📑 Daftar Isi

BYD Hadapi Penurunan Penjualan di Tengah Lonjakan Ekspor

BYD Hadapi Penurunan Penjualan di Tengah Lonjakan Ekspor

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – BYD mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih pada paruh pertama 2026, meskipun pengiriman kendaraan ke pasar luar negeri justru melonjak tajam. Laporan keuangan sementara yang dirilis 28 Agustus menunjukkan tekanan finansial di tengah ekspansi global yang agresif.

Pada semester pertama 2026, BYD membukukan pendapatan operasional sekitar 344,815 miliar yuan (sekitar Rp908,8 miliar), turun 7,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham perusahaan juga merosot 20,54 persen menjadi sekitar 12,32 miliar yuan (Rp32 miliar), sebagaimana dilaporkan laman Carnewschina, Sabtu (29/8) waktu setempat.

BYD menjelaskan bahwa penurunan laba bersih terutama disebabkan tekanan jangka pendek akibat fluktuasi nilai tukar dan kerugian valuta asing. Perusahaan menegaskan bahwa profitabilitas bisnis intinya tetap stabil. Pada kuartal kedua saja, laba bersih meningkat 30 persen secara tahunan, sementara margin kotor mencapai 18,9 persen, tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Ketua sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, mengaitkan penurunan penjualan dengan kendala rantai pasokan. Ia secara khusus menyebut kapasitas produksi “Blade Battery” generasi kedua yang masih belum mencukupi karena proses peningkatan produksinya masih berlangsung. “Penjualan tahun ini bergantung pada produksi baterai,” kata Wang. Seorang staf dari bisnis pengisian daya cepat BYD mengonfirmasi bahwa meskipun kapasitas produksi telah meningkat setelah enam bulan dilakukan peningkatan pada lini produksi, pasokannya masih terbatas.

Lonjakan Ekspor dan Kinerja Kuartal Kedua

Pada Januari hingga Juni 2026, penjualan kumulatif kendaraan energi baru (NEV) BYD mencapai sekitar 1,8085 juta unit, turun 15,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, strategi ekspansi global BYD mulai menunjukkan momentum. Data dari Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM) menunjukkan BYD mengekspor 792.000 kendaraan pada semester pertama 2026, melonjak 67,8 persen secara tahunan. Ekspor kini menyumbang hampir 44 persen dari total penjualan perusahaan.

Wang Chuanfu menyatakan optimistis BYD dapat melampaui target penjualan luar negeri tahunannya yang mencapai 1,5 juta unit. Kondisi ini sejalan dengan laba semester tertekan yang menjadi sorotan utama laporan keuangan kali ini.

Merek-merek premium BYD, yakni Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang, juga mencatat pertumbuhan signifikan. Penjualan gabungan ketiga merek tersebut mencapai sekitar 228.000 unit, naik 61 persen, dan kini menyumbang 12,6 persen dari total penjualan. Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan BYD dalam meningkatkan posisi di segmen premium di tengah tantangan pasar domestik.

Ancaman dari Pesaing Domestik

Posisi BYD sebagai produsen mobil China dengan penjualan tertinggi kini menghadapi ancaman. Penjualan global BYD telah turun selama delapan bulan berturut-turut sebelum lonjakan ekspor membalikkan tren penurunan tersebut. Namun, kondisi ini juga menunjukkan bahwa penjualan BYD di pasar domestik China tidak terlalu kuat.

Pada semester pertama tahun ini, penjualan domestik BYD di China mencapai sekitar 1,016 juta unit, sedangkan penjualan domestik Geely Auto, termasuk kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), mencapai sekitar 950.000 unit. Selisih penjualan keduanya kini semakin kecil. Bukan hal yang mengejutkan jika penjualan domestik Geely Auto di China melampaui BYD tahun ini.

Tekanan kompetitif di pasar domestik ini sejalan dengan pengawasan regulasi yang semakin ketat. MIIT awasi produksi beberapa model dari kedua merek tersebut atas temuan tertentu, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi BYD di pasar China.

Sementara itu, dinamika pasar otomotif China menunjukkan pergeseran preferensi konsumen. Chevrolet hentikan penjualan mobil baru di China dan memilih fokus pada ekspor global, mencerminkan perubahan lanskap industri otomotif di negara tersebut.

Lonjakan ekspor BYD menjadi penyelamat di tengah pelemahan pasar domestik. Dengan ekspor yang kini menyumbang hampir 44 persen dari total penjualan, strategi internasional perusahaan terbukti efektif dalam mengompensasi penurunan di pasar China. Target 1,5 juta unit penjualan luar negeri tahun ini diyakini dapat terlampaui, meskipun tantangan rantai pasokan baterai masih menjadi faktor pembatas utama.

Kinerja kuartal kedua yang menunjukkan pemulihan laba bersih sebesar 30 persen secara tahunan memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan bisnis BYD. Margin kotor 18,9 persen yang merupakan tertinggi dalam satu tahun terakhir menunjukkan efisiensi operasional yang membaik, meskipun tekanan nilai tukar masih membayangi laporan keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Ke depan, kemampuan BYD untuk meningkatkan kapasitas produksi Blade Battery generasi kedua akan menjadi faktor kunci dalam menentukan laju pertumbuhan penjualan. Pernyataan Wang Chuanfu bahwa “penjualan tahun ini bergantung pada produksi baterai” menegaskan urgensi penyelesaian kendala rantai pasokan tersebut.

Dengan fundamental bisnis inti yang stabil dan pertumbuhan ekspor yang impresif, BYD berada pada posisi yang strategis untuk menghadapi persaingan di pasar global. Namun, ancaman dari Geely Auto di pasar domestik tetap menjadi perhatian serius yang dapat mengubah peta persaingan industri otomotif China dalam waktu dekat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.