Comeback Mengejutkan! Tesla Dojo3 dan Ambisi Gila Elon Musk di Luar Angkasa

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Dunia teknologi sudah terbiasa dengan manuver Elon Musk yang sering kali tidak terprediksi. Satu hari ia bisa membatalkan sebuah proyek besar, dan di hari lain, ia menghidupkannya kembali dengan visi yang jauh lebih ambisius. Pola kepemimpinan yang dinamis—atau mungkin bisa disebut impulsif—ini kembali terjadi di markas besar Tesla. Setelah sempat “mati suri”, sebuah proyek superkomputer raksasa kini kembali menjadi sorotan utama.

Kabar mengejutkan ini datang langsung dari sang CEO melalui platform X (sebelumnya Twitter). Musk mengonfirmasi bahwa Tesla akan memulai kembali pengerjaan Dojo3, generasi ketiga dari proyek superkomputer in-house mereka. Padahal, belum lama ini tim yang menangani Dojo sempat dibubarkan karena perusahaan memilih untuk memprioritaskan pengembangan chip AI yang berjalan langsung di dalam kendaraan Tesla. Perubahan arah angin ini tentu memancing rasa penasaran para pengamat industri teknologi dan otomotif.

Namun, bukan Elon Musk namanya jika tidak menyisipkan klaim futuristik yang membuat dahi berkerut. Kali ini, narasi kebangkitan Dojo3 tidak hanya soal kecepatan pemrosesan data di pusat data konvensional. Musk melontarkan gagasan bahwa infrastruktur masa depan ini mungkin tidak akan menapak di bumi, melainkan melayang di orbit. Sebelum Anda menganggap ini sekadar fiksi ilmiah, mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan strategis ini.

Alasan di Balik Kebangkitan Dojo

Mengapa proyek yang sempat dikesampingkan kini kembali mendapat panggung? Menurut Musk, keputusan ini diambil karena desain chip AI5 kini sudah berada dalam kondisi yang sangat baik atau “good shape”. Sebelumnya, ia berargumen bahwa membagi sumber daya untuk mengembangkan dua desain chip AI yang berbeda—satu untuk mobil dan satu untuk superkomputer—adalah langkah yang tidak masuk akal. Namun, dengan rampungnya fase krusial pada AI5, hambatan tersebut tampaknya telah sirna.

Langkah ini menandai pergeseran fokus kembali ke infrastruktur pelatihan (training). Proyek Dojo 3 dirancang khusus untuk memproses rekaman video dan data masif lainnya yang dikumpulkan dari armada kendaraan Tesla. Data ini adalah “makanan” utama untuk melatih jaringan saraf tiruan (neural net) yang menjadi otak di balik perangkat lunak Full Self-Driving (FSD). Tanpa superkomputer yang mumpuni untuk melatih sistem, kemampuan mobil otonom Tesla akan sulit berkembang pesat.

Beda Fokus: Training vs Inference

Penting bagi Anda untuk memahami perbedaan mendasar antara chip yang ada di dalam mobil Tesla dengan apa yang sedang dibangun melalui proyek Dojo. Chip seri AI (seperti AI5 dan AI6 yang akan datang) dirancang untuk “inference”. Artinya, chip ini bertugas membuat keputusan instan di jalan raya berdasarkan data yang sudah dipelajari sebelumnya. Mereka harus hemat daya dan efisien karena terpasang di kendaraan.

Sebaliknya, Dojo adalah “binatang buas” yang bekerja di belakang layar. Ia tidak perlu hemat daya dalam artian yang sama seperti chip mobil, tetapi ia harus memiliki kekuatan komputasi mentah yang luar biasa untuk mengolah jutaan jam video latihan. Musk sebelumnya menegaskan bahwa chip AI5 dan penerusnya memang sangat baik untuk inferensi dan “cukup oke” untuk pelatihan, namun kebangkitan Dojo3 mengisyaratkan bahwa “cukup oke” saja tidak memuaskan ambisi Tesla untuk mencapai otonomi level sempurna.

Kemitraan Raksasa dan Masa Depan Chip

Dalam ekosistem perangkat kerasnya, Tesla tidak bekerja sendirian. Untuk memproduksi chip AI6, perusahaan telah menjalin kesepakatan bernilai fantastis dengan Samsung. Pabrikan asal Korea Selatan ini akan memproduksi chip tersebut di pabrik mereka yang berlokasi di Texas, menyusul perjanjian senilai $16 miliar dengan Tesla. Ini menunjukkan betapa seriusnya investasi Tesla dalam mengamankan rantai pasokan silikon mereka demi mendukung Desain AI5 dan generasi selanjutnya.

Langkah ini strategis mengingat persaingan global dalam teknologi otonom semakin ketat. Memiliki kontrol atas desain chip (melalui tim internal) dan kapasitas produksi yang terjamin (melalui mitra seperti Samsung) adalah kunci untuk tidak tertinggal. Namun, tantangan teknis hanyalah satu sisi mata uang; sisi lainnya adalah visi spekulatif yang sering kali menjadi ciri khas Musk.

Komputasi AI di Luar Angkasa?

Inilah bagian yang paling memicu perdebatan. Terkait Dojo3, Musk menyebutkan konsep “space-based AI compute”. Ia dan beberapa pendukung idenya percaya bahwa menempatkan pusat data di orbit adalah alternatif yang lebih superior dibandingkan membangun fasilitas raksasa di daratan. Logikanya terdengar sederhana namun menantang: luar angkasa menyediakan akses energi matahari yang tak terbatas dan suhu dingin ekstrem yang alami.

Pusat data modern membutuhkan daya listrik yang sangat besar dan sistem pendingin yang kompleks. Di luar angkasa, pendinginan bisa terjadi secara alami, dan panel surya dapat bekerja dengan efisiensi maksimal tanpa gangguan atmosfer atau siklus malam yang panjang. Meski terdengar menjanjikan, banyak ahli yang meragukan kelayakan teknis dan ekonomisnya saat ini. Biaya peluncuran, perawatan, latensi data, dan risiko radiasi kosmik adalah rintangan nyata yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Apakah ini hanya sekadar janji manis atau visi jenius yang mendahului zamannya? Rekam jejak Musk menunjukkan banyak klaim yang meleset atau tertunda bertahun-tahun, namun tidak sedikit pula yang akhirnya mengubah industri. Yang jelas, dengan dihidupkannya kembali Dojo3, Tesla kembali menegaskan bahwa mereka bukan sekadar perusahaan mobil, melainkan perusahaan AI dan robotika yang siap mengambil risiko paling gila sekalipun.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI