Telset.id – CEO Mercedes-Benz, Ola Källenius, mengaku pengalamannya mengendarai Mercedes-AMG CLA 45 listrik dengan simulasi suara V8 membuatnya berubah keyakinan, dari yang awalnya penggemar mesin konvensional menjadi pendukung elektrifikasi. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara terbarunya bersama Autocar saat menjajal C-Class Electric di Finlandia.
Källenius, yang menyebut dirinya sebagai “petrol head” dan pernah memimpin divisi AMG, memberikan pujian luar biasa terhadap sistem simulasi V8 pada AMG CLA 45. “Ketika saya pertama kali mengendarai CLA 45 dengan sistem itu, saya seperti orang yang baru lahir kembali,” ujarnya. “Itu adalah V8 terbaik yang pernah saya kendarai: semua sensasi V8 ada, tapi dengan tenaga dan torsi yang lebih besar.”
Endorsement ini terbilang signifikan mengingat rekam jejak Källenius. Sebelum menjadi CEO Mercedes pada 2019, ia memimpin divisi performa AMG, mengawasi operasi mesin Formula 1 di Brixworth, dan menjabat sebagai direktur eksekutif operasi di McLaren selama program SLR McLaren.
Strategi Performa di Era Elektrifikasi
Källenius meyakini hal-hal yang membuat penggemar otomotif terobsesi tidak hilang dengan elektrifikasi, melainkan hanya berpindah tempat. “Bagi penggemar mobil tradisional, rasanya seperti belajar bahasa baru,” akunya, seraya membandingkan pergeseran ini dengan perdebatan soal “prosesor 386 atau 486” di laptop pada masa kuliahnya dulu. “Perlombaan teknologi selalu ada sebagai kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak, tapi sekarang itu juga ada di mobil.”
Strategi Mercedes jelas: menumbuhkan bisnis performa secara tidak proporsional. “Niat kami adalah menumbuhkan sisi performa bisnis secara berlebihan,” kata Källenius, menambahkan bahwa AMG kini mengembangkan mobil di platform khusus untuk memaksimalkan performa sambil tetap berbagi komponen dengan lini Mercedes yang lebih luas.
Simulasi V8 menjadi inti dari rencana tersebut. Mercedes telah berinvestasi besar pada suara yang direkayasa di seluruh EV performanya. AMG GT electric supercar yang diluncurkan Mei lalu memadukan tenaga lebih dari 1.000 hp dengan jenis suara mesin buatan yang sama. Langkah ini juga diambil sejumlah pabrikan lain: Hyundai dengan Ioniq 5 N dan Dodge dengan Charger Daytona menggunakan trik serupa untuk memberi mobil listrik performa soundtrack dan perpindahan gigi simulasi.
Baca Juga:
Pendekatan ini sejalan dengan lini produk AMG listrik yang sedang dikembangkan. Sebelumnya, Mercedes telah mengonfirmasi rencana menghadirkan AMG SUV listrik dengan teknologi yang diadopsi dari AMG GT. Bahkan kabar terbaru menyebutkan SUV listrik AMG tersebut siap meluncur dengan tenaga mencapai 1.153 HP.
Mercedes yang Didorong Perangkat Lunak
Wawancara tersebut juga menyoroti sejauh mana Mercedes mengintegrasikan perangkat lunak ke dalam identitasnya. Saat uji drive, asisten AI C-Class Electric menyela pembicaraan Källenius untuk menyatakan bahwa “perasaan mengemudi dengan kecepatan tinggi di autobahn bisa sangat menggembirakan.” Mobil tersebut menjalankan sistem operasi MB.OS, yang juga mendasari S-Class dan C-Class bermesin konvensional baru—artinya pergeseran yang didorong perangkat lunak ini tidak terbatas pada EV saja.
Mercedes saat ini berada di tengah peluncuran 40 model dalam tiga tahun hingga akhir 2027, dibangun di atas arsitektur listrik MMA dan MB.EA baru yang melahirkan CLA dengan jangkauan hampir 500 mil serta C-Class dan GLC baru. Källenius membingkai kecepatan ini hanya mungkin terjadi melalui “strategi arsitektur yang dipikirkan matang.” Seperti yang ia katakan: “Jika setiap mur dan baut di setiap mobil itu baru, Anda tidak akan pernah bisa melakukannya.”
Perubahan besar pada arsitektur kendaraan ini juga diiringi perubahan pendekatan pada interior. Mercedes diketahui mengembalikan tombol fisik di kabin, meski tetap mempertahankan layar raksasa sebagai ciri khas. Sementara di segmen lain, kolaborasi Geely-Mercedes melalui merek Smart juga terus berjalan dengan micro EV Smart #2 yang baru muncul di regulasi MIIT. Di pasar China, Mercedes juga menyiapkan Mercedes-Benz VLE untuk bersaing dengan MPV domestik.
Sikap Hati-hati soal Timeline
Di balik antusiasmenya, Källenius bersikap jujur tentang kondisi permintaan pasar saat ini. Ia mengatakan industri telah “berputar arah” pada elektrifikasi, namun mengakui “konsumen belum sepenuhnya siap.” Ia juga menegaskan Mercedes “tidak goyah” pada tujuan jangka panjangnya untuk menjadi full electric, sambil tetap berkomitmen pada “mesin pembakaran elektrik berteknologi tinggi” untuk sementara waktu—sikap yang sama dengan kebanyakan pabrikan legacy yang memperlambat timeline EV mereka setelah permintaan mendingin.
Ketika ditanya apakah pengembangan mobil akan melambat sekarang elektrifikasi sudah mainstream, Källenius menolak, mengutip pendiri perusahaan Karl Benz: “Kecintaan pada penemuan tidak pernah mati.”
Pernyataan Källenius ini menjadi sinyal paling jelas bahwa Mercedes ingin para penggemar otomotif, bukan hanya early adopter, jatuh cinta pada gelombang EV berikutnya. Namun perlu dicatat, momen “lahir baru” atas V8 palsu ini pada dasarnya adalah pengakuan bahwa daya tarik emosional EV performa masih bersandar pada nostalgia akan hal yang mereka gantikan. Hyundai telah membuktikan dengan Ioniq 5 N bahwa perpindahan gigi dan suara simulasi benar-benar membuat mobil listrik performa lebih menyenangkan dikendarai, jadi pendekatan ini bisa berhasil. Tapi pada akhirnya, ini adalah jembatan, bukan tujuan akhir.





Komentar
Belum ada komentar.