Karena Trump, China dan Amerika Terlibat Debat Sengit

Telset.id, Jakarta – China dan Amerika Serikat (AS) terlibat debat yang sengit. Debat dipicu oleh klaim Presiden AS, Donald Trump yang menyatakan bahwa China telah mencuri teknologi dari negaranya. Alhasil, China tak terima dengan pernyataan tersebut sehingga “perang” debat pun terjadi.

Tuduhan Trump sendiri berkaitan dengan dua tuntutan hukuman Gedung Putih terhadap China yang diwujudkan dalam bentuk pajak impor barang. Ketua Komisi Perdagangan AS, Dennis Shea mengatakan, praktik transfer teknologi yang diterapkan China cukup merugikan.

“Transfer teknologi menjadi konsekuensi peraturan tidak tertulis dari perusahaan yang mencoba mengakses pasar China. Lebih-lebih, jika pihak luar bekerja sama dengan perusahaan milik atau yang dikendalikan oleh Pemerintah China. Itu sama saja pencurian,” papar Shea seperti dikutip dari Reuters, Rabu (30/05/2018)

Dalam setiap kerja sama, lisensi dan peraturan administratif China memang selalu mengikat perusahaan asing untuk mentransfer teknologi.

Sementara, pemerintah China juga mengeksploitasi peraturan investasi yang tidak jelas untuk menentukan persyaratan transfer teknologi.

Bagi investor asing, regulasi pemerintah China itu sangatlah merugikan. Di lain sisi, China juga merasa tak terima dengan tuduhan yang dilancarkan pihak AS.

Baca Juga: Pekan Depan, AS dan China Sepakat Cabut Embargo ZTE

Kedua negara akhirnya terlibat perselisihan di Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO, pada Senin (28/05/2018) waktu setempat. Perselisihan makin pelik ketika Trump menetapkan pajak ekspor impor sebesar USD 50 miliar atau setara dengan Rp 700 triliun.

Menurut duta besar China, Zhang Xiangchen, transfer teknologi adalah aktivitas komersial yang normal dan saling menguntungkan mitra, termasuk AS. Ia juga menyatakan, inovasi China lebih didorong oleh ketekunan dan jiwa kewirausahaan warganya yang didukung investasi, pendidikan, dan penelitian.

Baca Juga: Saat Silicon Valley Mulai Terusik China

Kekhawatiran ancaman China di bidang teknologi tak cuma dirasakan oleh Trump, tapi juga dialami oleh para investor yang mendirikan perusahaan di Silicon Valley. Pantas saja, sebab penetrasi perusahaan China di sektor perangkat keras maupun lunak semakin kuat.

Awal pekan ini, para investor Silicon Valley mengikuti debat di Bay Area. Mitra usaha Sequoia Capital, Mike Vernal mengemukakan bahwa China segera mengambil alih posisi AS di berbagai bidang seperti Artificial Intelligence (AI) dan kendaraan otonom.

“Pemerintah dan para pemimpin teknologi China berbaris di antrean menuju inovasi. Jadi, saya berpikir ada risiko nyata bahwa dalam waktu tiga tahun hingga lima tahun ke depan, kita akan terbangun dan menyadari bahwa China sudah jauh berada di depan AS dan Silicon Valley,” katanya. (SN/FHP)

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Kominfo Pantau Hoaks RUU Cipta Kerja di Media Sosial

Telset.id, Jakarta - Menkominfo Johnny G. Plate mengaatakan pihaknya akan memantau isu-su terkait RUU Cipta Kerja di media sosial...

Tips Hindari Serangan Cyber “APT” yang Mengancam Indonesia

Telset.id, Jakarta - Kaspersky mengungkapkan bahwa serangan Advanced Persistent Threats atau APT menjadi ancaman cyber yang serius dan lebih berbahaya bila dibandingkan dengan malware yang ada sekarang....

Sah! Aturan Blokir Ponsel BM Berlaku 18 April Mendatang

Telset.id, Jakarta - Menkominfo Johnny G. Plate memastikan aturan blokir ponsel BM atau black market melalui IMEI akan berlaku pada...

Waspada! Serangan Cyber Berbahaya Intai Pengguna di Indonesia

Telset.id, Jakarta - Kasperksy mengungkapkan adanya peningkatan serangan cyber berbahaya di Asia Tenggara yang terjadi sepanjang tahun 2019. Kaspersky mengatakan, serangan...

Tips Foto Bokeh dengan Smartphone, Biar Lebih Maksimal

Telset.id, Jakarta - Bokeh menjadi salah satu pengalaman fotografi yang umum digunakan pada smartphone saat ini. Tidak seperti dahulu...
- Advertisement -