Telset.id – Ambisi Xiaomi untuk mendobrak batas desain smartphone tampaknya harus tertahan di meja gambar. Kabar terbaru menyebutkan bahwa proyek ambisius mereka, Xiaomi 17 Air, resmi dihentikan. Padahal, perangkat ini digadang-gadang akan menjadi salah satu ponsel tertipis di dunia dengan ketebalan yang hampir tidak masuk akal.
Berdasarkan informasi yang beredar, Xiaomi 17 Air awalnya dirancang dengan ketebalan hanya 5,5mm. Angka ini tentu sangat fantastis jika dibandingkan dengan standar flagship masa kini yang rata-rata memiliki ketebalan di atas 7mm hingga 8mm. Namun, impian untuk menggenggam perangkat setipis kertas karton tebal ini harus dikubur dalam-dalam karena Xiaomi memutuskan untuk membatalkan proyek tersebut.
Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, terutama para penggemar teknologi yang sudah menantikan inovasi desain radikal dari raksasa teknologi asal China tersebut. Pembatalan ini memicu spekulasi mengenai tantangan teknis yang mungkin dihadapi tim insinyur Xiaomi dalam merealisasikan Xiaomi 17 Air.
Ambisi Desain vs Realita Teknis
Menciptakan smartphone dengan ketebalan 5,5mm bukanlah perkara mudah. Di balik estetika yang menawan, terdapat mimpi buruk bagi para insinyur perangkat keras. Ruang internal yang sangat terbatas memaksa produsen untuk melakukan kompromi besar-besaran. Isu utama yang sering menjegal proyek semacam ini adalah kapasitas baterai dan manajemen panas.
Dengan bodi setipis itu, menanamkan baterai berkapasitas standar (misalnya 5000 mAh) adalah hal yang mustahil secara fisik, kecuali Xiaomi menemukan teknologi baterai baru yang revolusioner. Selain itu, sistem pendingin untuk Chipset Xiaomi kelas atas membutuhkan ruang untuk sirkulasi udara atau vapor chamber yang memadai agar perangkat tidak melepuh saat digunakan.
Baca Juga:
Kasus pembatalan proyek ponsel “Air” atau ultra-tipis sebenarnya bukan hal baru di industri ini. Tren mengejar ketipisan ekstrem seringkali berbenturan dengan durabilitas struktural. Kita tentu ingat fenomena bendgate yang pernah menghantui beberapa produsen besar. Sebuah perangkat dengan ketebalan 5,5mm memiliki risiko melengkung atau patah yang jauh lebih tinggi saat diletakkan di saku celana, dibandingkan dengan ponsel berdesain konvensional.
Tampaknya, Xiaomi bukan satu-satunya yang mengalami kendala ini. Kompetitor lain juga dilaporkan mengalami kesulitan serupa. Kabar mengenai Meizu 22 Air yang juga batal rilis memperkuat dugaan bahwa teknologi saat ini belum sepenuhnya siap untuk mengakomodasi desain ultra-tipis tanpa mengorbankan performa dan pengalaman pengguna secara signifikan.
Fokus pada Fungsionalitas
Pembatalan Xiaomi 17 Air bisa dilihat sebagai langkah rasional dan dewasa dari Xiaomi. Daripada memaksakan merilis produk yang “cantik tapi rapuh” atau memiliki daya tahan baterai yang menyedihkan, mereka memilih untuk menarik rem darurat. Ini menunjukkan pergeseran fokus dari sekadar pamer kemampuan desain menjadi prioritas pada fungsionalitas dan reliabilitas produk.
Meskipun Xiaomi 17 Air batal, inovasi Xiaomi di sektor lain tetap berjalan. Mereka terus memperluas ekosistem AIoT mereka dengan produk-produk yang lebih matang, seperti Xiaomi Watch 5 yang menawarkan efisiensi baterai, atau perangkat audio terbaru mereka.
Bagi konsumen yang mendambakan ponsel tipis, kabar ini mungkin mengecewakan. Namun, setidaknya kita terhindar dari membeli perangkat mahal yang mungkin harus diisi dayanya tiga kali sehari atau patah hanya karena kita lupa mengeluarkannya saat duduk. Xiaomi tampaknya belajar bahwa dalam dunia teknologi, menjadi yang paling tipis tidak selalu berarti menjadi yang terbaik.

