Telset.id – Microsoft kembali mengalami kekalahan dalam sengketa hukum berkepanjangan dengan reseller software asal Inggris, ValueLicensing. Setelah kalah di Competition Appeal Tribunal (CAT) dan Court of Appeal, raksasa teknologi ini kini hanya bisa berharap pada izin untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung Inggris.
Keputusan pengadilan ini membuka jalan bagi tuntutan class action senilai £3,5 miliar yang melibatkan hingga 2,7 juta anggota. Jika gugatan tersebut berhasil, konsekuensinya bisa jauh lebih besar daripada klaim awal sebesar £270 juta yang diajukan ValueLicensing.
Sengketa ini berakar pada praktik Microsoft yang menuliskan ketentuan dalam perjanjiannya, menawarkan harga berlangganan lebih baik jika pelanggan menyerahkan hak untuk menjual kembali lisensi perpetual mereka. Strategi ini dinilai mencekik pasar sekunder dan mendorong pengguna beralih ke Microsoft 365.

## Perubahan Strategi Hukum Microsoft
Setelah bertahun-tahun menggugat kasus ini sebagai masalah persaingan usaha, Microsoft mengubah argumennya pada 2025 dengan mengubahnya menjadi sengketa hak cipta. Microsoft berpendapat bahwa Office bukan sekadar program komputer karena memiliki ikon, elemen antarmuka pengguna, file bantuan, dan clip art yang seharusnya diatur oleh rezim hak cipta berbeda.
Argumen ini telah gagal dua kali. CAT memutuskan isu hak cipta awal untuk mendukung ValueLicensing pada November 2025, dan pada 7 Juli 2026, Court of Appeal menolak kedua banding Microsoft.
Pengadilan menilai argumen Microsoft akan menghasilkan “hasil yang aneh”: software yang dijual melalui CD-ROM bisa dijual kembali dengan bebas, sementara software identik yang diunduh tidak bisa. Selain itu, vendor bisa mengalahkan prinsip exhaustion hanya dengan menggabungkan ikon dengan kode program.
## Dampak Lebih Luas dari Keputusan Ini
Keputusan ini tidak hanya penting bagi ValueLicensing. Dengan menegaskan bahwa CAT berwenang memutuskan isu hak cipta jika diperlukan untuk menyelesaikan kasus persaingan usaha, Court of Appeal membuka jalan bagi tuntutan serupa lainnya.
Alexander Wolfson, yang mengajukan class action terhadap Microsoft, kini diuntungkan oleh keputusan ini. Wolfson sebelumnya telah diberikan izin untuk campur tangan mendukung ValueLicensing, dan klaimnya yang bisa mengekspos Microsoft pada kewajiban miliaran pound kini memiliki dasar hukum yang lebih kuat.
Kasus ini juga menjadi perhatian regulator Inggris. Competition and Markets Authority (CMA) membuka penyelidikan perlindungan konsumen pada 29 Juli 2026 terkait cara Microsoft memasarkan paket Microsoft 365 Personal dan Family.

## Investigasi CMA dan Peralihan ke Langganan
Sejak Januari 2025, pelanggan Microsoft 365 yang ada diberikan Copilot dan fitur baru lainnya tanpa biaya tambahan selama sisa masa kontrak. Namun, saat perpanjangan, mereka otomatis dipindahkan ke paket dengan harga lebih tinggi kecuali memilih alternatif atau membatalkan.
Hayley Fletcher, direktur senior perlindungan konsumen CMA, menyatakan bahwa pelanggan membutuhkan informasi yang jelas dan tepat waktu tentang pilihan mereka. Investigasi ini akan mempertimbangkan apakah pelanggan Microsoft disesatkan dan akhirnya membayar lebih.
Microsoft menyatakan bahwa kepercayaan konsumen adalah prioritas dan sedang meninjau klaim tersebut sambil bekerja sama dengan penyelidikan. CMA belum mencapai kesimpulan dan belum menuduh perusahaan melanggar hukum.
Baca Juga:
## Perbedaan Kasus dan Konsekuensi Global
Investigasi CMA tentang langganan konsumen berbeda dari kasus ValueLicensing yang menyangkut perjanjian komersial. Keduanya diatur oleh rezim yang berbeda, tetapi terhubung oleh transisi yang sama dari pembelian sekali bayar ke langganan berulang.
Microsoft juga menghadapi investigasi status pasar strategis CMA ke dalam software bisnisnya. Selain itu, regulator kompetisi Australia menggugat Microsoft di Federal Court atas isu Copilot dan Classic plan yang sama, mempengaruhi sekitar 2,7 juta pelanggan.

## Batasan Hak Jual Kembali
Meskipun CAT memenangkan ValueLicensing, pengadilan tidak memberikan kebebasan tanpa batas kepada reseller. Berdasarkan keputusan UsedSoft, pembeli yang memegang satu salinan yang diinstal di server dan dilisensikan untuk beberapa pengguna tidak bisa memotong sebagian kapasitas pengguna untuk dijual kembali.
Exhaustion hanya melekat pada salinan, bukan pada seat. Namun, Tribunal membedakan ini dari pengaturan volume asli yang terdiri dari beberapa salinan atau lisensi independen, di mana menjual kembali jumlah yang sesuai mungkin diizinkan setelah penjual berhenti menggunakan salinan yang telah diberikan.
## Nasib Kasus dan Prospek ke Depan
Jika Mahkamah Agung menolak menangani kasus ini, proses akan kembali ke Tribunal dengan persidangan direncanakan pada 2027. Microsoft telah menghabiskan sebagian besar periode yang dicakup klaim untuk memindahkan basis pelanggannya dari lisensi perpetual ke Microsoft 365.
Jika ValueLicensing menang sepenuhnya, mereka mendapatkan hak untuk berdagang dalam kategori yang sengaja dihentikan Microsoft selama satu dekade terakhir. Sengketa ini juga terjadi di tengah ketegangan transatlantik, dengan Trump mengumumkan investigasi Section 301 terhadap praktik perdagangan Uni Eropa.
Inggris berada di posisi yang canggung dalam konflik ini. Pengadilannya tidak lagi terikat oleh yurisprudensi UE, dan regulatornya tidak bertanggung jawab kepada Brussels. Namun, target yang dinyatakan presiden AS adalah pajak digital dan aturan pasar digital secara umum, dan Inggris memiliki keduanya.

Terlepas dari bagaimana aplikasi ke Mahkamah Agung berakhir, pengawasan hukum terhadap cara Microsoft memindahkan dunia ke langganan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Keputusan ini menjadi preseden penting yang bisa mempengaruhi bagaimana raksasa teknologi lainnya memperlakukan hak konsumen dan reseller atas software yang mereka beli.





Komentar
Belum ada komentar.