Telset.id – Raksasa ritel daring asal Korea Selatan, Coupang, secara resmi menyiapkan dana kompensasi senilai 1,69 triliun won atau setara US$ 1,17 miliar (sekitar Rp18,6 triliun) bagi 34 juta pengguna yang terdampak insiden kebocoran data. Langkah mitigasi finansial ini diambil manajemen perusahaan menyusul terungkapnya celah keamanan masif yang dilaporkan pada bulan lalu.
Insiden ini menjadi salah satu kasus pelanggaran privasi data terbesar yang pernah melanda sektor e-commerce di Korea Selatan, mengingat jumlah korban mencakup sebagian besar populasi digital di negara tersebut. Keputusan untuk mengalokasikan dana triliunan won ini menunjukkan tekanan besar yang dihadapi Coupang untuk memulihkan kepercayaan publik serta mematuhi standar keamanan data yang berlaku.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi industri teknologi global mengenai pentingnya infrastruktur keamanan siber yang tangguh. Di tengah persaingan teknologi yang ketat, aspek perlindungan data konsumen menjadi fondasi utama dalam menjaga Kedaulatan Digital sebuah platform.

Dana kompensasi tersebut dialokasikan untuk menanggulangi kerugian yang dialami pengguna serta biaya pemulihan sistem keamanan perusahaan. Skala kebocoran yang mencapai 34 juta akun pengguna menuntut respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga substansial secara finansial. Hal ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan teknologi makin diawasi ketat terkait pengelolaan big data.
Baca Juga:
Pihak Coupang belum merinci mekanisme distribusi kompensasi kepada para pengguna, namun besaran angka 1,69 triliun won tersebut mencerminkan seriusnya dampak insiden ini. Dalam lanskap teknologi yang berkembang pesat, insiden seperti ini sering kali memicu diskusi lebih luas mengenai perlunya Regulasi AI dan tata kelola data yang lebih rigid untuk mencegah penyalahgunaan informasi sensitif.
Kejadian ini juga menyoroti kerentanan platform digital besar terhadap serangan siber, bahkan bagi pemain utama di pasar yang sudah matang seperti Korea Selatan. Bagi regulator dan pelaku industri, kasus Coupang menjadi studi kasus mahal tentang risiko operasional bisnis digital skala besar. Di sisi lain, respons cepat dalam bentuk kompensasi finansial diharapkan dapat meredam potensi tuntutan hukum class action yang lebih besar di kemudian hari.
Sebagai penutup, insiden ini menegaskan bahwa investasi dalam keamanan siber bukan lagi sekadar opsi, melainkan kewajiban mutlak. Kegagalan dalam melindungi data pengguna tidak hanya berdampak pada reputasi, tetapi juga memiliki konsekuensi finansial yang sangat nyata dan memberatkan neraca perusahaan.

