Starlink Turunkan Ribuan Satelit ke Orbit Lebih Rendah, Ini Alasannya

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Bayangkan langit malam yang dipenuhi ribuan titik cahaya buatan manusia. Itulah realitas orbit Bumi saat ini, dan SpaceX baru saja mengambil langkah drastis untuk mencegah titik-titik itu saling bertabrakan. Perusahaan milik Elon Musk itu mengumumkan akan menurunkan ketinggian orbit sekitar 4.400 satelit Starlink mereka. Bukan tanpa alasan, langkah ini adalah strategi besar-besaran untuk meningkatkan keselamatan di ruang angkasa yang semakin padat. Apa yang mendorong keputusan ini, dan apa dampaknya bagi layanan internet satelit yang kini juga mulai beroperasi di Indonesia?

Pengumuman resmi datang langsung dari Michael Nicolls, Wakil Presiden Teknik Starlink, melalui platform X. Dalam postingannya, Nicolls menyatakan bahwa perusahaan sedang memulai “rekonfigurasi signifikan” dari konstelasi satelitnya. Satelit-satelit yang saat ini mengorbit pada ketinggian sekitar 550 kilometer (342 mil) akan diturunkan ke ketinggian 480 kilometer (298 mil). Perbedaan 70 kilometer ini mungkin terdengar kecil di antara luasnya angkasa, tetapi dalam konteks dinamika orbital, ini adalah perubahan besar yang penuh arti. Tujuannya jelas: mengurangi risiko tabrakan dan menempatkan aset-aset bernilai miliaran dolar itu di wilayah yang lebih aman.

Lalu, mengapa orbit yang lebih rendah dianggap lebih aman? Logikanya sederhana: semakin rendah orbit sebuah satelit, semakin kuat tarikan atmosfer Bumi, meski sangat tipis di ketinggian tersebut. Tarikan ini, yang disebut drag atmosfer, secara alami akan menurunkan ketinggian satelit dari waktu ke waktu. Dengan berada di orbit lebih rendah, satelit Starlink akan mengalami drag yang lebih besar. Ini berarti, jika suatu saat terjadi malfungsi dan satelit tidak dapat dikendalikan, ia akan lebih cepat jatuh dari orbit dan terbakar di atmosfer. Nicolls memperkirakan, penurunan ketinggian ini akan memangkas waktu “peluruhan balistik” selama periode solar minimum dari lebih dari 4 tahun menjadi hanya beberapa bulan. Dengan kata lain, sampah antariksa potensial akan hilang lebih cepat.

Antisipasi Solar Minimum dan Ancaman dari Bumi

Penjelasan Nicolls mengungkap lapisan strategi yang lebih dalam. Ia menyebut fenomena “solar minimum” sebagai salah satu alasan utama di balik keputusan ini. Solar minimum adalah fase dalam siklus 11 tahunan matahari ketika aktivitas seperti bintik matahari dan semburan radiasi berkurang. Aktivitas matahari yang rendah menyebabkan atmosfer bagian atas Bumi (thermosphere) menyusut dan menjadi kurang padat. Akibatnya, drag atmosfer pada satelit di orbit rendah juga berkurang, membuat mereka bertahan lebih lama di angkasa—bahkan saat sudah mati. Solar minimum berikutnya diprediksi terjadi pada awal 2030-an. Dengan menurunkan satelit sekarang, Starlink memastikan armada mereka tetap berada di zona dengan drag yang memadai, menjaga kemampuan de-orbit yang cepat meski matahari sedang “tidur”.

Namun, ancaman terbesar mungkin bukan berasal dari matahari, melainkan dari Bumi sendiri. Beberapa pekan sebelum pengumuman ini, Nicolls melaporkan insiden “close call” atau nyaris tabrakan dengan segerombolan satelit yang diluncurkan dari China. Yang membuatnya prihatin, peluncuran itu seolah dilakukan tanpa koordinasi dengan operator satelit lain yang sudah ada di ruang tersebut. Dalam dunia yang ideal, setiap manuver dan peluncuran satelit dikoordinasikan untuk menghindari tabrakan. Realitanya, tidak semua negara atau perusahaan mematuhi etika ini. Dengan menurunkan orbitnya, Starlink berusaha melindungi konstelasinya dari “risiko yang sulit dikendalikan seperti manuver dan peluncuran tidak terkoordinasi oleh operator satelit lain,” tulis Nicolls. Ini adalah pengakuan gamblang tentang betapa liar dan kompetitifnya lalu lintas di orbit Bumi saat ini.

