Selama bertahun-tahun, Elon Musk dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian—atau mungkin keras kepala—terkait masa depan SpaceX. Ia berulang kali menegaskan bahwa perusahaan antariksa miliknya tidak akan melantai di bursa saham atau melakukan penawaran umum perdana (IPO) sampai mereka berhasil membangun peradaban di Mars. Namun, angin perubahan tampaknya sedang berhembus kencang di koridor markas SpaceX, membawa kabar yang mungkin akan mengubah peta industri teknologi global secara drastis.
Laporan terbaru dari The Wall Street Journal (WSJ) mengguncang dunia investasi dengan kabar bahwa Musk kini sedang mempersiapkan SpaceX untuk go public. Sumber internal menyebutkan bahwa langkah ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan rencana strategis yang sedang dimatangkan. Padahal, kolonisasi Mars—syarat mutlak yang dulu didengungkan Musk—masih jauh dari kenyataan dalam waktu dekat. Lantas, apa yang membuat sang miliarder teknologi ini mendadak berubah haluan dan melanggar “janji sucinya” sendiri?
Jawabannya ternyata bukan terletak pada roket, melainkan pada ambisi penguasaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Para orang dalam perusahaan mengindikasikan bahwa motivasi utama di balik percepatan IPO ini adalah kebutuhan dana segar untuk membangun pusat data (data center) AI di luar angkasa. Ini adalah sebuah manuver berani yang membutuhkan modal miliaran dolar, sebuah angka yang sulit dipenuhi jika SpaceX tetap menjadi perusahaan tertutup. Musk tampaknya menyadari bahwa untuk memenangkan perlombaan teknologi masa depan, ia harus menguasai infrastruktur di orbit, bukan hanya di darat.
Ambisi Mengalahkan Google di Orbit
Perubahan strategi ini tidak terjadi di ruang hampa. Kompetisi di sektor teknologi luar angkasa semakin memanas, terutama dengan masuknya pemain besar seperti Google. Raksasa teknologi pencarian tersebut baru-baru ini mengumumkan rencana ambisius mereka untuk menempatkan data center di luar angkasa, dengan peluncuran uji coba yang dijadwalkan pada tahun 2027. Proyek ini, yang dikenal sebagai Project Suncatcher, bertujuan memanfaatkan energi matahari yang lebih melimpah di luar angkasa untuk mendukung sistem komputasi Machine Learning (ML) yang skalabel.
Elon Musk, yang dikenal tidak suka menjadi nomor dua, dilaporkan ingin mendahului langkah Google tersebut. Namun, membangun “server raksasa” di orbit bukanlah perkara murah. Infrastruktur semacam ini membutuhkan komponen khusus yang tahan banting dan biaya peluncuran yang masif. Di sinilah peran IPO menjadi krusial. Dana segar dari pasar saham akan memberikan SpaceX amunisi finansial yang dibutuhkan untuk merealisasikan visi futuristik ini sebelum para pesaingnya, termasuk Google dengan unit TPU (Tensor Processing Unit) mereka, berhasil menancapkan bendera di sana.
Persaingan ini mengingatkan kita pada berbagai konflik prioritas di industri antariksa. Seperti halnya dinamika Prioritas Bulan dan Mars yang kerap menjadi perdebatan, perlombaan membangun data center di orbit kini menjadi medan pertempuran baru. Musk ingin memastikan bahwa ketika era komputasi luar angkasa dimulai, SpaceX adalah pemegang kuncinya, bukan penyewa lapak dari perusahaan lain.
Sinergi Strategis dengan xAI
Langkah IPO SpaceX ini juga dilihat oleh para analis sebagai upaya strategis untuk mendongkrak performa xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk yang saat ini masih tertinggal dibandingkan para rival utamanya seperti OpenAI dan Google. Ekosistem bisnis Musk dikenal saling terkait, dan keberhasilan SpaceX menempatkan data center di luar angkasa akan menjadi keuntungan besar bagi xAI.
Jika SpaceX sukses membangun infrastruktur komputasi orbital, xAI kemungkinan besar akan mendapatkan perlakuan khusus atau “sweetheart deal”. Bayangkan sebuah skenario di mana xAI memiliki akses eksklusif atau prioritas terhadap kekuatan komputasi tak terbatas di luar angkasa tanpa harus bersaing berebut sumber daya di Bumi. Hal ini memungkinkan perputaran uang dan sumber daya antar perusahaan milik Musk terjadi secara terus-menerus, menciptakan siklus bisnis yang mandiri dan sulit ditembus oleh kompetitor luar.
