurut laporan tersebut, Dreame telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara berkelanjutan dalam beberapa bulan terakhir. Pada puncaknya, departemen mobil Dreame dikabarkan memiliki hampir 1.000 orang karyawan. Kini, seluruh program mobil tersebut resmi dihentikan.

Laporan lain dari China Economy mengungkapkan bahwa sumber internal menyebut proyek mobil ini lebih merupakan upaya pemasaran dan penggalangan dana daripada upaya manufaktur yang sesungguhnya. Struktur departemen yang dibentuk dinilai tidak menggunakan dana secara efektif untuk riset dan pengembangan (R&D), dan bahkan berpotensi bermasalah dengan regulator.

Kronologi Ambisi Hypercar Dreame

Dreame mulai mengumumkan niatnya untuk membangun hypercar listrik mewah pada tahun lalu. Perusahaan ini kemudian meluncurkan hypercar pertamanya di ajang CES tahun ini. Tidak berhenti di situ, Dreame juga mengumumkan rencana untuk membuat SUV yang diklaim akan bersaing dengan Rolls Royce Cullinan.

Pengumuman yang lebih liar datang pada bulan April. Dalam sebuah acara di San Francisco, Dreame memamerkan versi hypercar bertenaga roket. Idenya adalah menggunakan pendorong roket padat untuk mencapai performa yang tidak mungkin diraih dengan tenaga konvensional. Banyak mobil saat ini dianggap “traction-limited”, artinya ban secara harfiah tidak dapat berakselerasi lebih cepat bahkan jika tenaga ditambahkan. Metode dorongan alternatif seperti roket bisa menjadi solusi untuk mengatasi batasan traksi ini.

Konsep ini sebenarnya mirip dengan ide di balik Tesla Roadster generasi berikutnya, setidaknya sampai CEO Tesla Elon Musk terus mengatakan mobil tersebut bisa “terbang”. Secara teori, ide Dreame masuk akal, meskipun sangat tidak praktis. Pendorong roket padat harus diisi ulang setiap kali digunakan, sehingga kurang berguna dalam pemakaian sehari-hari.

Kendaraan dasar yang direncanakan sebenarnya tetap menarik, karena merupakan hypercar listrik “tradisional” dengan tenaga 1.876 hp. Namun, semua rencana tersebut kini batal total karena Dreame keluar dari bisnis mobil.

Fenomena Perusahaan Non-Otomotif Masuk Bisnis Mobil Listrik

Mobil listrik memang jauh lebih mudah dibangun dan dirancang dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal, karena jumlah komponen yang dibutuhkan lebih sedikit. Hal ini membuat banyak perusahaan tertarik untuk masuk ke industri ini, terutama karena industri tersebut kini terbuka bagi startup. Beberapa startup seperti Tesla dan Rivian telah berhasil menembus pasar yang sangat sulit dan dipenuhi pemain global mapan. Melihat kesuksesan ini, perusahaan dengan sumber daya, jangkauan global, dan keahlian elektronik seperti Dreame pun mencoba peruntungan, mengikuti jejak Xiaomi yang telah memproduksi beberapa EV yang mumpuni.

Namun, tidak semua upaya ini berakhir sukses. Pembatalan program mobil Dreame ini menyusul sejumlah pembatalan proyek mobil listrik bergengsi lainnya oleh perusahaan yang tidak identik dengan industri otomotif. Proyek “Project Titan” milik Apple dikabarkan berjalan selama sepuluh tahun tanpa menghasilkan satu pun kendaraan nyata. Usaha patungan Sony/Honda juga dibatalkan tahun ini. Dyson, perusahaan vacuum cleaner lain yang mengembangkan mobil listrik, juga menghabiskan banyak dana tanpa hasil yang jelas.

Nasib Dreame tampaknya masuk dalam kategori terakhir ini. Mengingat klaim yang tidak realistis dan minimnya detail yang diberikan selama peluncuran sebelumnya, keputusan ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Sisi positifnya, Dreame membatalkan proyek ini dalam hitungan bulan, tidak seperti perusahaan lain yang berpura-pura produknya nyata selama lebih dari satu dekade.

Keputusan Dreame untuk keluar dari bisnis mobil listrik ini terjadi di tengah dinamika industri kendaraan otonom yang terus berkembang. Sementara Dreame mundur, pemain lain justru semakin agresif. Ekspansi Waymo ke pasar Eropa menunjukkan bahwa persaingan di sektor ini tetap ketat. Sementara itu, dominasi robot humanoid China di pasar global membuktikan bahwa perusahaan teknologi China masih mampu bersaing di sektor inovatif lainnya.

Keputusan ini menjadi catatan penting bagi industri, bahwa tidak semua perusahaan yang “mengatakan” ingin membangun mobil listrik benar-benar serius dalam mewujudkannya. Ambisi besar tanpa fondasi manufaktur yang kuat hanya akan berakhir seperti Dreame: sebuah mimpi yang batal di tengah jalan.

Mobil hypercar listrik Dreame yang programnya dibatalkan

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.