Warga RI Juara Kecanduan Layar HP di ASEAN, Kalahkan AS

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Pernahkah Anda menghitung berapa kali Anda membuka kunci layar smartphone dalam satu jam terakhir? Jika rasanya tangan Anda tak bisa lepas dari perangkat tersebut, Anda tidak sendirian. Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan sebuah fakta statistik yang baru saja terungkap. Data terbaru menunjukkan bahwa perilaku digital masyarakat kita telah mencapai titik yang mencengangkan, bahkan menempatkan nama Indonesia di puncak daftar regional dalam hal durasi penggunaan perangkat seluler.

Laporan komprehensif dari firma riset pasar ternama, Sensor Tower, menyingkap realitas digital tahun 2025 yang mungkin membuat kita terperangah. Sepanjang tahun lalu, tercatat masyarakat global menghabiskan total waktu yang fantastis, yakni 5,3 triliun jam di depan layar HP. Angka ini mencakup penggunaan pada ekosistem Android maupun iOS. Jika dirata-rata, penduduk bumi menghabiskan waktu sekitar 3,6 jam setiap harinya hanya untuk kegiatan scrolling dan berinteraksi dengan aplikasi. Terjadi pertumbuhan year-on-year (YoY) sebesar 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan bahwa ketergantungan manusia terhadap gawai belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Namun, sorotan utama justru tertuju pada posisi Indonesia dalam peta digital dunia. Kita tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam urusan konsumsi konten digital. Berdasarkan data yang dirilis pada Senin (26/1/2026), Indonesia resmi masuk dalam jajaran “Top 3” negara yang paling kecanduan layar HP di seluruh dunia. Sepanjang tahun 2025, warga +62 tercatat menghabiskan waktu akumulatif sebanyak 414 miliar jam untuk menjajal berbagai aplikasi. Angka ini bukan sekadar statistik kosong, melainkan cerminan betapa lekatnya kehidupan sehari-hari masyarakat kita dengan teknologi mobile yang ada dalam genggaman.

Dominasi Indonesia dan Peta Persaingan Global

Dalam kancah global, posisi Indonesia sangatlah strategis dan, bisa dibilang, cukup mengkhawatirkan dari sisi durasi penggunaan. Indonesia hanya “tunduk” pada India yang masih memegang mahkota sebagai raja durasi penggunaan HP dunia. Warga India mencatatkan rekor fantastis dengan menghabiskan waktu 1,2 triliun jam di depan layar perangkat mobile sepanjang tahun 2025. Skala populasi India yang masif tentu menjadi faktor penentu, namun intensitas penggunaan di Indonesia tetaplah fenomena yang luar biasa mengingat perbandingan jumlah penduduknya.

Yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa Indonesia berhasil mengangkangi negara adidaya teknologi, Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam tersebut harus puas bertengger di posisi ketiga, tepat di bawah Indonesia. Laporan menyebutkan warga AS menghabiskan waktu 385 jam (dalam konteks peringkat global di bawah 414 miliar jam milik Indonesia). Hal ini membuktikan bahwa adopsi dan ketergantungan pasar berkembang seperti Indonesia terhadap smartphone terbaru dan aplikasinya jauh lebih intensif dibandingkan pasar yang sudah matang seperti Amerika Serikat.

Bergeser ke lingkup regional, Indonesia adalah “raja” tak terbantahkan di Asia Tenggara. Tidak ada negara tetangga yang mampu mendekati intensitas warga RI dalam menatap layar. Filipina dan Vietnam, yang sering dianggap sebagai pasar digital potensial, masing-masing hanya berada di urutan ke-8 dan ke-11 secara global. Sementara itu, Thailand menyusul di peringkat ke-15. Menariknya, negara-negara tetangga lain seperti Malaysia, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam, dan Laos bahkan tidak masuk dalam daftar “Top 20” dunia. Ini menegaskan bahwa perilaku digital di Indonesia memiliki karakteristik unik yang sangat berbeda dengan tetangga serumpunnya.

Ada anomali menarik ketika kita melihat data dari China. Sebagai salah satu produsen aplikasi mobile terbesar di dunia, China ternyata hanya berada di peringkat ke-9 secara global dengan total durasi 148 miliar jam di tahun 2025. Namun, perlu dicatat dengan tinta tebal bahwa laporan Sensor Tower ini memiliki catatan khusus untuk pasar China. Data yang disajikan hanya diambil dari penggunaan di perangkat iOS. Mengingat ekosistem Android di China sangat terfragmentasi dan tidak menggunakan Google Play Store, data pengguna Android di sana tidak tersedia dalam laporan ini. Jadi, angka tersebut mungkin hanyalah puncak gunung es dari realitas digital di Tiongkok.

Pergeseran Tren: Dari Medsos ke Drama Pendek

Lantas, apa sebenarnya yang dilakukan warga Indonesia selama ratusan miliar jam tersebut? Apakah hanya sekadar bertukar pesan atau ada pergeseran pola konsumsi? Laporan Sensor Tower memberikan bedah data yang sangat menarik mengenai perilaku konsumen tanah air. Seperti yang bisa diprediksi, kategori media sosial masih menjadi magnet utama. Di puncak piramida aplikasi yang paling banyak diakses, TikTok masih kokoh berdiri sebagai juara. Platform video singkat ini tampaknya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari napas digital masyarakat Indonesia.

Namun, kejutan terbesar datang dari posisi kedua. Bukan Instagram, bukan pula Facebook, melainkan aplikasi kategori short drama. Secara spesifik, aplikasi drama pendek bernama Melolo mencatatkan lonjakan popularitas yang luar biasa. Tercatat, pertumbuhan unduhan aplikasi ini naik drastis hingga 329% pada tahun 2025 lalu. Angka pertumbuhan tiga digit ini adalah sinyal keras bagi industri konten. Ini membuktikan bahwa industri short drama kian bertumbuh subur dan telah diterima sebagai opsi hiburan utama baru bagi masyarakat Indonesia. Format cerita yang ringkas, padat, dan adiktif tampaknya sangat cocok dengan preferensi audiens lokal yang menginginkan hiburan digital instan di sela-sela kesibukan mereka.

Fenomena ini menandai pergeseran selera yang signifikan. Jika sebelumnya pengguna menghabiskan waktu untuk konten acak di media sosial, kini ada kecenderungan kuat untuk menikmati narasi terstruktur namun dalam durasi singkat. Aplikasi seperti Melolo berhasil mengisi celah antara konten receh media sosial dan tontonan berat layanan streaming film konvensional.

Ekosistem Digital: Utilitas Hingga Pinjol

Selain hiburan, smartphone bagi warga Indonesia telah bertransformasi menjadi “nyawa” kedua yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan. Laporan tersebut merinci beberapa kategori aplikasi lain yang menjadi langganan kunjungan jari jemari warga +62. Kategori utilitas dan multimedia tentu masuk dalam daftar wajib, namun yang tak kalah penting adalah sektor keuangan.

Aplikasi perbankan dan dompet digital menjadi salah satu yang paling sering diakses, menunjukkan tingginya adopsi pembayaran non-tunai. Namun, ada satu kategori yang cukup menyita perhatian: pinjaman online alias pinjol. Keberadaan aplikasi pinjol dalam daftar kategori populer mengindikasikan realitas ekonomi digital yang kompleks di tengah masyarakat. Kemudahan akses dana tunai melalui layar HP telah membuat aplikasi jenis ini memiliki basis pengguna yang loyal, terlepas dari segala pro dan kontra yang menyertainya.

Tak ketinggalan, aplikasi streaming OTT (Over-The-Top), aplikasi pesan singkat, telekomunikasi, dan e-commerce juga menyumbang porsi besar dalam total 414 miliar jam tersebut. Ini menegaskan bahwa bagi orang Indonesia, smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia adalah bank, pasar, bioskop, sekaligus kantor pribadi. Dengan tren yang terus menanjak, tampaknya gelar Indonesia sebagai negara paling “betah” menatap layar di Asia Tenggara belum akan tergeser dalam waktu dekat.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI