JAKARTA ā Ā Jepang dan Korea Selatan merupakan dua āMacan Asiaā yang berhasil menjelma menjadi raksasa dibidang teknologi. Meski terlihat akur, namun hubungan kedua negara ini cukup panas kalau bicara soal teknologi. Imbasnya, nama Samsung pun akan āhilangā dari Jepang. Mengapa?
Hilangnya merek Samsung di Jepang akan dimulai dengan dua flagship Samsung yang baru dirilis, Galaxy S6 dan S6 edge. Duo Galaxy S6 ini akan masuk ke pasar Jepang tanpa ada embel-embel brand Samsung, tapi hanya menggunakan merek Galaxy saja.
Pihak Samsung mengaku penggunaan brand Galaxy karena melihat merek tersebut sudah sangat kuat di Jepang. Namun banyak pihak yang memperkirakan keputusan itu juga didasari oleh perhitungan politik dari kedua negara.
Seperti diketahui, bangsa Jepang dan Korea Selatan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Kedua negara tersebut bersaing di semua sektor bisnis, termasuk dibidang teknologi. Rasa nasionalisme yang tinggi tadi membuat banyak warga dari kedua negara ini āalergiā untuk memakai produk buatan sang pesaing.
Anda akan sangat jarang melihat orang Jepang yang mau menggunakan produk-produk buatan Korea Selatan, begitupun sebaliknya, warga Korea Selatan akan menolak memakai produk buatan Jepang.
Sentimen nasionalisme dan persaingan bisnis inilah yang diyakini menjadi alasan Samsung untuk menghilangkan āmerek Samsungā di Negeri Matahari Terbit tersebut.
Peluang Pasar
Peluang Pasar
Jepang memang menjadi salah satu pasar potensial yang belum bisa ditaklukan Samsung. Raksasa elektronik Korea Selatan ini selalu kesulitan untuk bisa menembus pasar Jepang, sementara Apple yang menjadi rival beratnya justru melenggang di Negeri Sakura itu.
Menurut laporan terbaru dari hasil survey Strategy Analytics, pangsa pasar smartphone Samsung di Jepang hanya sebesar 5,6%. Bandingkan dengan Apple, yang berhasil menguasai Jepang dengan pangsa pasar 40,8%, diikuti Sony dengan 18,1% dan Sharp dengan 12,4%.
āKonsumen di Jepang berpendapat merek Jepang memiliki teknologi terbaik, maka akan menjadi sulit bagi perusahaan asing bisa sukses di pasar itu (Jepang). Kecuali mereka menawarkan produk dengan daya tarik khusus seperti iPhone,ā kata Jeon Ok hyun, profesor di Sogang University, yang dikutip telsetNews dari Korea Herald, Selasa (21/4/2015).
Pasar Jepang memang cukup āangkerā bagi produk-produk Korea. Namun bukan berarti Samsung tidak pernah berhasil di sana. Samsung pernah merasakan manisnya pasar Jepang saat meluncurkan Galaxy S3 di tahun 2012. Saat itu, Samsung berhasil mengeruk pangsa pasar hingga 14,8%.
Sayangnya, pencapaian itu tidak dapat dipertahankan. Pangsa pasar Samsung justru terus melorot hingga tinggal menyisakan 5,6% market share. Meski begitu, Samsung sepertinya tidak mau menyerah begitu saja. Apalagi jika melihat potensi pasar smartphone masih terbuka cukup besar.
Sebagai informasi, saat ini Jepang memiliki populasi 127 juta jiwa, atau dua kali lipat dari populasi di Korea Selatan. Sementara penetrasi ponsel telah mencapai 110%, namun penetrasi smartphone masih 70%. Dengan begitu, Samsung melihat masih ada peluang yang cukup besar untuk diperebutkan.
Namun kemudian, performa mereka semakin menurun. Maka dengan dihapusnya logo Samsung, diharapkan warga di sana lebih tertarik membeli Galaxy S6 & S6 Edge.
Jepang memiliki populasi total 127 juta, sekitar dua kali lipat dari Korea Selatan dan penetrasi ponsel sudah mencapai 110%. Akan tetapi, penetrasi smartphone masih sekitar 70%. Peluang pasar inilah yang ingin coba direbut oleh Samsung dengan mengandalkan duet Galaxy S6 dan S6 edge.[HBS]