Keputusan ini juga tidak bisa dilepaskan dari insiden kecil yang dialami Starlink sendiri baru-baru ini. Sebelumnya, perusahaan mengakui salah satu satelitnya mengalami “anomali” yang menghasilkan puing-puing dan membuatnya oleng. Insiden semacam ini adalah pengingat yang keras: di lingkungan dengan kecepatan orbit mencapai 27.000 km per jam, bahkan serpihan kecil bisa menjadi proyektil mematikan yang dapat memicu reaksi berantai tabrakan—skenario yang dikenal sebagai Sindrom Kessler. Dengan memindahkan ribuan satelit ke “jalur lambat” yang lebih rendah dan lebih cepat bersih, Starlink secara proaktif mencoba meminimalkan potensi bencana semacam itu.

Dampak bagi Pengguna dan Masa Depan Layanan

Pertanyaan paling praktis bagi pengguna, terutama yang di daerah terpencil Indonesia yang mengandalkan layanan ini, adalah: apakah langkah ini akan mempengaruhi kualitas internet Starlink? Secara teori, satelit di orbit yang lebih rendah memiliki latency atau ping yang sedikit lebih rendah karena jarak tempuh sinyal yang lebih pendek. Ini kabar baik untuk aplikasi real-time seperti panggilan video atau game online. Namun, orbit yang lebih rendah juga berarti cakupan area di permukaan Bumi per satelit menjadi lebih sempit. Untuk mempertahankan cakupan global yang sama, Starlink mungkin perlu lebih banyak satelit atau mengoptimasi konfigurasi mereka. SpaceX dikenal dengan kemampuan iterasi teknis yang cepat, sehingga adaptasi semacam ini besar kemungkinan sudah menjadi bagian dari kalkulasi mereka.

Bagi Indonesia, langkah Starlink ini relevan untuk dicermati. Pemerintah telah mulai memanfaatkan teknologi ini untuk penanganan darurat, seperti pemasangan 15 unit Starlink di daerah banjir Sumatera untuk koordinasi darurat oleh Kemenkes. Keandalan dan keberlanjutan layanan ini sangat krusial dalam situasi bencana. Keputusan proaktif untuk meningkatkan keselamatan konstelasi satelit pada akhirnya berkontribusi pada ketahanan layanan yang diandalkan oleh banyak pihak, termasuk untuk mengakses layanan Starlink gratis bagi korban bencana. Ini menunjukkan bahwa tata kelola ruang angkasa yang baik memiliki dampak langsung yang terasa hingga ke tingkat masyarakat di darat.

Langkah Starlink ini juga menyoroti perlunya regulasi dan koordinasi global yang lebih kuat. Meski perusahaan swasta, inisiatif mereka menurunkan orbit bisa dilihat sebagai bentuk tanggung jawab industri. Aksi ini mungkin akan mendorong operator satelit lain untuk melakukan evaluasi serupa atau setidaknya meningkatkan transparansi manuver mereka. Di sisi lain, insiden dengan satelit dari negara lain menunjukkan bahwa ruang angkasa masih menjadi wilayah abu-abu secara geopolitik. Koordinasi yang selama ini mengandalkan kesukarelaan ternyata rentan. Respons Starlink dengan “mundur secara taktis” ke orbit lebih aman mungkin adalah solusi pragmatis terbaik saat ini, sambil menunggu kerangka hukum antariksa yang lebih matang.

Pada akhirnya, pengumuman Nicolls bukan sekadar laporan teknik. Ini adalah cerita tentang bagaimana umat manusia belajar mengelola lingkungan barunya. Kita telah menjadikan orbit Bumi sebagai tempat parkir raksasa bagi teknologi, dan sekarang kita harus memikirkan cara merawatnya. Keputusan Starlink untuk menurunkan ribuan satelitnya adalah pengakuan bahwa keselamatan harus didahulukan sebelum ekspansi. Sebuah langkah bijak yang, dalam jangka panjang, akan menentukan apakah langit malam kita akan dipenuhi dengan cahaya layanan yang bermanfaat, atau dengan puing-puing dari ambisi yang bertabrakan. Bagi calon pengguna di Indonesia yang tertarik, penting untuk mengikuti perkembangan kebijakan operasionalnya, seperti yang pernah dibahas dalam tanggapan Komdigi mengenai Starlink yang tutup pendaftaran pelanggan baru. Keberlanjutan di angkasa langsung terkait dengan ketersediaan layanan di bumi.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI