Scroll Terus Sampai Lupa Waktu? Uni Eropa Siap ‘Matikan’ Fitur Candu TikTok Ini!

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Pernahkah Anda membuka aplikasi TikTok hanya untuk mengecek satu video, namun tersadar dua jam kemudian dengan mata lelah dan ibu jari yang pegal? Fenomena “hilang waktu” ini bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil dari rancangan algoritma yang presisi. Jutaan pengguna di seluruh dunia telah terjerat dalam kenyamanan semu ini, menikmati sajian konten tanpa henti yang seolah mengerti apa yang kita inginkan bahkan sebelum kita memintanya. Namun, kenyamanan tersebut kini berada di ujung tanduk setelah regulator Eropa memutuskan untuk mengambil langkah tegas.

Uni Eropa, melalui Komisi Eropa, baru saja mengeluarkan temuan awal yang mengejutkan sekaligus melegakan bagi sebagian pihak. Mereka menyatakan bahwa TikTok telah melanggar Digital Services Act (DSA) atau Undang-Undang Layanan Digital. Inti dari pelanggaran ini terletak pada desain aplikasi yang dinilai “adiktif”. Fitur-fitur andalan yang selama ini menjadi kunci kesuksesan TikTok dalam menggaet pengguna global, kini justru menjadi senjata makan tuan yang dianggap ilegal oleh regulator benua biru tersebut.

Langkah ini bukan sekadar peringatan administratif biasa. Komisi Eropa menyoroti bahwa raksasa media sosial tersebut gagal membangun perlindungan yang memadai untuk mencegah fitur-fitur adiktifnya merusak kesejahteraan fisik dan mental pengguna, terutama anak di bawah umur. Jika temuan awal ini terbukti valid dalam proses selanjutnya, TikTok mungkin dipaksa untuk merombak total cara kerja aplikasinya, mulai dari sistem rekomendasi hingga fitur gulir tanpa batas yang ikonik itu.

Jebakan “Autopilot” dan Manipulasi Psikologis

Dalam rilis persnya, regulator Uni Eropa menyoroti mekanisme psikologis yang dimainkan oleh TikTok. Mereka menemukan bahwa desain aplikasi ini secara konstan memberikan “hadiah” kepada pengguna berupa konten baru yang menarik. Mekanisme ini memicu dorongan tak tertahankan untuk terus melakukan scrolling, sebuah perilaku yang oleh para ahli disebut dapat menggeser otak pengguna ke dalam “mode autopilot”.

Kondisi autopilot ini berbahaya karena menurunkan kontrol diri pengguna secara drastis. Riset ilmiah yang dikutip oleh regulator menunjukkan bahwa desain semacam ini dapat memicu perilaku kompulsif. Ini bukan lagi soal hiburan, melainkan tentang bagaimana sebuah platform digital memanfaatkan kerentanan psikologis manusia untuk mempertahankan atensi selama mungkin. Bagi Anda yang merasa sulit lepas dari gawai, ini adalah validasi bahwa masalahnya bukan hanya pada disiplin diri Anda, tapi pada sistem yang memang dirancang untuk membuat Anda tidak bisa berhenti.

Kekhawatiran mengenai dampak psikologis ini sebenarnya bukan hal baru. Di belahan dunia lain, isu serupa juga sedang menjadi sorotan hukum. Misalnya, bagaimana Krisis Mental remaja kini menjadi dasar tuntutan hukum serius terhadap berbagai platform media sosial besar.

Fitur-Fitur yang “Dibidik” Eropa

Komisi Eropa secara spesifik menyebutkan beberapa fitur yang menjadi biang kerok masalah ini. Fitur-fitur tersebut meliputi infinite scroll (gulir tanpa batas), autoplay (pemutaran otomatis), push notifications, dan sistem rekomendasi yang sangat terpersonalisasi. Kombinasi dari elemen-elemen ini menciptakan lingkaran umpan balik yang sulit diputus oleh pengguna, terutama mereka yang masih di bawah umur.

Meskipun TikTok telah menyediakan fitur kontrol orang tua dan pembatasan waktu layar, Komisi Eropa menilai langkah tersebut “tidak memadai”. Regulator berpendapat bahwa perlindungan yang ada saat ini belum cukup kuat untuk menahan gempuran algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Akibatnya, TikTok mungkin akan diwajibkan untuk memodifikasi fitur-fitur inti tersebut, atau bahkan membatasi penggunaan infinite scroll di wilayah Eropa.

Tekanan untuk mengubah mekanisme inti aplikasi media sosial semakin menguat secara global. Tidak hanya TikTok, platform lain pun mulai berbenah atau dipaksa berbenah. Sebagai contoh, beberapa platform mulai memperkenalkan fitur pengingat waktu untuk membantu pengguna Atasi Kecanduan doomscrolling, meskipun efektivitasnya masih sering diperdebatkan.

Ancaman Sanksi Finansial Menggunung

Investigasi yang telah dibuka sejak Februari 2024 ini tidak main-main. Selain masalah desain adiktif, Eropa juga telah menemukan kesalahan TikTok dalam praktik berbagi data dan transparansi periklanan. Jika pada akhirnya dinyatakan bersalah melanggar DSA, TikTok menghadapi ancaman denda yang sangat masif, yakni hingga enam persen dari total perputaran uang tahunan mereka di seluruh dunia.

Angka tersebut tentu bukan jumlah yang sedikit, bahkan untuk perusahaan sekelas ByteDance. Tekanan regulasi semacam ini juga terjadi pada raksasa teknologi lain. Kita bisa melihat preseden di mana pengadilan memerintahkan perubahan algoritma, seperti kasus yang memaksa Meta untuk Ubah Timeline demi privasi dan keamanan data pengguna.

Perlawanan Keras dari TikTok

Merespons tuduhan berat ini, TikTok tidak tinggal diam. Perusahaan tersebut menyatakan akan menggunakan “segala cara yang tersedia” untuk menantang temuan Komisi Eropa. Dalam pernyataannya kepada The New York Times, TikTok menyebut temuan awal komisi tersebut sebagai gambaran yang “secara kategoris salah dan sama sekali tidak berdasar” mengenai platform mereka.

TikTok kini memiliki kesempatan untuk memberikan pembelaan dan menyanggah temuan-temuan tersebut sebelum keputusan final dibuat. Pertarungan hukum ini diprediksi akan berlangsung alot, mengingat taruhannya adalah model bisnis inti TikTok yang bergantung pada tingginya durasi penggunaan aplikasi.

Di tengah ketidakpastian ini, lanskap media sosial terus berubah. Beberapa pengguna mungkin mulai merasa jenuh dan mencari alternatif lain, fenomena yang terlihat dari bagaimana Aplikasi UpScrolled mulai dilirik. Selain itu, perkembangan teknologi AI yang pesat, seperti bocoran fitur pada Sora 2 OpenAI, juga menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi regulator di masa depan.

Kasus ini menjadi titik balik penting dalam hubungan antara regulator pemerintah dan raksasa teknologi. Apakah kita akan melihat akhir dari era infinite scroll? Atau akankah TikTok berhasil membuktikan bahwa desain mereka aman? Satu hal yang pasti, diskusi mengenai kesehatan digital kini telah masuk ke ranah hukum yang serius, dan hasilnya akan memengaruhi cara kita berselancar di dunia maya selamanya.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI