Telset.id – Ambisi industri semikonduktor China untuk membanjiri pasar global dengan chip memori domestik nyatanya belum cukup kuat untuk mengakhiri krisis pasokan RAM yang sedang membayangi industri teknologi, terutama karena kesenjangan teknologi manufaktur yang masih lebar dibandingkan pemain utama. Meskipun kapasitas produksi terus digenjot, realitas di lapangan menunjukkan bahwa memori buatan China belum siap menjadi solusi instan bagi kebutuhan pasar global yang semakin kompleks.
Narasi bahwa China akan segera menyelamatkan dunia dari kelangkaan komponen memori tampaknya harus dikoreksi. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan volume produksi dari pabrikan seperti ChangXin Memory Technologies (CXMT), hal tersebut tidak serta merta menutupi defisit pasokan, khususnya untuk segmen memori berkinerja tinggi yang kini menjadi tulang punggung industri AI dan komputasi modern.
Kondisi ini menegaskan bahwa kuantitas produksi semata tidak bisa menggantikan kualitas dan spesifikasi teknis yang dituntut oleh standar global saat ini. Pasar tidak hanya membutuhkan memori murah, tetapi memori yang efisien, cepat, dan kompatibel dengan arsitektur terbaru.

Kesenjangan Teknologi yang Signifikan
Masalah utama yang menghambat memori China menjadi “penyelamat” adalah ketertinggalan dalam teknologi node proses. Saat raksasa memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron sudah beralih ke produksi massal DDR5 dan HBM (High Bandwidth Memory) yang canggih untuk mendukung pemrosesan kecerdasan buatan, produsen China masih berkutat pada optimalisasi produksi DDR4 dan LPDDR4X.
Fakta ini menjadi Fakta Pahit yang harus diterima industri. Chip memori generasi lama memang masih dibutuhkan untuk perangkat entry-level atau IoT, namun margin keuntungannya tipis dan permintaannya tidak setinggi memori generasi baru. Akibatnya, membanjirnya stok DDR4 dari China justru berpotensi memicu perang harga di segmen bawah, tanpa memberikan solusi bagi kelangkaan di segmen atas.
Selain itu, tingkat yield rate atau rasio keberhasilan produksi chip yang layak jual dari wafer silikon di pabrikan China dilaporkan masih belum setabil para kompetitornya. Hal ini membuat biaya produksi per unit menjadi kurang efisien, mengurangi daya saing mereka di pasar ekspor yang sensitif terhadap harga dan kualitas.
Hambatan Sanksi dan Peralatan
Faktor eksternal berupa pembatasan akses terhadap peralatan litografi canggih (seperti mesin EUV dari ASML) menjadi tembok besar bagi China. Tanpa alat ini, mustahil bagi CXMT atau produsen lain untuk memproduksi chip memori dengan densitas tinggi yang kompetitif secara efisien. Mereka dipaksa menggunakan teknik multi-patterning dengan mesin DUV lama yang lebih rumit, mahal, dan rentan cacat produksi.
Di tengah situasi ini, kreativitas pelaku industri di negara lain justru muncul sebagai anomali menarik. Misalnya, ada laporan mengenai komunitas teknis yang mencoba Rakit RAM DDR5 sendiri untuk mengakali harga pasar yang tinggi. Fenomena ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan memori berkinerja tinggi yang belum bisa dipenuhi oleh pasokan “murah” dari China.
Baca Juga:
Dampak pada Pasar Konsumen
Bagi konsumen akhir, situasi ini berarti harga RAM untuk PC gaming, server, dan smartphone flagship kemungkinan akan tetap tinggi atau bahkan naik. Harapan bahwa masuknya pemain baru dari China akan menurunkan harga secara global tampaknya belum akan terwujud dalam waktu dekat, kecuali untuk komponen elektronik murah.
China memang terus berinovasi di sektor lain untuk mengurangi ketergantungan teknologi Barat, seperti upaya mereka mengembangkan robotika canggih yang Tantang Dominasi Amerika Serikat. Namun, dalam konteks spesifik rantai pasok memori semikonduktor, jalan menuju kemandirian penuh dan dominasi pasar masih sangat terjal.
Para analis memprediksi bahwa pasar memori global akan mengalami bifurkasi atau percabangan. Satu sisi adalah pasar legacy (teknologi lama) yang dikuasai pasokan berlimpah dari China dengan harga murah, dan sisi lain adalah pasar cutting-edge yang dikuasai trio Samsung-Hynix-Micron dengan harga premium dan pasokan ketat.
Implikasinya jelas: jangan berharap harga SSD Gen5 atau RAM DDR5 kencang akan terjun bebas hanya karena pabrik di China mulai mengepulkan asap. Krisis RAM global, khususnya di sektor high-end, adalah masalah struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah volume produksi teknologi lawas.

