Telset.id – Bayangkan Anda baru saja membeli flagship terbaru dengan harga hampir Rp 12 juta, membuka kotaknya dengan penuh antusias, dan… kecewa. Bukan karena desain atau performa, melainkan karena pengalaman visual yang terasa “patah-patah”. Itulah yang terjadi pada Google Pixel 10, di mana fitur refresh rate 120Hz justru dinonaktifkan secara default. Mengapa Google melakukan hal ini? Dan bagaimana cara mengaktifkannya?
Menurut investigasi Android Authority, Pixel 10 series sebenarnya dibekali layar dengan refresh rate hingga 120Hz. Namun, pada model dasar, Google memilih untuk mengunci refresh rate di angka 60Hz. Alhasil, pengguna yang pertama kali menyalakan perangkat akan merasakan scrolling dan animasi UI yang kurang smooth dibandingkan smartphone flagship lain. Ini seperti membeli mobil sport tetapi dipaksa berkendara dalam mode eco saja.
Untungnya, solusinya tidak rumit. Pengguna dapat mengaktifkan fitur “Smooth display” melalui pengaturan dalam beberapa langkah mudah. Namun, Google secara transparan mengingatkan bahwa opsi ini akan menguras baterai lebih cepat. Sebuah trade-off yang mungkin tidak semua orang siap terima—terutama bagi mereka yang lebih memprioritaskan ketahanan baterai daripada kelancaran visual.
Lalu, mengapa Google melakukan ini? Spekulasi pertama berkaitan dengan teknologi layar. Pixel 10 dasar menggunakan panel LTPS OLED, bukan LTPO OLED seperti varian Pro. Panel LTPS hanya mampu beralih antara 60Hz dan 120Hz, sementara LTPO dapat turun hingga 10Hz saat tidak diperlukan, sehingga lebih hemat daya. Dengan menonaktifkan 120Hz secara default, Google mungkin ingin memastikan baterai bertahan lebih lama bagi pengguna yang tidak terlalu sensitif terhadap perbedaan refresh rate.
Alasan kedua lebih bersifat psikologis dan pasar. Sebagian besar pengguna mungkin tidak menyadari perbedaan antara 60Hz dan 120Hz. Bagi mereka, yang penting smartphone dapat digunakan seharian tanpa harus sering di-charge. Dengan menonaktifkan fitur ini, Google seolah berkata, “Kami mengutamakan pengalaman baterai yang konsisten bagi mayoritas pengguna.”
Baca Juga:
Namun, bagi kalangan tech-savvy atau gamer, keputusan ini terasa seperti langkah mundur. Refresh rate tinggi bukan sekadar angka—ia membawa pengalaman yang lebih imersif, responsif, dan nyaman, terutama saat bermain game atau menelusuri konten panjang. Jika Anda termasuk dalam kelompok ini, mengaktifkan 120Hz adalah suatu keharusan. Meski demikian, bersiaplah dengan power bank atau charger portabel karena daya baterai akan terkikis lebih cepat.
Selain soal refresh rate, ada hal lain yang perlu diperhatikan saat membeli Pixel 10. Versi 128GB masih menggunakan penyimpanan UFS 3.1 yang lebih lambat, sementara versi 256GB ke atas sudah dilengkapi UFS 4.0. Bagi yang sering menyimpan file besar atau menjalankan aplikasi berat, pilihan kapasitas menjadi krusial. Jadi, pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan membeli varian termurah.
Lalu, bagaimana dengan masa depan smartphone flagship? Tren ini menunjukkan bahwa produsen semakin fokus pada optimasi pengalaman pengguna sehari-hari, bahkan jika harus “menyembunyikan” fitur canggihnya. Ini mungkin langkah bijak untuk pasar mainstream, tetapi bisa jadi bumerang bagi segmen pengguna yang menginginkan yang terbaik sejak pertama kali membuka kotak.
Nah, jika Anda sudah terlanjur membeli Pixel 10 dan ingin menikmati 120Hz, ikuti langkah berikut: buka Settings > Display > Smooth display, lalu aktifkan opsi tersebut. Dalam sekejap, segala gerakan di layar akan terasa lebih halus dan responsif. Tapi ingat, seperti pengalaman gaming AAA di perangkat berdaya tinggi, ada konsekuensi yang harus ditanggung.
Di sisi lain, bagi yang sensitif terhadap flicker layar atau sering mengalami mata lelah, refresh rate tinggi justru bisa menjadi masalah. Sebelum mengaktifkannya, pertimbangkan juga dampaknya pada kenyamanan visual Anda. Beberapa perubahan setting smartphone justru direkomendasikan untuk mengurangi ketegangan mata.
Keputusan Google ini juga mengingatkan kita bahwa tidak semua fitur flagship harus diaktifkan secara default. Terkadang, yang terbaik adalah membiarkan pengguna memilih sesuai kebutuhan mereka. Namun, alangkah baiknya jika opsi ini diberi penjelasan lebih jelas sejak awal, sehingga pengguna tidak merasa “dikecewakan” saat pertama kali menggunakan perangkat.
Ke depannya, mungkin Google akan lebih terbuka tentang kebijakan semacam ini. Atau, siapa tahu, mereka akan mengadopsi panel LTPO untuk semua varian, seperti yang dilakukan beberapa kompetitor. Sampai saat itu, pengguna Pixel 10 harus menerima kenyataan bahwa flagship mereka punya “rahasia” yang harus diungkap manually.
Jadi, apakah Anda termasuk yang langsung mengaktifkan 120Hz atau memilih bertahan di 60Hz untuk baterai yang lebih tahan lama? Ceritakan pengalaman Anda di komentar! Dan jangan lupa, ikuti perkembangan teknologi terbaru hanya di Telset.id.