Telset.id – Jika Anda merasa linimasa media sosial belakangan ini terasa seperti “kotak hitam” yang menyodorkan konten acak tanpa henti, Anda tidak sendirian. Algoritma sering kali menjadi misteri terbesar bagi pengguna, namun Meta baru saja melakukan langkah yang cukup mengejutkan untuk mengubah dinamika tersebut. Fitur Dear Algo Threads kini resmi diperkenalkan, mengubah keluhan pengguna yang dulunya hanya sekadar meme menjadi sebuah alat kontrol nyata yang fungsional.
Selama ini, pengguna Threads—platform mikroblogging besutan Meta—kerap menyuarakan frustrasi mereka terhadap rekomendasi konten yang dianggap tidak relevan. Kritik ini perlahan berevolusi menjadi tren unik di mana pengguna menulis postingan yang seolah-olah berbicara langsung kepada algoritma, memohon agar disuguhkan topik yang mereka sukai. Siapa sangka, kebiasaan unik ini justru ditangkap oleh tim pengembang Meta sebagai peluang inovasi.
Kini, Meta mengubah postingan “Dear algorithm” atau “Dear algo” tersebut menjadi fitur resmi yang memungkinkan pengguna Threads untuk menyetel rekomendasi mereka secara real-time. Mekanisme ini memberikan agensi lebih besar kepada manusia di balik layar gawai, menggeser dominasi mesin dalam menentukan apa yang layak kita konsumsi setiap harinya. Ini adalah langkah berani yang jarang dilakukan oleh raksasa teknologi, mengingat algoritma biasanya dijaga ketat sebagai rahasia perusahaan.
Mekanisme Unik Mengontrol Feed
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja tanpa konteks. Sejak awal kemunculan platform ini, banyak pengguna merasa kesulitan menemukan konten yang benar-benar sesuai dengan minat spesifik mereka. Keluhan ini kemudian melahirkan budaya meme, di mana pengguna menulis status dengan awalan “dear algo” sebagai bentuk protes jenaka. Meta, melihat pola interaksi ini, memutuskan untuk memvalidasi perilaku tersebut menjadi sebuah fitur fungsional.
Cara kerjanya terbilang sederhana namun brilian. Pengguna kini dapat menulis postingan yang dimulai dengan frasa “dear algo” untuk menyesuaikan preferensi mereka. Misalnya, jika Anda ingin melihat lebih banyak konten hewan peliharaan yang menggemaskan, Anda cukup mengetik: “dear algo, show me more posts about cute cats.” Sistem akan membaca perintah teks tersebut sebagai sinyal eksplisit untuk mengubah komposisi feed Anda.
Tidak hanya untuk meminta konten yang disukai, fitur ini juga berfungsi sebagai filter negatif. Anda dapat meminta algoritma untuk mengurangi atau menghentikan penayangan topik tertentu. Contohnya, pengguna bisa menulis “dear algo, stop showing me posts about sick pets” jika konten semacam itu dirasa mengganggu atau memicu kesedihan. Kemampuan untuk melakukan kurasi negatif ini sangat penting di tengah membanjirnya informasi di media sosial, di mana Moderasi Konten sering kali menjadi isu pelik bagi platform besar.
Fleksibilitas ini juga mencakup interaksi antar pengguna. Anda bahkan bisa membagikan ulang (repost) postingan “dear algo” milik orang lain, dan sistem akan menganggapnya sebagai sinyal bahwa Anda juga menginginkan penyesuaian topik yang serupa di feed Anda sendiri. Ini menciptakan efek komunitas yang menarik, di mana preferensi konten bisa menular secara organik antar pengguna.
Baca Juga:
Durasi Tiga Hari: Menjaga Kesegaran Konten
Satu aspek paling menarik dari fitur ini adalah sifatnya yang sementara. Meta menetapkan bahwa permintaan melalui “dear algo” hanya akan berlaku selama tiga hari. Keputusan ini mungkin terdengar membatasi, namun sebenarnya memiliki landasan logis yang kuat dalam desain pengalaman pengguna (UX). Meta menyatakan bahwa batasan waktu ini dimaksudkan agar algoritma tetap terasa segar dan fleksibel.
Bayangkan jika preferensi Anda terkunci selamanya pada satu topik; feed Anda akan dengan cepat menjadi membosankan dan repetitif. Dengan membatasi durasi efek “dear algo”, Threads mendorong pengguna untuk terus mengeksplorasi minat baru atau memperbarui preferensi mereka secara berkala. Ini mencegah terbentuknya echo chamber atau ruang gema yang terlalu kaku, masalah yang sering dihadapi oleh platform pesaing.
Pengguna juga diberikan transparansi penuh atas permintaan mereka. Anda dapat melacak semua request “dear algo” yang pernah dibuat melalui menu pengaturan aplikasi. Di sana, pengguna memiliki opsi untuk meninjau kembali perintah yang aktif atau menghapusnya jika berubah pikiran sebelum masa tiga hari berakhir. Transparansi semacam ini sejalan dengan upaya perusahaan belakangan ini, seperti saat mereka merilis Fitur Baru untuk transparansi akun, yang menunjukkan komitmen Meta untuk memberikan kendali lebih besar kepada basis penggunanya.
Evolusi Interaksi Manusia dan Mesin
Langkah Meta ini menandai pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam cara kita berinteraksi dengan media sosial. Biasanya, algoritma belajar dari sinyal implisit: apa yang kita klik, berapa lama kita menonton video, atau siapa yang kita ikuti. Namun, sinyal implisit sering kali bias atau salah tafsir. Anda mungkin mengklik sebuah berita kontroversial bukan karena menyukainya, tapi karena penasaran, namun algoritma sering mengartikannya sebagai minat mendalam.
Dengan fitur “Dear Algo”, Threads memperkenalkan sinyal eksplisit berbasis teks natural. Ini adalah bentuk komunikasi langsung antara pengguna dan mesin. Fenomena ini menarik karena memanusiakan teknologi; pengguna berbicara kepada “algo” layaknya berbicara kepada asisten pribadi atau kurator majalah. Hal ini tentu berbeda dengan pendekatan Aplikasi Pesaing seperti TikTok yang sangat bergantung pada kecepatan scroll dan retensi tontonan tanpa banyak input verbal dari pengguna.
Peluncuran fitur ini mengikuti serangkaian pengujian terbatas yang dilakukan akhir tahun lalu. Saat ini, postingan “dear algo” baru akan berfungsi bagi pengguna Threads di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Namun, Meta telah mengonfirmasi bahwa ekspansi ke lebih banyak negara akan segera dilakukan dalam waktu dekat (“soon”).
Tantangan dan Masa Depan Threads
Meskipun inovatif, fitur ini bukan tanpa tantangan. Mengandalkan input teks pengguna berarti sistem pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP) Meta harus bekerja ekstra keras untuk memahami nuansa, sarkasme, atau konteks budaya dari setiap permintaan. Kesalahan interpretasi masih mungkin terjadi, namun dengan batasan waktu tiga hari, dampaknya tidak akan permanen.
Selain itu, fitur ini hadir di saat Meta sedang gencar-gencarnya melakukan penyesuaian pada ekosistem Threads. Belum lama ini, muncul kabar bahwa perusahaan menghentikan insentif finansial tertentu bagi kreator, yang memicu pertanyaan tentang keberlanjutan konten berkualitas di platform tersebut. Anda bisa membaca analisis mendalam mengenai hal ini dalam artikel tentang dampak penghentian Program Bonus bagi kreator.
Apakah fitur “Dear Algo” akan cukup kuat untuk membuat pengguna betah berlama-lama di Threads? Waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: Meta sedang mencoba pendekatan yang lebih humanis. Mereka menyadari bahwa di balik jutaan data poin, ada manusia yang ingin didengar—bahkan jika mereka hanya berbicara kepada sebuah algoritma.
Bagi pengguna di Indonesia, kita mungkin harus bersabar sedikit lagi sebelum bisa menyapa “dear algo” secara langsung. Namun, kehadiran fitur ini memberikan harapan bahwa masa depan media sosial tidak harus selalu didikte oleh mesin yang dingin, melainkan bisa menjadi kolaborasi antara kecerdasan buatan dan keinginan manusia yang dinamis. Ini adalah langkah kecil untuk kode pemrograman, namun langkah besar untuk kenyamanan berselancar di dunia maya.