Keterkaitan ini sangat penting mengingat betapa hausnya industri AI terhadap daya komputasi. Sementara produsen chip sibuk memenuhi Dahaga Chip AI di Bumi, Musk berpikir beberapa langkah ke depan dengan memindahkan infrastrukturnya ke langit. Ini bukan hanya soal kecepatan, tapi juga soal kedaulatan data dan energi.
Baca Juga:
Tren Data Center Luar Angkasa
Menariknya, gagasan memindahkan pusat data ke luar angkasa bukan hanya milik Musk atau Google. Tren ini mulai dilirik oleh para titan teknologi lainnya. CEO Blue Origin, Jeff Bezos, baru-baru ini juga menyarankan bahwa memindahkan data center ke orbit adalah langkah yang masuk akal secara logika. Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, dikabarkan sedang menjajaki kemitraan atau bahkan akuisisi pembuat roket bernama Stoke Space dengan alasan serupa.
Mengapa semua orang tiba-tiba ingin membuang server ke luar angkasa? Salah satu alasannya adalah keterbatasan sumber daya di Bumi. Data center modern untuk AI sangat rakus energi dan air. Sebagai contoh, data center AI terbaru Microsoft di Wisconsin memakan lahan seluas 325 hektar, sementara Meta mengumumkan fasilitas yang ukurannya hampir menyamai Manhattan. Struktur-struktur raksasa ini menyedot listrik, membebani sumber daya lokal, dan menciptakan polusi, namun hanya menawarkan sedikit lapangan kerja jangka panjang bagi penduduk sekitar.
Dengan memindahkan beban ini ke luar angkasa, perusahaan dapat memanfaatkan energi matahari yang tidak terhalang atmosfer—sebuah konsep yang mengingatkan pada ide ekstrem untuk mengatasi Pemanasan Global dengan rekayasa luar angkasa. Namun, tentu saja, tantangannya tidaklah main-main.
Tantangan Teknis: Latensi hingga Radiasi
Meskipun terdengar futuristik dan solutif, menempatkan data center di ruang hampa adalah pekerjaan rumah yang luar biasa berat. Ada masalah teknis serius yang harus diatasi, mulai dari latensi (keterlambatan pengiriman data), disipasi panas (membuang panas di ruang hampa sangat sulit karena tidak ada udara), hingga paparan radiasi kosmik yang dapat merusak komponen elektronik sensitif.
Membangun struktur di luar angkasa juga berarti setiap komponen harus diluncurkan dengan roket, dirakit di orbit, dan dirawat tanpa bantuan teknisi manusia secara langsung. Tingkat kesulitannya mungkin bisa disandingkan dengan analogi betapa sulitnya Tantangan Matahari atau misi antariksa kompleks lainnya. Namun, laporan WSJ menyebutkan bahwa SpaceX telah membuat semacam terobosan teknologi tahun lalu terkait masalah ini, meskipun detail spesifiknya masih dirahasiakan rapat-rapat oleh perusahaan.
Sumber-sumber yang dikutip WSJ menyebutkan bahwa Musk menargetkan penyelesaian proses IPO pada bulan Juli mendatang. SpaceX juga dilaporkan akan segera menunjuk bank-bank yang akan memimpin penawaran saham tersebut. Jika ini benar-benar terjadi, kita akan menyaksikan salah satu IPO terbesar dalam sejarah teknologi, yang didorong bukan oleh hasrat menjelajah planet merah semata, melainkan oleh kebutuhan mendesak untuk mendominasi infrastruktur AI di orbit Bumi.
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan teknologi, langkah ini adalah sinyal jelas bahwa medan pertempuran AI telah bergeser. Dari yang tadinya hanya berkutat pada pengembangan model bahasa besar (LLM) seperti Grok AI, kini beralih ke penguasaan infrastruktur fisik di angkasa. Apakah Musk akan berhasil mengalahkan Google dan OpenAI dalam perlombaan ini? Waktu—dan pasar saham—yang akan menjawabnya.

