Bayangkan sebuah speaker di rumah Anda yang tidak hanya mendengar perintah suara, tetapi juga melihat sekelilingnya. Ia bisa mengidentifikasi buku yang Anda tinggalkan di meja, mengenali wajah Anda untuk otorisasi pembayaran, dan bahkan memahami konteks percakapan yang sedang berlangsung. Ini bukan adegan dari film fiksi ilmiah, melainkan gambaran dari perangkat keras pertama yang sedang dipersiapkan oleh OpenAI, raksasa kecerdasan buatan di balik ChatGPT.
Dunia perangkat AI yang terhubung langsung dengan kehidupan sehari-hari sedang memanas. Setelah kehadiran perangkat seperti AI Pin yang menuai kontroversi, dan smart glasses dari Meta yang mendominasi pasar, kini giliran OpenAI yang menunjukkan taringnya. Langkah ini menandai transisi signifikan perusahaan dari penyedia perangkat lunak berbasis cloud ke pemain di arena perangkat keras fisik—sebuah lompatan yang penuh tantangan dan risiko.
Berdasarkan laporan eksklusif dari The Information, OpenAI dikabarkan sedang mengerjakan serangkaian perangkat bertenaga AI, termasuk smart glasses, smart speaker, dan smart lamp. Dengan tim khusus beranggotakan lebih dari 200 orang, ambisi mereka jelas: membawa ChatGPT ke dalam wujud fisik yang hidup di rumah dan kantor Anda. Namun, di balik glamornya teknologi mutakhir, tersimpan sejumlah pertanyaan kritis tentang privasi, keamanan, dan apakah konsumen benar-benar siap untuk perangkat yang selalu “melihat” dan “mendengar”.
Smart Speaker Pertama OpenAI: Lebih Dari Sekadar Asisten Suara
Produk pertama yang diprediksi akan meluncur dari kandang OpenAI adalah sebuah smart speaker. Namun, jangan bayangkan ini sekadar pesaing Amazon Echo atau Google Nest. Speaker ini dilaporkan akan dilengkapi dengan kamera, sebuah fitur yang membedakannya secara fundamental. Kamera ini memungkinkan perangkat tidak hanya mendengar, tetapi juga “melihat” lingkungan dan penggunanya, sehingga dapat menyerap informasi kontekstual yang jauh lebih kaya.
Menurut sumber yang familiar dengan proyek tersebut, kemampuan visual speaker ini akan sangat mendalam. Ia dapat mengidentifikasi objek-objek di atas meja terdekat, mulai dari gelas kopi hingga remote TV. Lebih jauh lagi, perangkat ini diklaim mampu memahami percakapan yang terjadi di sekitarnya, memberikan respons atau tindakan yang lebih relevan berdasarkan konteks visual dan audio yang ditangkap. Fitur paling kontroversial yang diusung adalah sistem pengenalan wajah mirip Face ID milik Apple. Teknologi ini akan memungkinkan pengguna mengautentikasi pembelian atau akses data sensitif hanya dengan tatapan.
Dari segi harga, speaker ini diperkirakan akan dijual dengan banderol antara $200 hingga $300 (sekitar Rp 3,1 juta hingga Rp 4,7 juta). Namun, kesabaran Anda akan diuji, karena peluncuran perdana diprediksi baru akan terjadi paling cepat pada awal 2027. Timeline yang cukup panjang ini mengindikasikan kompleksitas pengembangan dan berbagai hambatan yang harus diatasi, seperti yang pernah diungkap dalam laporan mengenai kendala teknis OpenAI untuk perangkat sejenis.
Jony Ive dan Misi Desain Revolusioner
Keberadaan proyek perangkat keras OpenAI tidak lepas dari sebuah akuisisi strategis senilai $6,5 miliar pada tahun lalu. OpenAI membeli startup io Products milik Jony Ive, mantan desainer legendaris Apple yang bertanggung jawab atas estetika ikonik hampir semua produk Apple sejak era 90-an hingga kepergiannya pada 2019. Dengan akuisisi ini, Ive diproyeksikan akan memimpin pengembangan produk hardware untuk OpenAI.
