Eternal Playlist Urn: Speaker Bluetooth Berbentuk Guci Abadi dari Spotify

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Bayangkan sebuah guci abu yang tidak hanya menyimpan kenangan, tetapi juga memutar lagu-lagu favorit Anda untuk selamanya. Kedengarannya seperti plot dari film fiksi ilmiah atau lelucon gelap di sebuah pesta. Namun, inilah kenyataan yang diciptakan oleh Spotify dan Liquid Death: Eternal Playlist Urn, sebuah speaker Bluetooth nirkabel yang dirancang menyerupai guci kremasi. Kolaborasi yang mungkin menjadi yang paling nyeleneh tahun ini ini bukan sekadar produk, melainkan pernyataan tentang sejauh mana merek akan melangkah untuk mencuri perhatian di era yang penuh kebisingan ini.

Dalam dunia di mana inovasi hardware sering kali terasa repetitif, langkah Spotify untuk merambah ke perangkat fisik selalu menarik untuk disimak. Perusahaan streaming raksasa ini memang belum meluncurkan speaker pintar dengan brand sendiri, tetapi mereka telah beberapa kali berkolaborasi. Sebelumnya, Spotify bekerja sama dengan Ikea pada tahun 2022 untuk menciptakan lampu speaker portabel dengan fungsi Spotify Tap. Mereka juga pernah mencoba peruntungan dengan “Car Thing”, perangkat hiburan dalam mobil yang sayangnya kemudian dihentikan. Kolaborasi dengan Liquid Death, merek air mineral dalam kaleng yang terkenal dengan kampanye pemasarannya yang ekstrem dan humor gelap, tampaknya adalah upaya untuk mengeksplorasi sisi yang sama sekali berbeda.

Lalu, apa sebenarnya Eternal Playlist Urn ini, dan mengapa dua merek besar memutuskan untuk menciptakannya? Apakah ini sekadar lelucon mahal, sebuah barang kolektor, atau pertanda sesuatu yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan musik dan bahkan kematian? Mari kita selami lebih jauh produk yang menggabungkan teknologi, seni, dan humor yang cukup “mematikan” ini.

Mengenal Eternal Playlist Urn: Guci yang “Hidup” dengan Musik

Eternal Playlist Urn pada dasarnya adalah sebuah speaker Bluetooth yang dibungkus dalam desain guci abu klasik. Dengan dimensi 7 inci kali 11,4 inci, guci ini tidak benar-benar dimaksudkan untuk menyimpan abu jenazah, melainkan menjadi barang kolektor eksklusif. Hanya 150 unit yang tersedia untuk dijual di Amerika Serikat dengan harga yang tidak main-main: $495 atau setara dengan jutaan rupiah. Nilai jual utamanya terletak pada konsepnya: “guci streaming musik pertama di dunia” yang bertujuan membuat kematian “jauh lebih tidak membosankan”, menurut pernyataan Spotify.

Speaker Bluetooth tersebut dipasang di bagian tutup guci. Meskipun Spotify mengklaim ini sebagai cara untuk membawa musik ke tempat yang belum pernah didatanginya, kualitas audio menjadi pertanyaan besar. Bagaimana mungkin menjejalkan semua teknologi speaker ke dalam tutup guci yang kecil dapat menghasilkan suara yang optimal? Ini menjadi salah satu titik kritis yang mungkin diabaikan demi nilai konseptual dan humornya. Ide dasarnya adalah agar almarhum dapat terus menikmati lagu favorit mereka untuk keabadian, atau setidaknya itu adalah lelucon yang diusung perusahaan.

Pengalaman Personalisasi: Menciptakan “Vibe Abadi” Anda Sendiri

Yang menarik dari produk ini bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi pengalaman digital yang menyertainya. Setelah membeli guci ini, pemilik dapat membuat “Eternal Playlist” mereka sendiri di Spotify dengan menjawab serangkaian pertanyaan unik seperti “Apa ‘vibe abadi’ Anda?” atau “Apa ‘suara hantu andalan’ Anda?”. Spotify kemudian akan menggunakan jawaban tersebut bersama dengan riwayat mendengarkan pengguna untuk menghasilkan playlist kustom yang disinkronkan langsung ke speaker guci. Playlist ini juga dapat dibagikan kepada keluarga dan teman, menciptakan warisan musik yang personal.

