Pernahkah Anda merasa sedang diamati atau direkam tanpa sepengetahuan Anda di tempat umum? Di era di mana kamera tersembunyi bisa berbentuk kacamata hitam yang stylish, kekhawatiran itu semakin nyata. Sebuah aplikasi baru hadir sebagai “alarm” digital, mengingatkan kita bahwa privasi di ruang publik kini sedang diuji oleh perangkat yang kita kenakan sehari-hari.
Laporan media yang mengungkap bagaimana kacamata pintar seperti Meta Ray-Bans digunakan untuk merekam orang tanpa persetujuan mereka telah memicu gelombang keprihatinan. Isu ini bukan lagi sekadar teori konspirasi, melainkan realitas yang dihadapi di kafe, transportasi umum, atau bahkan dalam pertemuan santai. Respons terhadap kondisi ini tidak datang dari raksasa teknologi atau regulator, melainkan dari seorang developer independen dengan solusi yang sederhana namun powerful.
Aplikasi bernama Nearby Glasses ini muncul sebagai bentuk resistensi terhadap normalisasi perangkat pengintai. Dengan mendeteksi sidik jari Bluetooth unik yang dipancarkan oleh kacamata pintar, aplikasi ini berupaya mengembalikan sedikit kendali kepada individu yang mungkin menjadi subjek rekaman diam-diam. Kehadirannya menandai babak baru dalam percakapan tentang etika, teknologi wearable, dan batasan yang kabur antara kenyamanan dan pengawasan.
Bagaimana Nearby Glasses Bekerja Melacak “Mata-Mata”?
Mekanisme di balik Nearby Glasses terlihat sederhana di permukaan, tetapi mengandung pemahaman mendalam tentang bagaimana perangkat IoT beroperasi. Aplikasi ini, seperti dilaporkan pertama kali oleh 404 Media, secara pasif memindai lingkungan sekitar untuk mencari sinyal Bluetooth Low Energy (BLE) dengan pola atau signature tertentu yang dikaitkan dengan model kacamata pintar populer, terutama lini Meta Ray-Bans. Ketika signature yang dikenal terdeteksi, pengguna langsung menerima notifikasi push yang memberi tahu bahwa ada seseorang dengan perangkat tersebut berpotensi berada di dekatnya.
Yves Jeanrenaud, developer aplikasi ini, menyebutnya sebagai “bagian kecil dari perlawanan terhadap teknologi pengawasan.” Pendekatannya bersifat defensif dan informatif, bukan ofensif. Aplikasi ini tidak memblokir sinyal atau mengganggu perangkat, melainkan memberdayakan pengguna dengan informasi. Dalam wawancaranya, Jeanrenaud menekankan filosofi transparansi: jika teknologi dapat digunakan untuk mengamati secara diam-diam, maka masyarakat juga berhak memiliki alat untuk mengetahui keberadaannya.
Namun, penting untuk dicatat bahwa sistem ini tidak sempurna. Jeanrenaud sendiri mengakui adanya kemungkinan “false positive” atau deteksi palsu. Sinyal Bluetooth dari perangkat lain, seperti headset VR atau perangkat wearable tertentu, terkadang dapat memicu peringatan. Ini adalah batasan teknis yang melekat pada metode deteksi berbasis sinyal radio. Meski demikian, kehadiran notifikasi tersebut sudah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan situasional pengguna.
Mengapa Kacamata Pintar Menjadi Ancaman Privasi Serius?
Kekhawatiran privasi seputar kacamata pintar bukanlah hal baru, tetapi intensitasnya meningkat pesat belakangan ini. Pemicu utamanya adalah laporan bahwa Meta sedang mengerjakan penambahan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) ke dalam Meta Ray-Bans generasi mendatang. Bayangkan, sebuah perangkat yang tampak seperti aksesori fashion biasa tidak hanya bisa merekam video dan audio, tetapi juga langsung mengidentifikasi siapa orang di hadapan Anda. Ini melampaui konsep rekaman diam-diam; ini adalah pengumpulan data biometrik secara real-time tanpa persetujuan.
Gelombang inovasi di sektor ini juga semakin deras. OpenAI, sang penggerak revolusi AI, dikabarkan juga sedang mengembangkan pasangan kacamata pintarnya sendiri. Meski detailnya masih samar, keikutsertaan pemain dengan kemampuan AI sekuat OpenAI dalam arena hardware wearable pasti akan membawa kemampuan pemrosesan yang lebih canggih dan, konsekuensinya, potensi penyalahgunaan yang lebih kompleks. Inovasi seperti gelang haptik Aleye yang berkolaborasi dengan kacamata Meta untuk “membaca” ekspresi wajah semakin mengaburkan garis antara asistensi teknologi dan intrusi psikologis.
Fenomena ini mengingatkan pada debat seputar aplikasi pelacakan kontak di masa pandemi, di mana utilitas kesehatan publik berbenturan dengan hak privasi. Bedanya, kacamata pintar tidak hadir dalam situasi darurat nasional; ia masuk sebagai produk konsumen yang didorong oleh motif komersial. Ketika fungsi pengawasan menjadi fitur sampingan yang tidak mencolok dari sebuah produk lifestyle, normalisasinya terjadi dengan cepat dan halus.
Lanskap Resistensi Digital dan Masa Depan Kewaspadaan
Keberadaan Nearby Glasses, yang saat ini tersedia di Google Play Store dan GitHub, adalah gejala dari sebuah gerakan yang lebih besar. Ia mewakili upaya bottom-up dari komunitas teknolog untuk menciptakan penangkal terhadap ekses inovasi dari korporasi besar. Ini adalah bentuk “sorotan balik” (counter-surveillance) yang dapat diakses publik, menggemakan semangat bahwa pengawasan tidak boleh menjadi jalan satu arah.
Namun, pertanyaannya, apakah solusi seperti ini cukup? Aplikasi deteksi adalah tameng reaktif, bukan perubahan sistemik. Perdebatan yang lebih substantif harus mengarah pada regulasi yang jelas tentang etika perangkat rekam tersembunyi, persyaratan persetujuan (consent) yang ketat, dan batasan hukum untuk teknologi seperti pengenalan wajah di ruang publik. Tanpa kerangka hukum yang kuat, kita hanya akan berperang dalam permainan kucing dan tikus teknologi.
Selain itu, perkembangan teknologi wearable yang semakin mini dan terintegrasi, seperti spekulasi tentang sepatu pintar Apple, menunjukkan bahwa sensor dan kamera akan semakin tersebar di sekitar kita. Nearby Glasses mungkin hanya pionir dari serangkaian alat deteksi yang lebih canggih yang akan dibutuhkan di masa depan. Ia mengajak kita untuk lebih kritis: setiap kemudahan dan gaya hidup yang ditawarkan teknologi portabel, ada harga yang harus dibayar, dan seringkali harga itu adalah secuil privasi kita.
Pada akhirnya, Nearby Glasses lebih dari sekadar aplikasi; ia adalah simbol kesadaran. Ia mengingatkan bahwa di tengah gemerlap inovasi, hak untuk tidak diawasi tetap fundamental. Kehadirannya memicu percakapan penting: sejauh mana kita rela teknologi masuk ke dalam sudut-sudut paling pribadi dari kehidupan sosial kita, dan alat apa yang kita miliki untuk melindungi diri ketika batas itu terlampaui. Dalam pertarungan antara pengawasan dan privasi, terkadang yang dibutuhkan hanyalah sebuah notifikasi sederhana untuk membuat kita kembali membuka mata.

