Telset.id – CEO OpenAI, Sam Altman, secara terbuka mengakui bahwa perusahaannya kini mulai “menginjak rem” dalam hal penambahan karyawan baru. Dalam sebuah pertemuan town hall yang disiarkan langsung baru-baru ini, Altman mengungkapkan rencana untuk memperlambat laju rekrutmen secara dramatis seiring dengan kondisi keuangan perusahaan yang terus membakar miliaran dolar setiap kuartalnya. Ironisnya, pengakuan ini muncul bersamaan dengan ambisi OpenAI yang berkomitmen menggelontorkan dana lebih dari USD 1 triliun untuk membangun pusat data raksasa, sebuah pertaruhan besar di tengah fundamental bisnis yang dinilai masih tertinggal.
Pernyataan Altman ini menyoroti kontradiksi tajam dalam strategi OpenAI saat ini. Di satu sisi, perusahaan menghadapi realitas finansial yang menuntut efisiensi ketat, namun di sisi lain, mereka terus memompa narasi futuristik mengenai dominasi AI. Di tengah ketidakpastian ini, Altman tetap mempertahankan sikap optimisnya—atau mungkin defensif—mengenai dampak teknologi buatannya terhadap ekonomi global di masa depan.
Ketika ditanya mengenai potensi kecerdasan buatan untuk menyelesaikan kesenjangan ekonomi yang telah berlangsung selama beberapa dekade, eksekutif teknologi tersebut berdalih bahwa AI akan memberikan dampak “deflasi masif.” Menurutnya, kemajuan dalam pekerjaan komputasi, robotika, dan sektor lainnya akan menciptakan tekanan deflasi yang signifikan, membuat biaya hidup menjadi jauh lebih murah.
Argumen ini didasarkan pada premis bahwa AI akan meningkatkan produktivitas individu secara drastis. Altman memprediksi bahwa pada akhir tahun ini, seseorang yang menghabiskan USD 1.000 untuk biaya inferensi—biaya operasional menjalankan AI—dapat menyelesaikan sebuah perangkat lunak dalam waktu singkat. Tugas semacam ini, menurut klaimnya, sebelumnya membutuhkan satu tim penuh dan waktu yang jauh lebih lama untuk diselesaikan.
Baca Juga:
Prediksi Altman mengenai “uang yang menjadi lebih berharga” akibat deflasi yang didorong AI bukanlah hal baru. Sebelumnya, dalam konferensi tertutup Morgan Stanley pada bulan Maret lalu, ia juga melontarkan klaim serupa. Narasi mengenai era “kelimpahan” (abundance)—di mana biaya hidup menurun drastis dan manusia bisa memilih untuk tidak bekerja—telah lama menjadi senjata para pemimpin teknologi, termasuk Elon Musk dari xAI, untuk memanaskan siklus hype AI.
Namun, janji manis tersebut terasa seperti mimpi di siang bolong jika disandingkan dengan realitas ekonomi saat ini. Faktanya, teknologi AI masih sangat jauh dari kemampuan meningkatkan efisiensi yang cukup signifikan untuk mengimbangi inflasi. Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) bahkan baru saja memutuskan untuk menahan suku bunga tetap stabil, mengutip kekhawatiran berkelanjutan atas inflasi yang masih “meningkat”.
Alih-alih menurunkan harga, kehadiran AI justru lebih sering dikaitkan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mempersulit kelangsungan hidup pekerja. Data menunjukkan bahwa pengangguran jangka panjang telah mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir, sementara para pencari kerja kesulitan mendapatkan posisi baru. Biaya hidup, terutama di kota-kota besar AS, terus merangkak naik, berlawanan dengan janji “radikal murah” yang didengungkan Altman.
Skeptisisme terhadap klaim Altman semakin menguat dengan adanya temuan dari para peneliti yang menunjukkan bahwa AI, dalam bentuknya saat ini, sebagian besar gagal mendongkrak produktivitas secara nyata. Berbagai survei bahkan menemukan tren yang meresahkan: jumlah orang yang menggunakan AI di tempat kerja justru menurun. Hal ini bertolak belakang dengan janji Putus Kerja Sama yang sering digemborkan para pemimpin teknologi.
Banyak pekerja berpendapat bahwa teknologi ini pada dasarnya tidak berguna bagi mereka, meskipun atasan mereka bersikeras bahwa itu adalah teknologi revolusioner pendorong produktivitas. Bagi para kritikus, AI dianggap sebagai jalan buntu. Beberapa pihak bahkan berargumen bahwa OpenAI sendiri mungkin hanyalah sebuah “rumah kartu” yang rentan runtuh jika terjadi penarikan dana besar-besaran atau krisis kepercayaan.
Altman sendiri tampaknya tidak berhenti pada klaim ekonomi. Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan berargumen bahwa AI dapat menyembuhkan kanker, menyelesaikan masalah perubahan iklim, dan meringankan kesulitan finansial melalui konsep “kesehatan ekstrem universal.” Senada dengan itu, Elon Musk pernah meramalkan masa depan tanpa kemiskinan di mana menabung tidak lagi diperlukan, sementara CEO Anthropic, Dario Amodei, berpendapat manusia akan bekerja jauh lebih sedikit berkat AI.
Ini adalah pertaruhan yang sangat besar. Altman dan rekan-rekannya di industri teknologi masih harus membuktikan banyak hal karena realitas terus tertinggal di belakang janji-janji muluk mereka. Bahkan, Altman sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin bahwa “kelimpahan mendadak” ini akan berdampak baik bagi rata-rata orang tanpa adanya regulasi yang tepat.
“Kelimpahan yang jauh lebih besar dan akses serta biaya yang jauh lebih rendah untuk dapat menciptakan hal-hal baru… Saya pikir itu harus menjadi kekuatan penyeimbang dalam masyarakat,” ujar Altman. Namun, ia juga memberikan peringatan serius: “Selama kita tidak mengacaukan kebijakan di sekitarnya secara besar-besaran, yang mana itu bisa saja terjadi.” Sebuah pengakuan risiko yang cukup jujur di tengah gelombang investasi Investasi AI global yang semakin dipertanyakan efektivitasnya.

