πŸ“‘ Daftar Isi

Tangan memegang ponsel menampilkan informasi keramaian tempat di Google Maps.

Cara Google Maps Tahu Restoran Sedang Ramai atau Sepi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google Maps menampilkan tingkat keramaian dan estimasi waktu tunggu sebuah tempat
  • Data berasal dari agregat anonim pengguna yang mengaktifkan Google Maps Timeline
  • Popular times, durasi kunjungan, dan waktu tunggu dihitung dari pola pengunjung beberapa pekan sebelumnya
  • Fitur "Busy area" menghitung keramaian kawasan dari data toko, restoran, dan taman, tanpa hunian pribadi
  • Google menyatakan data bersifat privat dan tidak mengungkap identitas atau jumlah orang
  • Pengguna bisa mematikan Google Timeline agar tidak berkontribusi pada pengumpulan data

Telset.id – Google Maps tidak hanya membantu pengguna menemukan rute perjalanan, tetapi juga bisa memberi tahu seberapa ramai sebuah tempat secara mendekati waktu nyata. Informasi ini muncul hanya jika Google punya cukup data untuk menyediakannya, dan bisa memengaruhi keputusan pengguna soal ke mana serta kapan sebaiknya pergi.

Bagi pengguna yang sedang terburu-buru, mengetahui sebuah tempat sarapan sedang penuh bisa jadi alasan untuk memilih lokasi lain. Sebaliknya, bagi yang mencari suasana ramai, menunggu hingga bar lokal mulai terisi bisa jadi pilihan. Pertanyaannya, bagaimana Google Maps mengetahui informasi ini secara praktis dalam waktu nyata?

Untuk tempat tertentu seperti restoran, hotel, toko, dan kedai kopi, Google menggunakan agregat data anonim dari pengguna yang secara sukarela mengaktifkan fitur Google Maps Timeline. Dengan melacak kepadatan perangkat di suatu lokasi, Google dapat menentukan berapa banyak orang berada di sebuah tempat, lalu menilai seberapa ramai lokasi tersebut menggunakan lalu lintas biasa sebagai tolok ukur.

Tangan memegang ponsel menampilkan Google Maps.

Google menghitung popular times, perkiraan waktu tunggu, dan durasi kunjungan dengan menganalisis data historis. Google Maps menampilkan grafik yang menunjukkan waktu ketika sebuah bisnis cenderung sepi dan waktu ketika kemungkinan antrean mengular. Estimasi rata-rata durasi kunjungan dan waktu tunggu dihitung menggunakan pola pengunjung dari beberapa pekan sebelumnya.

Durasi kunjungan berguna untuk memberi gambaran berapa lama orang menghabiskan waktu di tempat seperti museum, sehingga pengguna bisa merencanakan hari dengan lebih baik. Sementara itu, waktu tunggu cocok untuk menentukan restoran dan bisnis berbasis layanan lain yang pas dengan jadwal padat. Pengguna bahkan bisa mengobrol dengan Google Maps untuk memesan makanan, memesan hotel, dan lainnya.

Bagaimana Google Menghitung Keramaian Satu Kawasan

Google juga menghitung seberapa ramai sebuah kawasan secara keseluruhan, yang berguna untuk acara luar ruangan. Pengguna dapat mengetuk label β€œBusy area” untuk melihat grafik waktu-waktu tersibuk sepanjang hari, lengkap dengan direktori bisnis di sekitarnya. Google mengumpulkan data ini dengan menggabungkan informasi dari berbagai lokasi di kawasan tersebut, seperti toko, restoran, bahkan taman. Namun, Google tidak mengambil data dari hunian pribadi.

Restoran yang ramai dengan pengunjung.

Perhitungan ini kembali menggunakan data anonim dari pengguna yang mengaktifkan Google Timeline. Google harus mengumpulkan cukup data pengunjung untuk bisa menampilkan informasi tersebut, sehingga datanya mungkin tidak tersedia untuk lokasi yang kurang populer. Fitur ini biasanya terbatas pada zona lalu lintas tinggi yang menarik banyak orang, seperti kota wisata atau lokasi festival.

Google menyatakan data tersebut selalu bersifat privat dan tidak pernah mengungkap identitas orang maupun jumlah total orang di suatu lokasi. Google Maps hanya akan memberi tahu apakah sebuah tempat ramai, tidak ramai, atau begitu ramai hingga kemungkinan tidak sepadan untuk dikunjungi.

Sebelum mengaktifkan Google Timeline, perlu dicatat bahwa dengan fitur ini menyala, Google pada dasarnya selalu melacak aktivitas pengguna. Hal ini tidak hanya membantu menentukan tingkat keramaian suatu lokasi, tetapi juga berguna di area lain. Google Maps dan aplikasi saudaranya, Waze, memakai teknik serupa untuk melacak pola lalu lintas agar pengguna bisa menemukan rute berkendara terbaik menuju tujuan.

Kawasan luar ruangan yang ramai dengan orang berjalan menyeberang jalan.

Bagi pengguna yang tidak ingin menjadi bagian dari proses ini, cukup matikan Google Timeline dan aktivitas Anda tidak akan berkontribusi pada pengumpulan data perusahaan. Langkah ini menjadi pilihan bagi mereka yang lebih memilih privasi ketimbang turut menyuplai informasi keramaian lokasi.

Di sisi lain, Google terus memperluas fungsi Maps lewat sejumlah langkah lain. Perusahaan sempat menarik perhatian lewat keputusan menyetop Pixel Tablet, yang membuat sebagian pengguna kecewa meski tidak terkejut. Google juga menghapus Pixel Tablet dari toko resminya, memunculkan sinyal produk tersebut dihentikan.

Google bahkan mengubah hasil pencarian di Eropa demi menghindari denda Rp16 triliun, menunjukkan bahwa penyesuaian kebijakan produk dan pencarian tetap menjadi bagian dari dinamika perusahaan. Sementara di Inggris, pemerintah mendesak Apple dan Google melindungi anak dari konten porno, menandakan tekanan regulasi terhadap platform digital kian meluas.

Bagi pengguna Google Maps, yang terpenting adalah memahami bahwa informasi keramaian dan waktu tunggu bergantung pada ketersediaan data dari pengguna yang memilih ikut serta. Tanpa cukup data, fitur ini tidak akan muncul. Keputusan untuk mengaktifkan atau mematikan Google Timeline sepenuhnya ada di tangan pengguna, dengan konsekuensi masing-masing terhadap privasi dan manfaat yang diperoleh.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.