📑 Daftar Isi

Ilustrasi lampu biru indikator ADAS pada mobil Li Auto L9 di China

China Ban Lampu Biru ADAS pada Mobil Mulai September 2026

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • China melarang pemasangan lampu indikator biru ADAS pada mobil penumpang mulai September 2026
  • Larangan berdasarkan standar nasional GB4785 yang hanya mengizinkan 4 warna lampu eksterior
  • Tren "Little Blue Light" dimulai Li Auto L9 pada Agustus 2022, diadopsi Aito, Xpeng, Nio, BYD
  • MIIT akan memberlakukan larangan ketat untuk pengajuan regulasi kendaraan baru
  • Geely dan produsen lain beradaptasi, OTA update jadi solusi potensial
  • Draf proposal 2021 sempat usul lampu biru-hijau untuk L3, tapi tidak masuk standar final 2025

Telset.id – Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) secara tegas akan memberlakukan larangan pemasangan lampu indikator biru pada sistem bantuan pengemudi (ADAS) di mobil penumpang. Larangan ini mulai berlaku untuk pengajuan regulasi kendaraan baru pada bulan depan, September 2026.

Kebijakan ini didasarkan pada standar nasional pencahayaan kendaraan GB4785 yang secara spesifik hanya mengizinkan empat warna lampu eksterior: putih, merah, kuning, dan amber. Warna biru dan hijau tidak termasuk dalam daftar tersebut, sehingga lampu biru ADAS yang populer disebut “Little Blue Light” selama ini beroperasi di area abu-abu regulasi.

Komite Standardisasi Otomotif Nasional diperkirakan akan segera menerbitkan persyaratan tambahan untuk standar GB4785 guna memperjelas batasan ini. Langkah ini menandai akhir dari tren yang dimulai sejak Agustus 2022, ketika Li Auto L9 pertama kali meluncur dengan lima indikator biru di kendaraannya.

Asal Usul dan Dampak Regulasi

Fenomena “Little Blue Light” dimulai dengan peluncuran Li Auto L9 pada Agustus 2022. Praktik ini kemudian dengan cepat diadopsi oleh produsen besar lainnya termasuk Aito, Xpeng, Nio, dan BYD. Pada model Li Auto L9 2026, perusahaan bahkan telah mengintegrasikan lampu-lampu ini ke dalam strip lampu “Star Ring” yang berubah menjadi biru saat bantuan mengemudi aktif.

Regulasi ini muncul dari perdebatan yang berkembang mengenai utilitas dan keamanan indikator tersebut. Pihak yang menentang berargumen bahwa lampu biru dapat mengganggu pengemudi lain dan pejalan kaki di malam hari, atau bahkan disalahartikan sebagai lampu sein, sehingga menciptakan bahaya keselamatan. Beberapa pihak juga khawatir bahwa pengemudi menggunakan lampu ini sebagai “perisai tanggung jawab”, terlalu mengandalkan sistem tanpa pengawasan yang memadai.

Sementara itu, para pendukung berpendapat bahwa lampu-lampu ini memberikan sinyal penting kepada pengguna jalan lain bahwa kendaraan sedang beroperasi dengan bantuan otonom, yang menjadi semakin penting seiring matangnya teknologi ini.

Menariknya, meskipun sebuah draf proposal tahun 2021 pernah mengusulkan penggunaan lampu biru-hijau untuk kendaraan otonom level L3 ke atas, ketentuan tersebut tidak dimasukkan dalam standar nasional yang difinalisasi pada tahun 2025. Dengan demikian, berbagai model L2 yang mengadopsi desain “Little Blue Light” sejak 2022 sebenarnya tidak pernah sepenuhnya mematuhi standar nasional yang dirancang sebelumnya.

Respons Industri dan Langkah Adaptasi

Produsen otomotif kini bergegas melakukan penyesuaian. Geely telah merespons kepada Yicai dengan menyatakan bahwa mereka mengetahui berita tersebut dan akan mengikuti regulasi nasional secara ketat. Sementara itu, sumber internal industri yang dikutip NBD mengindikasikan bahwa MIIT saat ini sedang mempelajari langkah penanganan yang tepat untuk kendaraan yang sudah terjual.

Untuk model-model mendatang, beberapa ahli memperkirakan bahwa produsen dapat menggunakan pembaruan Over-the-Air (OTA) untuk mengubah warna lampu atau menonaktifkan fungsi tersebut demi memastikan kepatuhan. Langkah ini menunjukkan bagaimana industri otomotif China harus cepat beradaptasi dengan perubahan regulasi yang mendadak.

Kebijakan China ini juga mencerminkan ketegangan regulasi global di sektor teknologi, di mana berbagai negara mulai memperketat aturan terkait teknologi otonom dan keamanan publik.

Implikasi bagi Masa Depan ADAS

Larangan ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi regulasi. Tidak jelas mengapa regulator tidak bergerak lebih cepat untuk melarang desain ini sejak awal, mengingat ketidaksesuaiannya dengan standar nasional yang ada. Keputusan mendadak ini memicu ketidakpastian di kalangan produsen dan konsumen.

Bagi konsumen yang sudah memiliki kendaraan dengan “Little Blue Light”, MIIT sedang mempelajari langkah penanganan yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi tidak hanya berdampak pada model baru, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kendaraan yang sudah beredar di jalan raya.

Dalam konteks yang lebih luas, langkah China ini menunjukkan bagaimana pemerintah berusaha menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keselamatan publik. Sementara produsen seperti Li Auto, Aito, Xpeng, Nio, dan BYD harus menyesuaikan strategi produk mereka, persaingan teknologi global terus berlanjut di berbagai sektor.

Keputusan MIIT untuk memberlakukan larangan ini secara ketat menandai babak baru dalam regulasi teknologi otonom di China. Dengan efektif mulai September 2026, era “Little Blue Light” di jalan raya China akan segera berakhir, meninggalkan pelajaran berharga tentang pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan yang berlaku.

Perubahan ini juga mengingatkan kita pada perdebatan regulasi AI yang juga sedang berlangsung, di mana berbagai pihak berselisih tentang pendekatan terbaik dalam mengatur teknologi yang berkembang pesat.

Ke depannya, produsen mobil China harus lebih proaktif dalam memastikan setiap fitur baru mereka telah sesuai dengan standar nasional, bukan hanya mengejar inovasi tanpa mempertimbangkan aspek regulasi yang berlaku.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.