Kolaborasi antara kekuatan AI OpenAI dan keahlian desain industrial Ive menjanjikan perangkat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga elegan dan diinginkan. Namun, jalan menuju peluncuran tidak mulus. Sejak kemitraan ini dibentuk, telah terjadi sejumlah penundaan yang disebabkan oleh isu teknis, kekhawatiran privasi, dan masalah logistik terkait daya komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan perangkat AI yang diproduksi massal. Kendala serupa juga dijelaskan lebih detail dalam artikel tentang hambatan teknis OpenAI dan Jony Ive.
Pertanyaannya, apakah sentuhan magis Ive yang dulu berhasil dengan iPod dan iPhone dapat mengulangi kesuksesan di era AI yang sarat dengan isu pengawasan data? Tantangannya kini jauh lebih kompleks daripada sekadar membuat perangkat yang tipis dan cantik.
Baca Juga:
Roadmap Produk: Dari Smart Glasses hingga Lampu Pintar
Smart speaker hanyalah pembuka. Peta jalan produk OpenAI mencakup perangkat yang lebih ambisius. Smart glasses yang ditenagai AI dikabarkan sedang dalam pengembangan, meski jadwal peluncurannya lebih panjang lagi, yaitu sekitar tahun 2028. Ini akan membawa OpenAI berhadapan langsung dengan Meta, yang saat ini mendominasi pasar kacamata pintar dengan Ray-Ban Meta.
Selain itu, perusahaan juga telah membuat purwarupa untuk sebuah smart lamp atau lampu pintar. Namun, nasib produk ini masih belum jelas dan belum dipastikan apakah akan benar-benar diluncurkan ke pasar. Keberagaman produk ini menunjukkan bahwa OpenAI tidak ingin setengah-setengah. Mereka sedang membangun sebuah ekosistem perangkat AI, mirip dengan bagaimana Apple membangun ekosistemnya, namun dengan AI sebagai inti dari setiap interaksi.
Strategi ini juga terlihat pada pemain lain yang berusaha mengintegrasikan AI ke dalam perangkat sehari-hari, seperti Samsung TV 2025 yang mendapatkan Perplexity AI. Persaingan untuk menjadi “pintu gerbang AI” di rumah Anda semakin sengit.
Ujian Terberat: Kepercayaan dan Privasi Pengguna
Di balik semua teknologi canggih dan desain yang memukau, terdapat satu tantangan terbesar yang mungkin sulit diatasi bahkan oleh kombinasi OpenAI dan Jony Ive: kepercayaan konsumen. Masyarakatakat semakin sadar dan kritis terhadap isu privasi data. Perangkat yang dilengkapi kamera dan mikrofon yang selalu aktif, dengan kemampuan mengenali wajah dan menganalisis percakapan, adalah resep yang sempurna untuk memicu kekhawatiran.
Bagaimana data visual dan audio tersebut diproses, disimpan, dan dilindungi? Siapa yang memiliki akses terhadapnya? Dapatkah fitur pengawasan ini dinonaktifkan sepenuhnya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan bergema di benak calon pembeli. OpenAI, yang telah menghadapi berbagai kontroversi terkait governance AI, harus membangun transparansi dan keamanan yang luar biasa jika ingin produk fisiknya diterima.
Pada akhirnya, kesuksesan perangkat keras OpenAI tidak hanya akan diukur dari kecerdasan buatannya atau keindahan desainnya, tetapi dari seberapa besar kepercayaan yang berhasil mereka tanamkan. Inovasi teknologi tanpa fondasi kepercayaan hanyalah sebuah perangkat yang canggih, namun menakutkan. Apakah Anda siap menyambut “mata” dan “telinga” AI baru di ruang tamu Anda?

