📑 Daftar Isi

Tim Solar Team Eindhoven bersama Stella Juva, ambulans tenaga surya pertama di dunia

Ambulans Tenaga Surya Buatan Mahasiswa Belanda untuk Daerah Terpencil

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 23 mahasiswa Belanda dari Eindhoven University of Technology membangun Stella Juva, ambulans tenaga surya pertama di dunia
  • Kendaraan berfungsi sebagai klinik bergerak untuk tes darah, skrining TB dan malaria, vaksinasi, serta USG kehamilan
  • Panel surya AIKO ABC menghasilkan listrik untuk penggerak dan peralatan medis, jarak tempuh hingga 715 km
  • Baterai dilindungi PPG CoraChar SE 4000, PPG memberikan hibah $46.250 untuk pengembangan
  • Uji lapangan akan dilakukan di Kenya pada bulan Agustus dengan simulasi skenario medis
  • Proyek sebelumnya termasuk Stella Vita (camper surya) dan Stella Terra (off-road EV)

Telset.id – Sebanyak 23 mahasiswa Belanda dari Eindhoven University of Technology membangun ambulans bertenaga surya bernama Stella Juva, yang dirancang untuk membawa layanan kesehatan ke daerah terpencil dengan keterbatasan bahan bakar, listrik, dan infrastruktur jalan. Kendaraan ini diklaim sebagai ambulans tenaga surya pertama di dunia, namun fungsinya berbeda dari ambulans konvensional karena tidak membawa pasien ke rumah sakit, melainkan mendatangkan tenaga medis ke pasien.

Solar Team Eindhoven, kelompok mahasiswa di balik proyek ini, merancang Stella Juva sebagai klinik bergerak yang memungkinkan petugas kesehatan melakukan tes darah, skrining tuberkulosis dan malaria, pemberian vaksin, serta pemeriksaan USG kehamilan. Dengan kemampuan tersebut, kondisi umum dapat didiagnosis dan ditangani lebih awal di komunitas terpencil yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai rumah sakit—jika memungkinkan sama sekali.

“Akses terhadap perawatan tidak seharusnya bergantung pada ketersediaan listrik atau bahan bakar,” ujar Femke Maurits, partnerships manager untuk Amref Health Africa di Belanda, yang memberikan masukan kepada para mahasiswa dalam proyek ini. Pernyataan ini menegaskan misi utama kendaraan tersebut untuk mengatasi kesenjangan akses layanan kesehatan di wilayah tertinggal.

Spesifikasi dan Teknologi Stella Juva

Stella Juva dilengkapi panel surya terintegrasi di atap yang menghasilkan listrik untuk penggerak sekaligus peralatan medis di dalamnya. Tim memperkirakan kendaraan listrik ini mampu menempuh jarak hingga 715 kilometer (444 mil) pada hari cerah, sehingga tidak perlu bergantung pada stasiun pengisian daya saat beroperasi di area dengan infrastruktur terbatas. Namun, jangkauan tersebut belum teruji dalam kondisi dunia nyata.

solar ambulance

Atap kendaraan menggunakan sel surya AIKO All Back Contact (ABC) yang menempatkan kontak listrik di bagian belakang sel untuk meningkatkan penyerapan cahaya. Teknologi metallisasi bebas perak juga mengurangi risiko microcracks. Sel-sel ini dirancang untuk mempertahankan output pada suhu tinggi—fitur penting bagi kendaraan yang ditujukan untuk wilayah panas.

Baterai Stella Juva dilindungi oleh PPG CoraChar SE 4000, lapisan epoksi yang dirancang untuk memperlambat penyebaran panas dan api jika sel baterai mengalami thermal runaway. PPG juga memberikan hibah sebesar $46.250 (€40.000) untuk pengembangan kendaraan ini.

Pengalaman dan Uji Lapangan

Solar Team Eindhoven memiliki pengalaman luas membangun kendaraan surya non-konvensional. Proyek sebelumnya mencakup Stella Vita, camper bertenaga surya, dan Stella Terra, EV off-road yang menyelesaikan uji berkendara sejauh 620 mil melalui Maroko dan Sahara pada tahun 2023.

Uji berikutnya akan lebih penting daripada peluncuran. Para mahasiswa akan membawa Stella Juva ke Kenya pada bulan Agustus dan mengendarainya ratusan kilometer menggunakan tenaga surya. Di dua lokasi lapangan terpencil, petugas kesehatan akan mensimulasikan skenario medis, termasuk menangani pasien tuberkulosis, untuk menilai kinerja klinik bergerak dan peralatannya di luar lingkungan bengkel universitas.

Keberhasilan uji lapangan ini akan menentukan apakah konsep ambulans tenaga surya dapat menjadi solusi nyata bagi daerah terpencil yang membutuhkan akses layanan kesehatan. Jika terbukti efektif, teknologi ini berpotensi mengubah cara layanan kesehatan didistribusikan di wilayah dengan infrastruktur terbatas, membuka peluang penerapan serupa di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia yang memiliki banyak daerah terpencil dengan akses layanan kesehatan terbatas.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.