Meta PHK Ratusan Karyawan Lagi, Bos Eksekutif Berpotensi Dapat Bonus Rp 43 Triliun

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Bayangkan Anda datang ke kantor pada hari Rabu, hanya untuk mengetahui bahwa Anda termasuk dalam ratusan karyawan yang di-PHK. Sementara itu, di lantai eksekutif, rencana paket kompensasi baru yang bisa memberi bonus hingga Rp 43 triliun per orang sedang disusun. Itulah paradoks pahit yang sedang terjadi di Meta, perusahaan yang terus mengorbankan karyawan untuk membiayai ambisi AI-nya, sambil menyiapkan “angpao” raksasa untuk para petingginya.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam Meta. Pada Rabu (25/3/2026), perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu memangkas “ratusan” posisi karyawannya. Yang menarik, divisi Reality Labs, yang menaungi semua mimpi metaverse dan VR Meta, kembali menjadi salah satu sasaran utama. Ini bukan kali pertama divisi tersebut mengalami penyusutan. Sebelumnya, pada Januari lalu, lebih dari 1.000 pekerja di Reality Labs telah kehilangan pekerjaan mereka. Sejak awal 2021, divisi ini telah mencatatkan kerugian fantastis, lebih dari USD 70 miliar atau setara Rp 1.100 triliun. Fakta ini semakin mengukuhkan kegagalan taruhan besar-besaran Meta pada realitas virtual dan metaverse, yang dulu dielu-elukan sebagai masa depan baru perusahaan.

Lalu, ke mana arah Meta sekarang? Jawabannya adalah kecerdasan buatan atau AI. Zuckerberg kini semakin sering memposisikan Meta sebagai raksasa AI, sebuah pergeseran strategi yang signifikan dari rebranding 2021 yang fokus pada metaverse. Untuk mendanai ambisi AI ini, Meta tak segan melakukan efisiensi, termasuk dengan merumahkan karyawan. Perusahaan dilaporkan telah meminta beberapa manajer untuk menyiapkan rencana pengurangan biaya. Tujuannya jelas: mengimbangi investasi infrastruktur AI yang sangat mahal, termasuk rencana pengeluaran USD 600 miliar untuk pusat data pada 2028 mendatang.

Namun, PHK “ratusan” karyawan ini masih jauh dari angka yang sempat bocor awal Maret lalu, di mana Meta dikabarkan berencana memotong 20 persen dari total tenaga kerjanya. Dengan jumlah karyawan sekitar 79.000 orang di akhir 2025, pemotongan 20 persen berarti hampir 16.000 orang akan kehilangan pekerjaan. Bisa jadi, PHK yang terjadi hari ini hanyalah gelombang awal sebelum pemangkasan yang lebih besar benar-benar dijalankan. Selain Reality Labs, divisi perekrutan, penjualan, Facebook, dan operasi global juga dikabarkan terkena dampak pemutusan hubungan kerja ini.

Di tengah gelombang PHK ini, sebuah ironi besar justru muncul dari lantai eksekutif. Berdasarkan dokumen yang diajukan ke SEC, Meta sedang merancang sistem insentif baru yang sangat menguntungkan untuk enam eksekutif puncaknya. Mereka adalah Chief Technology Officer Andrew Bosworth, Chief Financial Officer Susan Li, Chief Operating Officer Javier Olivan, dan Chief Product Officer Chris Cox. Paket kompensasi berbasis saham yang terkait dengan kinerja ini berpotensi memberi mereka masing-masing bonus hingga USD 2,7 miliar atau sekitar Rp 43 triliun. Bayangkan, angka yang hampir tak terbayangkan untuk seorang individu.

Meta seolah mengambil halaman dari buku Elon Musk dan Tesla dalam merancang paket bayaran untuk eksekutifnya. Namun, kontras antara nasib karyawan yang di-PHK dan eksekutif yang berpotensi mendapat bonus triliunan rupiah menciptakan narasi yang sulit diterima. Apalagi, pernyataan Zuckerberg pada Januari lalu semakin mempertegas jurang ini. CEO Meta itu mengatakan bahwa ia mulai melihat “proyek yang dulu membutuhkan tim besar sekarang dapat diselesaikan oleh satu orang yang sangat berbakat.” Pernyataan yang terdengar indah bagi segelintir orang di puncak, tetapi mungkin menjadi mimpi buruk bagi mereka yang berada di rantai bawah hierarki perusahaan.

Fokus Meta pada AI memang tak terbendung. Pergeseran ini juga terlihat dari keputusan strategis lainnya, seperti rencana penutupan akses Horizon Worlds di platform VR untuk lebih fokus pada versi mobile. Langkah ini mengisyaratkan bahwa meskipun metaverse tidak sepenuhnya ditinggalkan, prioritas utama telah bergeser. AI dianggap sebagai ladang yang lebih subur dan menjanjikan untuk pertumbuhan masa depan. Namun, transisi ini berbiaya tinggi, dan untuk saat ini, biaya itu dibebankan pada para karyawan.

Gelombang PHK di dunia teknologi sebenarnya bukan hal baru. Beberapa bulan lalu, perusahaan lain seperti xAI juga melakukan langkah serupa untuk fokus pada AI. Namun, skala dan kontras yang ditunjukkan Meta kali ini sangat mencolok. Di satu sisi, perusahaan memangkas biaya operasional melalui PHK. Di sisi lain, mereka menyiapkan paket insentif yang nilainya luar biasa besar untuk para pemimpinnya. Pertanyaannya, apakah strategi ini berkelanjutan? Dan yang lebih penting, apakah etis?

Bagi investor, fokus pada AI dan efisiensi mungkin terdengar menarik. Tetapi moral karyawan dan persepsi publik adalah aset tak berwujud yang sama pentingnya. Ketika karyawan merasa bahwa mereka hanyalah angka yang bisa dikorbankan untuk membiayai bonus eksekutif, loyalitas dan inovasi dari dalam bisa terkikis. Meta mungkin sedang membangun masa depan dengan AI, tetapi mereka juga berisiko merusak fondasi budaya perusahaannya sendiri. Bagaimana menurut Anda? Apakah ini harga yang wajar untuk kemajuan teknologi, atau sebuah ketimpangan yang semakin melebar di era digital?

Masa Depan yang Tak Pasti bagi Karyawan dan Metaverse

Nasib karyawan Meta yang tersisa, terutama di divisi Reality Labs, kini digantungkan pada awan yang kelam. Dengan sejarah kerugian miliaran dolar dan dua gelombang PHK besar dalam setahun, sinyal yang diberikan Zuckerberg sangat jelas: metaverse bukan lagi prioritas utama. Ini diperkuat dengan keputusan untuk mendukung Horizon Worlds hanya dalam kapasitas terbatas, sambil mengalihkan sumber daya ke bidang lain. Masa depan VR di Meta terasa semakin suram, terperangkap antara kegagalan komersial dan perubahan arah strategis perusahaan menuju AI.

Lanskap industri teknologi sedang berubah dengan cepat. Tekanan untuk menunjukkan profitabilitas, terutama dari investasi besar seperti AI, memaksa raksasa seperti Meta untuk membuat pilihan-pilihan sulit. Namun, cara mereka mengeksekusi pilihan tersebut yang menjadi sorotan. Transparansi, keadilan, dan perlakuan terhadap manusia di balik layar akan terus menjadi ukuran, tidak hanya bagi regulator, tetapi juga bagi talenta-talenta terbaik yang mungkin akan berpikir dua kali untuk bergabung dengan Meta di masa depan. Ketika skandal review AI saja bisa mengguncang kepercayaan di industri game, bagaimana dengan skala kepercayaan yang harus dibangun sebuah perusahaan terhadap karyawannya sendiri?

Episode PHK dan bonus miliaran dolar ini mungkin hanya satu bab dalam buku besar transformasi Meta. Tetapi bab ini meninggalkan pelajaran penting: dalam perlombaan menguasai teknologi masa depan, manusia tidak boleh menjadi collateral damage. Zuckerberg mungkin melihat dirinya sedang membangun sebuah “kekaisaran AI”, tetapi setiap kekaisaran membutuhkan rakyat yang loyal dan sejahtera untuk bertahan. Jika yang terjadi justru sebaliknya, maka fondasi kekaisaran itu sendiri yang suatu hari nanti bisa retak.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI