Telset.id – Google akhirnya mengambil langkah yang sudah diprediksi banyak pihak: memonetisasi kecerdasan buatan mereka secara agresif. Dalam sebuah memo singkat yang dirilis di blog Ad & Commerce baru-baru ini, raksasa teknologi tersebut mengumumkan format konten berbayar baru yang memungkinkan pemasar membeli ruang iklan di dalam “mode AI” Google. Langkah ini menandai era baru di mana hasil pencarian generatif tidak lagi bersih dari campur tangan komersial.
Iklan jenis baru ini tidak hanya akan muncul di bilah pencarian AI yang biasa diakses pengguna di sisi hasil pencarian Google, tetapi juga akan merambah ke dalam chatbot andalan mereka, Gemini. Bagi para pengamat industri, ini adalah sinyal jelas bahwa Google siap mengubah interaksi AI menjadi ladang pendapatan baru, meski mungkin harus mengorbankan pengalaman pengguna yang selama ini dijanjikan lebih bersih dan relevan.
Menurut laporan yang dikutip dari Washington Post, Google memberikan ilustrasi sederhana mengenai cara kerja sistem ini. Bayangkan seorang pengguna sedang mencari permadani baru. Dalam skenario normal, AI akan memberikan rekomendasi berdasarkan ulasan atau relevansi terbaik. Namun, dengan fitur iklan baru ini, mode AI Google akan secara proaktif menyodorkan beberapa permadani “disponsori” sebagai respons terhadap pertanyaan pengguna. Alih-alih mendapatkan hasil organik, pengguna akan disuguhi pilihan yang telah dibayar oleh pengiklan.
Baca Juga:
Hadirkan “Agen Bisnis” Virtual
Selain penempatan iklan produk secara langsung, Google juga memperkenalkan fitur yang mereka sebut sebagai “agen bisnis”. Google mendeskripsikan ini sebagai cara baru bagi pembeli untuk mengobrol dengan merek secara langsung di dalam Search. Fitur ini dirancang menyerupai asisten penjualan virtual yang dapat menjawab pertanyaan produk menggunakan suara atau gaya bahasa merek tersebut (brand voice).
Tujuannya adalah memungkinkan pengecer terhubung dengan konsumen selama momen belanja kritis dan membantu mendorong penjualan. Secara teknis, ini adalah chatbot bermerek yang tertanam di dalam Pencarian AI Google. Sebagai contoh, pengguna dapat “bertanya” kepada perusahaan seperti Lowe’s mengenai perbedaan antara berbagai jenis ubin lantai tanpa perlu mengunjungi situs web Lowe’s secara langsung.
Ironisnya, sistem ini menciptakan lapisan perantara baru yang mungkin terasa berlebihan. Pengguna tidak perlu masuk ke situs web asli, padahal situs seperti Lowe’s sendiri sebenarnya sudah memiliki agen belanja AI eksklusif mereka sendiri bernama Mylow. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai efisiensi dan kedaulatan data, mengingat bagaimana Google kerap disorot terkait penggunaan Data Pengguna untuk kepentingan iklan.
Pengalaman Pengguna yang Kian Tergerus?
Langkah Google ini memicu skeptisisme yang cukup beralasan. Jika terdengar seperti versi yang lebih buruk dari pengalaman Google yang belakangan ini dianggap menurun kualitasnya, Anda mungkin tidak sepenuhnya salah. Mode AI Google sendiri sejak awal telah diganggu oleh berbagai kesalahan (hallucinations), yang kerap mencekik lalu lintas ke situs penerbit asli dan menyajikan pengalaman pencarian yang kurang memuaskan.
Masuknya iklan ke dalam ekosistem yang masih belum stabil ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk kepercayaan pengguna. Di tengah isu Persaingan Iklan yang ketat dan pengawasan regulator, keputusan untuk menyisipkan konten berbayar ke dalam jawaban AI menunjukkan prioritas perusahaan yang jelas: pendapatan di atas segalanya.
Meskipun pengguna mungkin mulai waspada terhadap alat pencarian AI Google yang sering kali tidak akurat, setidaknya kini mereka bisa yakin akan satu hal: motif mencari keuntungan akan terus menjadi pendorong utama pengembangan fitur-fitur baru Google ke depannya.

