Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jadinya jika dua raksasa hiburan terbesar di dunia memutuskan untuk bersatu di bawah satu atap? Itulah yang sedang terjadi—atau setidaknya direncanakan terjadi—antara Netflix dan Warner Bros. Discovery. Namun, jalan menuju kesepakatan senilai miliaran dolar ini tampaknya tidak semulus jalan tol. Kabar terbaru yang beredar justru mengindikasikan adanya “polisi tidur” besar yang dipasang oleh regulator Amerika Serikat, yang bisa saja mengguncang fondasi kesepakatan ini.
Dalam sebuah langkah yang mengejutkan banyak pengamat industri, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) dilaporkan telah memulai penyelidikan mendalam terhadap rencana pembelian Warner Bros. Discovery oleh Netflix. Ini bukan sekadar tinjauan administratif biasa. Laporan awal dari The Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan bahwa DOJ secara spesifik tertarik untuk menelusuri apakah raksasa streaming ini terlibat dalam praktik antipersaingan. Situasi ini tentu memicu spekulasi liar di kalangan investor dan penikmat film: apakah mega-merger ini akan berhasil, atau justru kandas di tengah jalan?
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan industri hiburan, angka yang dipertaruhkan di sini sungguh mencengangkan. Netflix mengumumkan rencana akuisisi ini pada bulan Desember lalu dengan nilai fantastis mencapai USD 82,7 miliar (sekitar Rp 1.100 triliun lebih). Namun, dengan masuknya DOJ ke dalam gelanggang, narasi tentang dominasi pasar dan potensi monopoli mulai mencuat ke permukaan. Apakah ini tanda bahaya bagi Netflix, atau hanya prosedur standar yang harus dilalui setiap korporasi raksasa?
Mengendus Aroma Monopoli
Inti dari investigasi ini terletak pada kecurigaan regulator terhadap perilaku bisnis Netflix. Berdasarkan informasi mengenai civil subpoena atau panggilan sipil yang dilihat oleh WSJ, Departemen Kehakiman sedang mencari bukti adanya “perilaku eksklusioner” dari pihak Netflix. Dalam bahasa hukum yang lebih sederhana, mereka ingin tahu apakah Netflix melakukan tindakan yang secara wajar tampak mampu memperkuat kekuatan pasar atau menciptakan monopoli yang tidak sehat.
Penyelidikan ini menyoroti kekhawatiran bahwa Netflix mungkin menggunakan posisinya yang dominan untuk menekan kompetisi. Jika terbukti, ini bisa menjadi Drama Netflix yang jauh lebih menegangkan daripada serial orisinal mereka sendiri. DOJ memiliki kewenangan penuh untuk memblokir transaksi jika mereka menemukan bukti bahwa kesepakatan ini akan menempatkan pesaing pada posisi yang tidak adil secara signifikan.
Langkah ini bisa menjadi sinyal pendekatan baru dari agensi tersebut dalam menangani merger perusahaan teknologi dan media besar. Fokus mereka bukan hanya pada ukuran perusahaan setelah bergabung, melainkan pada apakah proses menuju ke sana melibatkan strategi yang “mematikan” lawan secara tidak sportif. Ini adalah pertaruhan besar, mengingat lanskap streaming saat ini sudah sangat padat dan kompetitif.
Respons Kubu Netflix: “Ini Prosedur Standar”
Di sisi lain meja perundingan, Netflix berusaha meredam kepanikan pasar dengan nada yang tenang dan terkendali. Steven Sunshine, pengacara yang mewakili Netflix, menyampaikan kepada WSJ bahwa penyelidikan ini adalah praktik standar. Ia menegaskan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan atau melihat tanda-tanda lain bahwa DOJ sedang melakukan investigasi monopolisasi yang terpisah dan spesifik di luar tinjauan merger biasa.
Dalam pernyataan resminya, Netflix juga menekankan bahwa mereka sedang “terlibat secara konstruktif” dengan Departemen Kehakiman. Mereka membingkai proses ini sebagai bagian dari tinjauan standar atas usulan Rencana Akuisisi Warner Bros. Narasi yang dibangun oleh Netflix jelas: tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini hanyalah birokrasi yang harus dijalani.
Baca Juga:
Sikap percaya diri Netflix ini menarik untuk dicermati. Apakah mereka benar-benar yakin bersih dari praktik antipersaingan, atau ini strategi komunikasi untuk menjaga harga saham tetap stabil di tengah ketidakpastian? Yang jelas, pernyataan Steven Sunshine menyiratkan bahwa Netflix memandang permintaan data dari DOJ sebagai formalitas belaka, bukan ancaman eksistensial terhadap kesepakatan tersebut.
Jalan Panjang Menuju Kesepakatan
Terlepas dari optimisme Netflix atau kecurigaan DOJ, satu hal yang pasti adalah kesepakatan ini tidak akan selesai dalam waktu dekat. Ketika diumumkan, transaksi ini diperkirakan akan memakan waktu 12 hingga 18 bulan untuk ditutup, tergantung pada persetujuan peraturan yang diperlukan. Nilai Akuisisi yang mencapai USD 82,7 miliar membuat setiap langkah harus diperiksa dengan kaca pembesar oleh regulator.
Menurut laporan WSJ, investigasi ini masih dalam tahap awal. Proses pengumpulan bukti, wawancara, dan analisis hukum bisa memakan waktu hingga satu tahun penuh. Ini berarti, nasib penggabungan konten raksasa seperti Harry Potter, DC Universe, dan katalog masif Netflix masih terombang-ambing dalam ketidakpastian hukum untuk waktu yang cukup lama.
Bagi Anda, para penikmat film, ini berarti kita masih harus menunggu sebelum melihat dampak nyata dari merger ini—jika memang terjadi. Apakah perpustakaan konten akan semakin lengkap, atau justru biaya langganan yang akan meroket karena kurangnya kompetisi? Investigasi DOJ ini, meskipun terdengar teknis dan membosankan, sebenarnya adalah benteng terakhir yang memastikan bahwa pasar hiburan tetap adil bagi semua pemain, dan tentu saja, bagi konsumen.
Kini bola panas ada di tangan regulator. Apakah mereka akan menemukan “bukti asap” dari praktik monopoli yang dituduhkan, ataukah Netflix akan melenggang mulus menguasai Hollywood? Waktu satu tahun ke depan akan menjadi periode krusial yang menentukan wajah industri hiburan global di masa depan.

