Ilustrasi perbandingan keamanan Windows 10 dan Windows 11 dengan ikon perisai

Windows 10 Masih Dipakai 16,9% Pengguna, Ancaman Keamanan Mengintai

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • 16,9% perangkat Windows masih menjalankan Windows 10, turun dari 50% di pertengahan 2025
  • Perangkat Windows 10 memiliki rata-rata 1.903 CVE aktif, tiga kali lebih banyak dari Windows 11 (652 CVE)
  • Dua pertiga CVE pada Windows 10 dinilai tinggi atau kritis
  • Tingkat kerentanan yang dapat dieksploitasi 1,7x lebih tinggi pada Windows 10
  • Sektor kesehatan (23%), ritel (23%), dan manufaktur (18%) paling lambat migrasi
  • UKM (21,4%) lebih banyak menggunakan Windows 10 dibanding perusahaan besar (16,6%)
  • Hanya 2,8% perangkat Windows 10 gagal memenuhi syarat hardware Windows 11
  • Program ESU Microsoft melindungi konsumen hingga Oktober 2027, komersial hingga Oktober 2028
  • 18,7% perangkat Windows masih pakai OS end-of-life seperti Windows 7, 8.1, dan XP
  • Lansweeper memperingatkan migrasi melambat karena kasus yang tersisa lebih sulit

Telset.id – Lebih dari satu dari enam perangkat Windows di seluruh dunia masih menjalankan Windows 10, sebuah angka yang menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pakar keamanan siber. Data terbaru dari Lansweeper mengungkapkan bahwa 16,9% perangkat klien Windows belum beralih ke sistem operasi yang lebih baru, sebuah kondisi yang disebut sebagai mimpi buruk keamanan karena kerentanan yang jauh lebih tinggi pada OS lawas tersebut.

Meskipun pangsa pasar Windows 10 telah turun drastis dari sekitar 50% pada pertengahan 2025 menjadi 16,9% saat ini, Lansweeper memperingatkan bahwa laju migrasi mulai melambat. Hal ini mengindikasikan bahwa pengguna yang tersisa mungkin tidak akan segera meninggalkan Windows 10, meninggalkan celah keamanan yang signifikan di ekosistem komputasi global.

Data Lansweeper menunjukkan bahwa perangkat Windows 10 rata-rata memiliki tiga kali lebih banyak kerentanan aktif (CVE) dibandingkan perangkat Windows 11. Tepatnya, perangkat Windows 10 memiliki 1.903 CVE aktif, sementara Windows 11 hanya memiliki 652 CVE. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar dua pertiga dari CVE aktif pada Windows 10 dinilai tinggi atau kritis, dan tingkat kerentanan yang diketahui dapat dieksploitasi (exploitable) sekitar 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan Windows 11.

Windows 10 Logo on Laptop

Angka-angka ini menempatkan pengguna Windows 10 pada risiko keamanan yang jauh lebih besar. Setiap CVE yang belum ditambal bisa menjadi pintu masuk bagi peretas untuk mengakses data pribadi, mencuri informasi sensitif, atau bahkan mengendalikan perangkat dari jarak jauh. Bagi pengguna rumahan dan perusahaan, ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata yang bisa berakibat fatal.

Microsoft sebenarnya telah menyediakan program Extended Security Updates (ESU) sebagai jalan keluar sementara. Program ini memberikan perlindungan keamanan tambahan bagi konsumen hingga Oktober 2027 dan bagi pelanggan komersial berbayar hingga Oktober 2028. Namun, ESU hanyalah solusi jangka pendek yang tidak mengatasi akar masalah: sistem operasi yang sudah usang secara fundamental.

Laporan Lansweeper juga mengidentifikasi sektor-sektor yang paling lambat dalam melakukan migrasi. Sektor kesehatan dan farmasi (23%), konsumen dan ritel (23%), serta manufaktur (18%) menjadi industri yang paling banyak masih menggunakan Windows 10. Sementara itu, usaha kecil dan menengah (UKM) dengan 21,4% lebih mungkin masih menggunakan OS lama dibandingkan perusahaan besar yang hanya 16,6%.

Yang menarik, Lansweeper mengungkapkan bahwa keterbatasan teknis bukanlah penyebab utama lambatnya migrasi. Hanya 2,8% dari perangkat Windows 10 yang dianalisis gagal memenuhi persyaratan perangkat keras Windows 11. Ini berarti mayoritas pengguna sebenarnya bisa melakukan upgrade, namun memilih untuk tidak melakukannya. Faktor lain seperti biaya, ketidaknyamanan, atau kekhawatiran akan kompatibilitas aplikasi mungkin menjadi penghalang yang lebih besar.

Lebih luas lagi, laporan tersebut memperingatkan bahwa hampir seperlima (18,7%) dari seluruh lanskap Windows yang dipantau masih menjalankan sistem operasi yang sudah mencapai akhir masa pakainya (end-of-life), seperti Windows 7, Windows 8.1, dan Windows XP. Ini menunjukkan bahwa masalah keamanan akibat sistem operasi usang bukanlah fenomena baru, melainkan masalah yang terus berulang dan semakin parah.

Laporan Lansweeper menyimpulkan bahwa meskipun banyak pengguna telah beralih ke Windows 11, sisa pengguna Windows 10 yang ada saat ini justru lebih sulit, mahal, atau berisiko untuk diperbarui. Kelompok pengguna yang tersisa ini mungkin memiliki alasan kuat untuk bertahan, seperti aplikasi bisnis yang belum kompatibel, perangkat keras khusus, atau kekhawatiran terhadap perubahan antarmuka.

Namun, dengan program ESU yang akan segera berakhir, keputusan untuk meninggalkan Windows 10 harus segera dipertimbangkan secara serius. Setiap hari yang dihabiskan dengan Windows 10 adalah hari di mana perangkat Anda lebih rentan terhadap serangan siber. Bagi pengguna yang masih ragu, Microsoft Uji Coba Pencarian Windows 11 tanpa iklan bisa menjadi salah satu alasan untuk beralih.

Bagi pengguna yang khawatir dengan perubahan di Windows 11, perlu diketahui bahwa Microsoft terus memperbarui sistem operasinya dengan berbagai perbaikan. Salah satu contohnya adalah Microsoft Makin Agresif dalam hal pengaturan browser, yang mungkin menjadi pertimbangan tersendiri bagi sebagian pengguna.

Intinya, data Lansweeper ini menjadi alarm keras bagi semua pengguna Windows 10. Keamanan data dan perangkat Anda sedang dipertaruhkan. Jangan menunggu sampai terjadi insiden keamanan untuk mulai bergerak. Segera rencanakan migrasi ke Windows 11 atau sistem operasi lain yang lebih aman sebelum terlambat.

Dengan pangsa pasar Windows 10 yang masih signifikan dan kerentanan yang jauh lebih tinggi, masa depan keamanan siber bagi pengguna setia Windows 10 berada di ujung tanduk. Keputusan untuk bermigrasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Laporan ini juga mengingatkan bahwa dunia teknologi terus bergerak maju. Sistem operasi yang dulu dianggap aman dan stabil kini bisa menjadi pintu gerbang bagi ancaman terbesar. Bagi mereka yang masih bertahan di Windows 10, waktu terus berjalan, dan risiko semakin besar setiap harinya.

Apakah Anda masih menggunakan Windows 10? Jika ya, inilah saat yang tepat untuk mempertimbangkan kembali keputusan Anda. Keamanan digital Anda tidak boleh ditawar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.