Fitur personalisasi ini mengingatkan pada tren AI yang semakin merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk hiburan. Seperti halnya Fitur AI yang dipamerkan dalam event besar, teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman yang lebih intim dan relevan bagi pengguna. Dalam konteks Eternal Playlist Urn, AI berperan sebagai kurator untuk soundtrack kehidupan—dan mungkin kehidupan setelahnya—seseorang.

Strategi Pemasaran Ekstrem Liquid Death dan Jejak Spotify di Hardware

Kolaborasi ini tidak terlepas dari reputasi Liquid Death sebagai merek yang gemar mendobrak batas pemasaran konvensional. Mereka terkenal dengan kampanye yang outrageous, salah satunya adalah cooler berbentuk peti mati Yeti raksasa yang pernah dilelang. Cooler tersebut menarik lebih dari 800 penawar dan terjual dengan harga fantastis, $68.200. Eternal Playlist Urn adalah kelanjutan dari narasi itu—mengambil tema yang dianggap tabu (kematian) dan mengemasnya dengan humor gelap serta produk yang bisa digunakan (atau setidaknya dipajang).

Di sisi lain, bagi Spotify, ini adalah langkah strategis lainnya dalam eksplorasi dunia hardware tanpa harus menanggung risiko penuh pengembangan produk mandiri. Setelah kolaborasi dengan Ikea dan kegagalan Car Thing, kolaborasi dengan Liquid Death memungkinkan Spotify untuk tetap hadir dalam percakapan seputar perangkat fisik dan pengalaman musik yang unik, dengan modal risiko yang lebih terkendali. Ini adalah pola yang juga terlihat di perusahaan teknologi lain, seperti upaya kolaborasi hardware untuk menciptakan perangkat wearable inovatif.

Pertanyaannya, apakah pasar siap menerima produk dengan humor yang begitu “morbid”? Tampaknya, bagi segmen tertentu yang menyukai komedi gelap dan barang-barang koleksi limited edition, jawabannya adalah iya. Produk ini tidak ditujukan untuk massa, melainkan untuk kolektor dan early adopter yang mencari sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bisa menjadi bahan pembicaraan.

Analisis: Antara Stunt Kreatif dan Pergeseran Budaya

Eternal Playlist Urn bisa dilihat dari banyak sudut pandang: sebagai aksi kreatif yang brilian, lelucon mahal, lelucon yang tidak pantas, atau sekadar absurditas belaka. Namun, di balik semua itu, produk ini adalah cermin dari beberapa tren yang lebih besar. Pertama, keinginan untuk personalisasi ekstrem, di mana bahkan playlist untuk “kehidupan setelah kematian” pun bisa disesuaikan. Kedua, blur-nya batas antara dunia digital dan fisik, diwariskan melalui perangkat yang terhubung. Ketiga, strategi merek yang menggunakan kejutan dan kontroversi sebagai alat untuk memotong kebisingan di media sosial.

Dalam ekosistem teknologi yang semakin padat, di mana aplikasi produktivitas dan perangkat pintar bersaing untuk mendapatkan perhatian kita, sebuah guci speaker mungkin adalah cara yang garang untuk berdiri sendiri. Ini juga mempertanyakan peran musik dalam hidup kita—apakah musik adalah begitu mendasar sehingga harus menyertai kita bahkan dalam konsep metaforis tentang akhirat?

Terlepas dari apakah Anda tergelitik atau terganggu oleh ide ini, satu hal yang pasti: Eternal Playlist Urn berhasil membuat orang berbicara. Ia telah menciptakan buzz media, diskusi di sosial media, dan mungkin bahkan debat filosofis ringan tentang kematian dan teknologi. Dalam hal mencapai tujuan pemasaran—yaitu menangkap perhatian—kolaborasi Spotify dan Liquid Death ini sudah mencapai garis finish dengan gemilang.

Pada akhirnya, Eternal Playlist Urn mungkin tidak akan mengubah industri speaker atau cara kita berduka. Ia adalah artefak budaya dari sebuah era di mana perhatian adalah mata uang yang paling berharga, dan merek-merek besar tidak ragu untuk bermain dengan tema-tema yang paling dalam dan gelap sekalipun untuk mendapatkannya. Ia adalah pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus serius; terkadang, ia bisa datang dengan senyuman sinis dan playlist yang dipersonalisasi untuk keabadian. Apakah Anda akan membeli satu dari 150 unit yang ada? Itu pertanyaan selera—dan mungkin, selera humor—Anda sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI