Pernahkah Anda membayangkan sebuah negara besar benar-benar memutus ketergantungan pada raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Microsoft dan Zoom? Di era digital yang serba terhubung ini, langkah tersebut terdengar seperti misi mustahil. Namun, Prancis baru saja membuktikan bahwa kedaulatan digital bukan sekadar jargon politik, melainkan sebuah rencana aksi yang nyata dan berani.
Pemerintah Prancis secara resmi mengucapkan au revoir kepada Microsoft Teams dan Zoom. Mulai tahun depan, seluruh pegawai negeri sipil di berbagai departemen pemerintahan negara tersebut tidak akan lagi menggunakan layanan konferensi video populer asal Negeri Paman Sam. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan beralih ke platform buatan dalam negeri bernama Visio, sebuah langkah strategis yang menandai babak baru dalam upaya kemandirian teknologi Eropa.
Keputusan ini bukan sekadar soal ganti aplikasi, melainkan sebuah manuver geopolitik dan ekonomi yang signifikan. Transisi ini didorong oleh kekhawatiran mendalam mengenai keamanan data dan keinginan untuk melepaskan diri dari cengkeraman perangkat lunak asing. Dengan beralih ke solusi lokal, Prancis mengirimkan sinyal kuat ke seluruh dunia bahwa mereka serius melindungi kerahasiaan komunikasi publik mereka dari potensi pengawasan asing.
Visio: Alternatif Lokal dengan Fitur Canggih
Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah aplikasi lokal mampu menyaingi raksasa teknologi global? Ternyata, Visio dirancang untuk tidak kalah bersaing. Platform ini telah dikembangkan dengan fitur-fitur modern yang setara dengan kompetitornya. Salah satu fitur unggulannya adalah alat transkripsi bertenaga kecerdasan buatan (AI), mirip dengan apa yang ditawarkan oleh Teams dan Zoom. Hal ini memastikan produktivitas pegawai pemerintah tetap terjaga meski menggunakan alat baru.
Keunggulan utama Visio tidak hanya terletak pada fiturnya, tetapi pada infrastrukturnya. Platform ini berjalan sepenuhnya di atas infrastruktur cloud milik perusahaan Prancis. Artinya, data tidak perlu melintasi perbatasan negara atau disimpan di server asing yang mungkin rentan terhadap regulasi negara lain. Langkah ini sejalan dengan upaya sebelumnya di mana Perancis merilis aplikasi chat sendiri untuk menghindari penggunaan WhatsApp di kalangan pejabat.
Saat ini, Visio bukanlah barang baru yang belum teruji. Platform ini telah memiliki sekitar 40.000 pengguna dan telah melalui masa pengujian intensif selama satu tahun terakhir. Pengujian ini memberikan keyakinan bagi pemerintah untuk melakukan peluncuran massal ke seluruh departemen sipil tahun depan.
Efisiensi Anggaran Bernilai Jutaan Euro
Selain aspek keamanan, faktor ekonomi menjadi pendorong kuat di balik keputusan ini. Penggunaan perangkat lunak berlisensi asing sering kali membebani anggaran negara dengan biaya yang fantastis. Pemerintah Prancis memproyeksikan bahwa peralihan ke Visio akan memberikan dampak penghematan yang signifikan.
Estimasi awal menunjukkan bahwa langkah ini dapat memangkas biaya hingga €1 juta (sekitar US$ 1,2 juta) setiap tahunnya untuk setiap 100.000 pengguna. Jika dikalikan dengan jumlah total pegawai sipil di seluruh Prancis, angka penghematan tersebut tentu sangat menggiurkan bagi kas negara. Efisiensi ini menjadi bukti bahwa kemandirian teknologi juga bisa berdampak positif pada kesehatan finansial pemerintahan.
Baca Juga:
Proyek Ambisius ‘Suite Numérique’
Keputusan untuk meninggalkan Microsoft Teams dan Zoom hanyalah puncak gunung es dari strategi digital Prancis yang lebih luas. Langkah ini merupakan bagian dari proyek besar yang disebut “Suite Numérique”. Visi utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada layanan perangkat lunak asing, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat, secara menyeluruh.
Tidak berhenti di aplikasi konferensi video, Prancis juga berencana untuk menyingkirkan penggunaan platform populer lainnya seperti Gmail dan Slack untuk keperluan pemerintah. Tujuannya jelas: menciptakan ekosistem digital yang berdaulat di mana seluruh komunikasi negara, mulai dari email hingga pesan instan, dikelola oleh solusi Eropa. Ini adalah langkah yang kontras mengingat sebelumnya Prancis dan Microsoft sempat menggagas aturan dunia maya bersama, namun kini arah kebijakan tampak berubah drastis menuju kemandirian total.
Langkah serupa sebenarnya juga mulai dilirik oleh negara lain. Misalnya, India yang juga sedang menyiapkan aplikasi pemerintah sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada platform pesan instan global. Tren ini menunjukkan adanya pergeseran global di mana negara-negara mulai memprioritaskan kedaulatan data di atas kenyamanan penggunaan aplikasi populer.
Kedaulatan Digital di Tengah Tensi Geopolitik
David Amiel, menteri untuk layanan sipil dan reformasi negara Prancis, menegaskan urgensi dari transisi ini. Menurutnya, tujuan utamanya adalah mengakhiri penggunaan solusi non-Eropa dan menjamin keamanan serta kerahasiaan komunikasi elektronik publik dengan mengandalkan alat yang kuat dan berdaulat.
“Strategi ini menyoroti komitmen Prancis terhadap kedaulatan digital di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketakutan akan pengawasan asing atau gangguan layanan,” ujar Amiel. Pernyataan ini menyiratkan kekhawatiran bahwa ketergantungan pada vendor asing dapat menjadi celah keamanan nasional, terutama jika terjadi konflik diplomatik atau sanksi teknologi.
Kekhawatiran mengenai kebocoran data memang beralasan. Kasus-kasus sebelumnya, seperti insiden di mana oknum polisi menjual data rahasia demi Bitcoin, menjadi pelajaran berharga betapa pentingnya kontrol ketat terhadap akses informasi. Dengan memiliki kendali penuh atas infrastruktur komunikasi, pemerintah berharap dapat meminimalisir risiko semacam itu.
Selain itu, Prancis juga dikenal vokal dalam mendesak dunia internasional untuk menggagas regulasi internet yang lebih ketat. Langkah migrasi ke Visio ini bisa dilihat sebagai bentuk praktik nyata dari apa yang mereka perjuangkan di panggung global: sebuah internet yang lebih teratur, aman, dan menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Transisi massal ke Visio tahun depan akan menjadi ujian besar bagi ambisi digital Prancis. Apakah platform lokal ini mampu menangani beban kerja jutaan pegawai tanpa hambatan teknis? Jika berhasil, Prancis bisa menjadi model percontohan bagi negara-negara lain di Eropa dan dunia yang ingin melepaskan diri dari hegemoni teknologi Big Tech Amerika.

